Perlintasan KA Tanpa Palang Makan Korban

KEPANJEN – Dua pelajar di salah satu SMP Swasta di Kepanjen, Sabtu malam lalu bernasib tragis. Keduanya meninggal dunia bersamaan, setelah sepeda motor Suzuki Satria FU N 2078 EU yang dikendarai mereka ditabrak kereta api (KA) Penataran saat melintas di perlintasan tanpa palang pintu di Dusun Dawuhan, Desa Jatirejoyoso, Kepanjen.
Keduanya adalah Muhammad Sultan Indra Prayitno, 17 tahun, warga Jalan Sidodadi, Desa Ngadilangkung, Kepanjen dan Muhammad Rizky Setiawan, 17 tahun, warga Jalan Kramat, Dusun Mangir, Desa Mangunrejo, Kepanjen. Mereka meninggal dunia di lokasi kejadian, akibat luka serius di kepala.
Setelah dievakuasi, jenazah mereka semalam langsung dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. Sementara, kejadian kecelakaan sendiri saat itu langsung ditangani petugas Polsek Kepanjen.
Diperoleh keterangan, sebelum terjadi kecelakaan keduanya ini berboncengan sepeda motor. Mereka baru saja jalan-jalan dari rumah temannya. Dan malam itu, mereka berniat pulang dengan melintas di lokasi kejadian dari arah barat ke timur.
Kebetulan tak jauh dari sekitar perlintasan itu, ada warga yang sedang mempunyai hajat dengan menanggap orkes. Sehingga ketika ada kereta api yang mau melintas, kedua korban tidak mendengar karena tertutup suara musik dari sound system yang cukup keras.
Akibatnya, begitu melintas dari arah selatan ke utara melaju kereta api dengan kecepatan tinggi. Karena tidak bisa dihindari, keduanya pun tertabrak dan terseret beberapa meter. Korban Rizky Setiawan, terseret hingga tujuh meter. Lalu korban Muhammad Sultan Indra Prayitno, terseret hingga 35 meter. Dan sepeda motor sendiri terseret hingga 100 meter.
Mengetahui ada korban tertabrak, kereta api langsung berhenti. Kereta api itu langsung membawa jazad kedua korban ke Stasiun Kota Baru, yang selanjutnya dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang. “Kami tidak tahu dari mana dan mau kemana. Kemungkinan dia (Rizki, red), dan temannya itu habis jalan-jalan,” ujar bibi Rizky Setiawan.
Sementara itu, Zaenal, salah satu perangkat Desa Ngadilangkung, mengatakan bahwa korban Sultan, selama ini tidak tinggal bersama orangtuanya. “Dia ini tinggal dengan neneknya. Sedangkan orangtuanya tinggal di Ngajum,” tutur Zaenal.(agp/aim)