Sempat Alot, Eksekusi Bengkel Mulus

EKSEKUSI: Beberapa barang yang dikeluarkan dari rumah dibantu oleh warga. Dan mediasi di Balai Desa Krebet Senggrong, sebelum akhirnya tetap dilanjutkan eksekusi.

BULULAWANG – Eksekusi bangunan rumah dan bengkel seluas 1050 meter persegi, di Jalan Raya Desa Krebet Senggrong, Kecamatan Bululawang, kemarin berjalan alot. Pihak termohon H Muhammad Ali dan H Faisol melalui kuasa hukumnya Ekum, SH, saat mediasi di Balai Desa Krebet Senggrong, meminta agar pengosongan ditunda usai bulan puasa. Termohon menjanjikan akan mengosongkan sendiri, tanpa harus dilakukan eksekusi.
Namun Bambang Suherwono SH, kuasa hukum pemohon dari H Saiful warga Desa/Kecamatan Wajak, menolak. Pemohon meminta kepada Juru Sita Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Ali Mukson, SH untuk tetap melakukan eksekusi. Alasannya, karena pemberitahuan untuk segera mengosongkan rumah sudah terlalu lama.
“Kami minta agar eksekusi tetap dilaksanakan pada hari ini (kemarin, red). Karena pemberitahuan eksekusi sebelumnya sudah dilakukan. Bahkan, pihak termohon sebelumnya juga sudah membuat pernyataan untuk mengosongkan sendiri. Tetapi sampai lama tidak segera dikosongkan akhirnya kami mengajukan permohonan eksekusi,” ungkap Bambang Suherwono.
Mediasi bersama Juru Sita PN Kepanjen di Balai Desa Krebet Senggrong, selain menghadirkan pihak pemohon dan termohon, juga dimediasi Kades Krebet Senggrong, Kapolsek Bululawang, Kasat Binmas Polres Malang, Kabag Ops Polres Malang serta Waka Polres Malang.
Setelah diberi penjelasan bahwa penetapan eksekusi sudah mempunyai hukum, akhirnya eksekusi pun dijalankan. Pihak termohon yang sebelumnya keberatan, akhirnya luluh. Hanya syaratnya, pengosongan rumah hanya disaksikan juru sita, pemohon dan termohon, serta Kades, Kapolsek dan Kabag Ops.
Sementara ratusan personil Polres Malang yang berseragam dinas dan disiagakan sejak pagi tidak diperkenankan menjaga. Alasannya, selain termohon malu juga di lokasi tempat eksekusi sedang ada kegiatan pengajian dan khataman al quran. Anggota Polres Malang hanya boleh berjaga asalkan yang berpakaian preman.
Bangunan rumah dan bengkel mobil itu, pada 2001 dijadikan jaminan meminjam uang ke BRI oleh H Muhammad Ali dan H Faisol. Jumlah uang dipinjam saat itu sekitar Rp 1 Miliar lebih dengan alasan untuk usaha pertanian tebu. Selain bangunan rumah itu, ada sekitar 8 sertifikat yang ikut dijadikan jaminan.
Karena tidak bisa membayar, Bank BRI melelang bangunan itu pada pertengahan 2011. Lelang itu dimenangkan H Saiful. H Saiful yang berhak atas bangunan itu meminta agar bangunan rumah dikosongkan.
“Saya menduga nilai lelang itu mark up. Karena nilai lelang saat itu lebih rendah dari pada harga tanah (NJOP) ini,” ujar Ekum, kuasa hukum termohon.(agp/aim)