Gandeng Polda Jatim Ungkap Kasus Smanela

AKBP Adi Deriyan Jayamarta.

KEPANJEN – Pengungkapan kasus perampokan di SMA Negeri 1 Lawang (Smanela) masih belum menemukan titik terang. Untuk mengungkap kasus itu, Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta masih memberikan waktu sepekan ini kepada penyidik Reskrim untuk menyelidiki. Dan untuk mengungkap kasus perampokan inipun, Polres Malang juga sudah bekerjasama dengan Polda Jatim.
“Semuanya masih dalam tahap penyelidikan. Kasatreskrim juga masih berada di lapangan untuk menyelidiki dan mengembangkan kasus ini. Saya memberikan waktu sepekan untuk menyelidikinya, baru nanti akan kami gelar perkara untuk mengungkap pelakunya,” ujar Kapolres.
Aksi perampokan yang terjadi di sekolah dan instansi beberapa terakhir ini, cukup membuat polisi berang. Terakhir adalah kejadian perampokan di SMA Negeri 1 Lawang yang membawa kerugian Rp 120 juta, awal pekan lalu. Untuk mengantisipasi agar peristiwa itu tidak terulang lagi, seluruh security di Kabupaten Malang akan dikumpulkan di Polres Malang.
Adi mengatakan bahwa tujuan dikumpulkannya security ini, supaya mereka bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya. Security tidak hanya diam saja di tempatnya.
“Tugas seorang security itu seharunys mampu memberikan informasi kepada polisi. Ambil contoh security di Bank, jika ada orang yang mencurigakan harusnya ditanya. Jangan hanya diam saja, sebab jika hanya melihat saja tanpa menegur tidak akan tahu apa niat dan tujuan orang tersebut,” ungkap Adi Deriyan.
Begitu juga dengan tugas security di sekolah. Mantan penyidik KPK ini menyatakan bahwa petugas security harus bisa memberikan informasi sekecil apapun yang dicurigai. Karena informasi itu adalah sangat berarti bagi polisi untuk menindak sekaligus mencegah terjadinya perampokan.
“Besok (hari ini, red) para security itu kemungkinan akan kami kumpulkan. Mereka akan kami berikan wawasan dan pembinaan, supaya jangan sampai terjadi perampokan di tempat vital, seperti Bank, Sekolah dan lainnya,” paparnya.
Adi juga menambahkan, bahwa selama bulan Ramadan ini, dia kembali menegaskan bahwa pihaknya melarang keras adanya sweping yang dilakukan olah organisasi masyarakat (ormas). Kalau nantinya kedapatan ada sweping, akan ditindak tegas dengan dibubarkan. Hal itu sesuai dengan perintah dan amanat dari Kapolda Jatim serta Kapolri.
“Kalau ada sweping dilakukan ormas, pasti akan kami bubarkan. Dan jika ada pelanggaran pidana selama sweping itu pasti akan ada sanksi tegas. Baik itu melakukan pengurasakan ataupun penganiayaan,” tambahnya.(agp/aim)