Suami Bakar Istri Hingga Tewas

MALANG – Menikah selama 14 tahun, plus dikaruniahi tiga anak, tidak cukup membuat pasangan suami istri akur. Bahkan karena cemburu buta, Ajar Suciantokoh, sampai tega membakar istrinya.
Tidak hanya membuat Rosidah Anggraini, tewas setelah sempat dirawat di RSSA, tapi sang mertua, Endang Srimulat dan Arum Sukmawati, sang keponakan, ikut terbakar. Kedua orang itu, mencoba menyelamatkan Rosidah, saat sedang terbakar hebat.
Ajar kini hanya bisa menyesal. Pria 47 tahun itu, terancam 15 tahun penjara. Tetapi karena mata gelap dan terbakar cemburu, Ajar melihat sang istri yang berusia 38 tahun itu, sebagai sosok yang pantas dibakar.
‘’Siapa tidak marah, kalau dia selingkuh. Apalagi dengan teman saya sendiri. Saya benar-benar marah dan gelap mata,’’ ujar Anjar di Mapolres Malang.
Kemarahan Ajar berawal saat dia mendengar istrinya selingkuh. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi PIL itu adalah Afif, warga Kebonagung Pakisaji, atau masih tetangga mereka.
Satu bulan lalu, pasutri itu sering terlibat percekcokan. Bahkan, karena terus bertengkar, Rosidah tanpa pamit, memilih meninggalkan rumah di Jalan Kauman, RT 13, RW 03. Wanita itu, memilih tinggal di rumah orang tuanya, Endang Srimulat. Masih di RW yang sama, tapi beda RT.
Senin (10/6) lalu, Ajar mencoba mengajak pulang istrinya. Namun Rosidah menolak dan langsung membuat Ajar berang. Dia kemudian mengambil botol bensin, yang rencananya untuk mengisi sepeda motornya. Tanpa banyak kata, bensin disiramkan ke tubuh istrinya.
Seperti gelap mata, tubuh Rosidah yang sudah berlumuran bensin, dibakar, menggunakan korek api. Rosidah berteriak kesakitan. Api makin membesar. Ajar, masih terpaku dengan kejadian tersebut.
Disaat api terus berkobar, Endang yang mendengar teriakan itu, melompat dan memeluk tubuh Rosidah. Harapannya, api bisa dipadamkan.
Nyatanya, si jago merah, lebih digdaya. Api justru ikut melalap tubuh Endang. Melihat dua orang terbakar, Arum Sukmati, ikut-ikut mencoba memadamkan api. Apa mau dikata, gadis 11 tahun itu pun ikut terbakar.
‘’Saat itu, Ajar sangat marah. Sampai-sampai dia siramkan bensin ke tubuh kakak saya dan membakar,’’ ujar Sugianto, adik Rosidah, bercerita.
Baru setelah tahu ada tiga orang ikut terbakar, membuat Ajar tersadar. Dia pun langsung melarikan diri. Terlebih, teriakan tiga wanita yang terbakar itu, membuat orang sekampung, berhampuran keluar, mendatangi rumah Endang.
Luka Rosidah, cukup parah. Dia pun dilarikan ke RSSA. Sedang Endang dan Arum, masih bisa diselamatkan, lantaran api bisa segera dipadamkan dari tubuh mereka. Keduanya cukup dirawat di klinik terdekat.
Saat dilarikan ke RSSA, Rosidah masih bernyata. Tapi Selasa (11/6) kemarin, ibu tiga anak ini merenggang nyawa. ‘’Kata dokter, mereka sudah bekerja maksimal. Namun, karena seluruh tubuh korban terbakar, kondisinya drop dan tak bisa ditolong lagi,’’ ujar Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman Sri Erfiandari.
Ajar sendiri, setelah sempat kebingungan, memilih menyerahkan diri ke Pos Lantas Kebonangung, kemudian dibawa ke Polres Malang, untuk diamankan.
‘’Kalau dia (Rosidah) tak selingkuh, saya tidak mungkin membakarnya. Semua itu saya lakukan karena spontan dan terbawa emosi. Saya kasihan melihat anak-anak,’’ ungkap Ajar kepada wartawan kemarin.
Dia mengakui, rumah tangganya selama ini tidak ada masalah. Dia baru merasakan ada yang aneh, sejak tiga bulan lalu. Dia menuding, kehadiran Afif, sebagai penyebab retaknya rumah tangga yang dibangun sejak 1999 itu.
‘’Afif itu saya kenal. Karena teman saya sendiri. Istri saya, berulang kali keluar bersama dia. Dia janjian lewat sms ke istri saya, untuk keluar,’’ ujar Ajar.
Bahkan, kata dia, Rosidah sempat minta cerai. Tapi permintaan tersebut ditolak. Rosidah pun memilih pisah rumah dan kembali ke orang tuanya.
Kini, Ajar hanya bisa pasrah dan menyesal. Apalagi setelah mendengar istrinya meninggal dunia. ‘’Saya tahu istri saya meninggal tadi (kemarin, Red.), dikabari sama bapak polisi. Saya menyesal melakukan itu. Jujur, saya sedih saat ini,’’ ucapnya sembari menangis.
Akibat perbuatan yang dilakukannya itu, tersangka dijerat dengan pasal 44 ayat 3 undang-undang no 23 tahun 2004, tentang penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.
‘’Ancamannya kurungan penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp 45 Juta,’’ kata Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Sholeh Mas’udi. (big/avi)