HUT Bhayangkara Diwarnai Unjukrasa

KEPANJEN – Upacara HUT ke-67 Bhayangkara di Polres Malang, kemarin, diwarnai aksi unjukrasa. Ratusan orang dengan membawa senjata pentungan dan poster, tiba-tiba datang dari pintu keluar Polres Malang sebelah utara dan menuju ke tengah lapangan.
Mereka melakukan protes, karena menganggap ada pelanggaran saat proses pemilihan Kepala Desa beberapa waktu lalu.
Kontan kedatangan pengunjukrasa ini, langsung membuat tamu undangan tercengang.
Terlebih Bupati Malang Rendra Kresna dan bersama jajaran Muspida di Kabupaten Malang hadir. Pasalnya mereka tidak hanya melakukan orasi, tetapi juga melakukan kerusuhan. Mulai membakar ban, melempar anggota polisi dengan tomat, telur busuk dan air.
Kasat Sabhara Polres Malang, AKP Ainun Djariyah, yang melihat kedatangan massa ini langsung menerjunkan satu regu Dalmas untuk membuat pagar betis. Meski sempat ditenangkan, namun massa tetap saja melakukan unjukrasa.
Akhinya petugas negosiator, turun dan berusaha menenangkan dengan mengajak lima perwakilan massa untuk musyawarah. Tetapi karena dari hasil musyawarah tidak ada titik temu, massa langsung ngamuk. Mereka berusaha menerobos pagar betis petugas. Saling dorong antara massa dan polisi pun tidak bisa dihindarkan.
Namun berkat kesigapan petugas Dalmas awal, massa tidak bisa masuk. Tetapi hal itu malah membuat massa ngamuk, mereka melawan petugas dengan melempari air, tomat, telur dan batu. Melihat situasi semakin panas, Dalmas inti dengan senjata pentungan dan tameng langsung diturunkan ke lokasi keributan. Meski terus diserang demontrans, namun polisi hanya menahan gempuran dengan berlindung di bawah tameng.
Karena melihat massa semakin beringas, untuk membubarkan massa petugas memberikan tembakan peringatan ke atas dan gas air mata. Namun tembakan itu bukan sungguhan, hanya tembakan kembang api ke udara. Dan gas yang digunakan adalah flare yang biasa dinyalakan oleh Aremania.
Flare ini sengaja dinyalakan di tengah-tengah keributan. Begitu asap tebal ada di tengah-tengah lapangan Polres Malang, beberapa Aremania dan Aremanita muncul dengan menyelundup untuk memberikan kejutan dengan membawa spanduk bertuliskan All Cops All Brothers.
Ya, kejadian itu, unjuk rasa itu, bukanlah sungguhan. Itu hanyalah simulasi dan latihan yang dilakukan personil Sabhara Polres Malang. Petugas Dalmas yang terbentuk ini, nantinya disiapkan ketika terjadi kerusuhan demonstrasi. Termasuk dipersiapkan untuk mengantisipasi terjadi kerisuhan saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) termasuk Pemilihan Presiden (Pilpres).
‘’Pengamanan unjukrasa adalah bagian dari pelayanan Polri kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Polri hanya mengamankan dan melayani masyarakat untuk menyampaikan aspirasi,” terang Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta.
Kalapun saat penyampain aspirasi sampai terjadi eskalasi meningkat, tambahnya, polisi hanya mempersiapkan pengamanan yang lain. Polisi, kata dia, tidak pernah menyiapkan Dalmas dengan peluru tajam.
‘’Kami hanya melakukan bertahan, meski pengunjukrasa menyerang. Dan ini, bagian bentuk kesiapan personil dan kesatuan dalam mengamankan pemilu 2014 nanti,’’ tegasnya.
Selain pertunjukan pengamanan unjukrasa, di HUT Bhayangkara kemarin, tamu undangan juga diberi kejutan yang membuat kagum. Seperti penampilan Satpam PG Krebet yang memamerkan kekuatan bisa mematahkan besi dan balok es dengan menggunakan kepala. Juga penampilan Polisi Cilik binaan Satlantas Polres Malang, yang pernah menyabet juara I Polisi Cilik di Polda Jatim.
Sementara itu, Rio, salah satu perwakilan Aremania yang kemarin memberikan kejutan secara dadakan mengatakan, bahwa spanduk bertuliskan All Cops All Brothers itu artinya jika di Eropa diartikan supporter bahwa semua polisi bajingan.
‘’Tetapi kalau di Malang ini, arti itu sangat berbeda. Kami Aremania mengartikan bahwa All Cops All Brothers, adalah Aremania dan Polisi saudara,’’ ujarnya. (agp/avi)