Grebek DPO Rampok, Dapat Pembuat Petasan

MALANG POST – Tahun Baru dan bulan Ramadan memang tak bisa lepas dari petasan. Meskipun setahun lalu, pernah terjadi ledakan dahsyat akibat petasan dan mengakibatkan tiga orang tewas, namun belum juga membuat warga kapok. Faktanya, di bulan Ramadan tahun ini masih saja ada warga yang memproduksi barang berbahaya itu.
Dini hari kemarin, petugas Buser Polres Malang menggrebek sebuah rumah di Dusun Wangka Lor, Desa Argosuko, Kecamatan Poncokosumo yang diketahui memproduksi petasan. Dari penggrebekan itu, Pai, 43 tahun, serta adik iparnya Atek Mahmud, 29 tahun, warga asli Ngembal –Wajak berhasil diamankan petugas. Keduanya ditangkap ketika sedang membuat petasan.
Dari tangan mereka, petugas mengamankan 190 biji petasan ukuran ibu jari yang sudah siap ledak. Enam kilogram serbuk petasan, delapan bendel sumbu petasan, peralatan pembuat petasan serta ratusan selongsong petasan yang belum jadi.
“Petasan yang dihasilkan oleh kedua tersangka ini menimbulkan daya ledak yang cukup keras dan berbahaya. Tadi (kemarin, red), sudah kami coba nyalakan dua biji dan memang meledak,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah.
Mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini mengatakan, penggrebekan rumah produksi petasan ini dilakukan secara tidak sengaja. Petugas menggrebek rumah Pai ini, karena bapak empat anak ini namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak 2011 lalu. Pai dijadikan TO polisi karena kasus perampokan yang terjadi di wilayah Kecamatan Poncokusumo.
“Ketika kami geledah rumahnya, kami menemukan barang bukti produksi petasan itu. Tersangka Pai ini bagian finishing pembuatan petasan, sedangkan Atek adik iparnya bagian membuat selongsong petasan. Dan untuk kasus perampokan sendiri, tersangka Pai sudah mengakui dan kini yang bersangkutan masih diperiksa dan dikembangkan kasusnya,” jelas Decky, yang juga mantan Kasatreskrim Polres Batu ini.
Sementara itu, Pai sendiri mengaku kalau dirinya baru dua pekan ini membuat petasan. Bahan serbuk untuk membuat petasan dibeli dari seseorang warga Kota Malang. Satu kilogram serbuk petasan dibeli dengan harga Rp 100 ribu.
“Saya membuat petasan itu, karena ada yang memesan untuk lebaran nanti. Ilmu membuat petasan itu saya dapatkan dari orangtua saya dulu. Tahun sebelumnya, saya membuat ketika ada pesanan saja,” tutur tersangka Pai.(agp/aim)