Jelang Ramadan Banyak Upal Beredar

EDARKAN UPAL : Polisi menangkap anggota jaringan pengedar uang palsu di Kabupaten Malang.
 
KEPANJEN – Masyarakat di Kecamatan Kepanjen dan Gondanglegi diminta untuk lebih waspada. Pasalnya, selama sepekan terakhir ini ada uang palsu (upal) pecahan Rp 50 ribu yang beredar. Sedikitnya masih ada sekitar Rp 10 juta yang sudah beredar di masyarakat. Itu terungkap dari pengakuan ketiga pengedar upal yang berhasil dibekuk petugas Buser Polres Malang, akhir pekan lalu.
Ketiganya adalah Sarmin alias H Hartono alias Minto, 58 tahun, warga Kecamatan Kalimeri, Rembang, Jawa Tengah. Dia ini residivis yang sudah tiga kali ini keluar masuk penjara karena kasus upal, pada 1999 dan 2005 lalu. Kemudian Ahmad Rofik, 41 tahun, warga Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi. Dan Sugianto, 47 tahun, warga Kanigaran, Probolinggo.
“Mereka bertiga ini kami amankan di sekitar Pasar Kepanjen, ketika mau mengedarkan Upal. Penangkapan mereka itu setelah mendapat informasi dari masyarakat. Barang bukti yang kami amankan sisa upal sebesar Rp 4 juta,” ungkap Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Soleh Mas’udi.
Menurut pemeriksaan ketiga tersangka ini, uang palsu pecahan Rp 50 ribu itu didapat dari Sarmin alias H Hartono alias Minto. Bapak lima anak dan dua cucu ini, mengaku mendapat upal dari seorang temanya di Jakarta yakni Edi. Dia mendapat upal itu sekitar sebulan lalu dengan datang sendiri ke Jakarta. Rp 25 juta uang palsu dibeli dengan harga Rp 5 juta.
Kemudian Rp 25 juta upal tersebut, diedarkan di wilayah Probolinggo dan Kabupaten Malang. Rp 5 juta upal dijual kepada Siwo, warga Besuki, Probolinggo dan diedarkan di wilayah Probolinggo. Siwo sendiri saat ini masih dalam buruan polisi. Kemudian Rp 10 juta upal lagi dijual kepada tersangka Sugianto. Rp 6 juta sudah diedarkan oleh Sugianto, dan sisanya Rp 4 juta dijadikan barang bukti ketika hendak dikembalikan kepada Sarmin.
Dan Rp 10 juta upal sisanya lagi, dijual oleh Sarmin kepada seorang kenalannya bernama Pak Mat warga Gondanglegi. Pak Mat sendiri yang kini masih buron, mendapat upal pada 10 Juni lalu. Diperkirakan upal yang diterima oleh Pak Mat ini sudah diedarkan di wilayah Kecamatan Gondanglegi dan Kepanjen. “Saya menjual upal itu Rp 10 juta, saya jual Rp 2,5 juta,” ujar Sarmin.
Akibat perbuatannya itu, ketiga tersangka ini dijerat dengan pasal 36 sub 26 Undang-undang Nomor 27 / 2011 tentang mata uang. Dan lebih subsider pasal 245 KUHP tentang membawa, menyimpan dan mengedarkan uang palsu. “Ancaman hukumannya adalah 15 tahun kurungan penjara,” tegas Soleh Mas’udi.
Sementara itu, ciri-ciri dari uang palsu yang beredar itu, bernomor seri YCF302630 dan YCF 302644. Selain itu, warna gambar buram, kertas yang digunakan lebih tebal dan kasar, juga tidak ada pitanya.(agp/aim)