North Point Residence Terancam Distop

MALANG - Dianggap tidak memiliki niat baik untuk menyelesaikan jual beli tanah seluas 6.313 m2, milik almarhumah Tirah di Jalan Akordion Utara Malang, notaris Luluk Wafiroh, SH, SpN., terancam dipolisikan.
Selain dianggap wanprestasi, wanita yang berkantor di Jalan Cengger Ayam Malang tersebut, juga dianggap melakukan penggelapan sertifikat tanah hak milik bernomor 1714, yang sekarang dimiliki lima ahli waris almarhumah Tirah. Yakni Condro, Poniti, Lasmini, Suradi dan Laseni. Semuanya warga Jalan Akordion Malang.
Didik Wibowo, anak Lasmini mengatakan, notaris Luluk, dianggap dengan sengaja mengambil sertifikat tanah tersebut, yang dititipkan ke Kasi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah (HTPT) Kantor Pertanahan Kota Malang, Suri Hadiyanto, 9 Januari 2013 lalu.
‘’Sertifikat itu, memang disepakati antara ahli waris dan Luluk untuk dititipkan ke Pak Suri (Suri Hadiyanto) dengan catatan, akan dibalik nama ke ahli waris. Sertifikat itu juga hanya bisa diambil oleh ahli waris dan notaris Luluk dengan biaya Rp 2,5 juta. Tapi sekarang kenapa bisa ada di tangan Luluk,’’ terang Didik.
Dijelaskan dia, awalnya tanah itu dibeli oleh seseorang bernama Andik dan notaris Nunik Indah Rini dengan harga Rp 1 juta per meternya. Jika ditotal, harga tanah itu mencapai Rp 6,313 miliar. Sebagai tanda sepakat, uang muka Rp 25 juta pun diberikan. Namun beralasan tidak memiliki dana yang cukup untuk melunasi pembayaran, sekaligus akan dibalik nama ke Luluk, transaksi jual beli itu pun dibatalkan.
‘’Rupanya, Luluk yang diberitahu Nunik ini, lantas memberitahu kepada pembeli lain, bernama Andrian Handoko, warga Jalan Brigjen S Riadi Malang. Setelah sempat menawar harga Rp 515 per meternya, namun satu bulan kemudian, mereka setuju untuk membeli dengan harga Rp 1 juta per meter. Ahli waris lantas diberi uang muka sebesar Rp 750 juta,’’ lanjut pria ini.
Sisanya, kata dia, akan dibayar dua kali. Pertama April 2013, akan dibayar Rp 2.769 miliar. Kedua untuk pelunasan dilakukan Mei 2013 dengan nominal yang sama. Selanjutnya, beberapa hari setelah itu, sertifikat sepakat dititipkan kepada Suri Hadiyanto, termasuk untuk pengurusan balik nama ke lima ahli waris itu. 
‘’Tapi janji akan membayar bulan April dan Mei ini, hanya janji kosong. Setiap kali ditagih, selalu hanya diberi janji. Pernah tiga kali kita diberi cek total senilai Rp 2,5 miliar dari Luluk. Ternyata hanyalah cek kosong,’’ ungkapnya.
Ditambahkan Nanang Sudiarto, anak pertama Lasemi, saat sedang menagih janji pembayaran itu, pihaknya mendapat kabar bila tanah tersebut, sudah dipatok untuk lahan perumahan North Point Residence yang berkantor di Jalan Bromo Malang.
‘’Bahkan, perumahan itu sudah dilaunching di Mall Olympic Garden (MOG), Rabu (5/6) lalu. Ketika kami lihat, ternyata memang benar. Tanah sudah dibuldozer. Bahkan, sekarang bentuknya sudah mirip lahan perumahan,’’ papar Nanang.
Dilanjutkan dia, para ahli waris pun sepakat untuk memberikan somasi kepada Luluk, untuk segera menyelesaikan pembayaran, jika tidak ingin dihentikan pembangunannya.
‘’Kami sudah sabar. Mestinya kalau sesuai kesepakatan bersama yang dibuat, pembeli sudah tidak punya hak lagi karena wanprestasi. Di surat perjanjian tertulis, apabila pihak pembeli wanprestasi, maka uang yang telah diterima penjual hangus. Dan diberi waktu satu minggu dari tanggal pelunasan yang seharusnya 7 Juni lalu, untuk mengembalikan sertifikat kepada penjual. Sekarang kita blokir agar Luluk tidak bisa membalik nama sertifikat itu,’’ tegasnya.
Nyatanya, hingga kemarin, Luluk tidak memberikan jawaban sama sekali terhadap masalah yang membelitnya.
Sayangnya, ketika Malang Post, mencoba konfirmasi ke Luluk, belum mendapatkan jawaban. Telpon tidak diangkat dan sms yang dikirim, hingga berita ini ditulis juga belum dijawab.  (mar)