Buru Aktor Penyelundupan Imigran Gelap

DITANGKAP : Kedua anak buah Suwedi, Sugeng Harianto dan Iswanto bersama barang bukti ketika diinterogasi Wakapolres Malang Kompol Pranatal Hutajulu.

Polisi Tangkap Dua Warga Sumawe
KEPANJEN – 121 imigran gelap yang digrebek petugas gabungan di rumah Suwedi, di Dusun Sumbersuruh, Desa Sekarbanyu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Jumat lalu, ternyata bukan rombongan imigran yang lari dari Blitar. Mereka rombongan imigran yang berangkat langsung dari Jakarta. Itu terungkap dari pengakuan dua anak buah Suwedi yang berhasil dibekuk saat penggrebekan.
Mereka Sugeng Harianto, 23 tahun, warga Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo – Sumbermanjing Wetan dan Iswanto, 32 tahun, warga Dusun Margomulyo, Desa Harjokuncaran, Sumbermanjing Wetan. Kedua pemuda ini, berperan banyak dalam usaha penyelundupan imigran gelap yang mau mencari suaka ke Australia.
Dihadapan Waka Polres Malang, Kompol Pranatal Hutajulu saat gelar perkara, keduanya mengaku orang suruhan Suwedi yang kini masih buron. Tugas mereka selain diminta mencari truk sewaan sebanyak tiga unit untuk mengangkut imigran, mereka juga diminta untuk menjemput para imigran asal Afghanistan, Iran dan Pakistan ini.
“Saya diberitahu oleh Pak Wedi empat hari sebelum menjemput. Setelah mendapat perintah itu, saya langsung menghubungi Sugeng serta Mul. Dan Mul sendiri saat ini masih kabur,” ungkap Iswanto.
Kemudian Kamis (4/7) siang pukul 11.00 setelah mendapat telepon dari Suwedi, ketiganya berangkat mencari truk sewaan. Kepada sopir truk, mereka mengatakan akan mengangkut wisatawan yang mau berwisata. Ketiga sopir itu diantaranya Hadito, warga Tulungagung, Doni serta Dodik, warga Dusun Tamban, Desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan.
Ketiga sopir ini masing-masing diberi uang sewa sebesar Rp 1 juta. Setelah ada kesepakatan, sekitar pukul 12.00 mereka berangkat menuju Pace – Nganjuk lewat Kota Batu. “Rp 1 juta itu untuk sewa truk dan ongkos sopir. Sedangkan kami bertiga hanya dijanjikan akan diberi Rp 500 ribu. Itupun uangnya dijanjikan akan diberikan setelah imigran ini berangkat naik perahu,” terang mereka.
Tiba di Pace – Nganjuk sekitar pukul 18.30. Kemudian para imigran yang sebelumnya dinaikkan tiga bus dari Jakarta, dipindah ke atas bak truk. Agar tidak dicurigai, saat di atas truk imigran diminta untuk duduk. Selanjutnya sekitar pukul 19.00, melanjutkan perjalanan kembali ke Malang dan tiba di Sumbermanjing Wetan sekitar pukul 01.00.
“Sebetulnya tujuan mereka ini awalnya langsung ke Pantai Jolosutro – Blitar. Namun karena ada kabar imigran di Blitar ditangkap, kemudian dialihkan ke Pantai Tamban. Tetapi lantaran ombak laut sedang tinggi, keberangkatan ditunda dan para imigran ini ditransitkan terlebih dahulu di rumah Sawedi,” terang Kompol Pranatal Hutajulu.
Yang menarik, dalam pemeriksaan penyidik ternyata Sugeng dan Iswanto tidak hanya sekali ini, menjemput dan menyelundupkan imigran gelap ke pesisir pantai. Sebelumnya sekitar bulan April lalu, keduanya juga pernah diperintah Suwedi menyelundupkan imigran gelap sebanyak 40 orang. Imigran gelap saat itu dijemput dipinggir jalan raya di Kesamben – Blitar, kemudian diantarkan ke pesisir Pantai Jolosutro Blitar.
“Saat itu kami sukses mengantarkan ke Pantai Jolosutro. Kami berdua oleh Pak Suwedi diberi uang Rp 3 juta lalu kami bagi berdua,” ujar Sugeng yang sebelumnya pernah dihukum kasus perampokan ini.
Terungkapnya imigran ini sendiri, dijelaskan mantan Kasatlantas Polres Malang Kota ini, bermula dari dua kelompok imigran asal Afghanistan dan Iran yang berkelahi saat tiba di rumah Suwedi yang menimbulkan keramaian. Warga yang mendengar keramaian dan mengetahui ada orang asing ini lantas melaporkan ke Camat Sumbermanjing Wetan yang selanjutnya diteruskan melapor ke Polsek Sumbermanjing Wetan.
“Kedua tersangka ini kami jerat dengan pasal 120 ayat 1 dan 2 Undang-undang nomor 6 tahun 2011 jonto pasal 55 ayat 1 KUHP tentang imigrasi. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun kurungan penjara,” tegas Pranatal.
Lantas bagaimana dengan imigran yang masih kabur ke hutan dan pemilik rumah yang dijadikan tempat transit ? Pranatal mengatakan bahwa untuk imigran yang kabur masih terus dilakukan pencarian. Sedangkan untuk Suwedi pemilik rumah dan tiga sopir termasuk satu rekan kedua tersangka kabur, statusnya ditetapkan sebagai DPO.
“Kami juga meminta ada peran serta dari masyarakat dan perangkat desa. Apabila ada aktivitas orang asing yang dicurigai untuk segera dilaporkan dan ditindaklanjuti. Karena Malang Selatan, selama ini masih menjadi tempat paling aman para imigran gelap yang mau ke Australia,” tambahnya.
Untuk barangg bukti yang diamankan petugas, selain satu terpal plastic warna biru, petugas juga mengamankan tiga koli berisi biscuits Khong Guan.(agp/aim)