Karena Abaikan Perintah Kapolres

MALANG POST - Dalam sebulan ini, dua sekolah di wilayah hukum Polres Malang menjadi sasaran perampokan.  Kejadian pertama menimpa SMAN 1 Gondanglegi awal bulan ini dan kasus  kedua SMAN Lawang pada hari Senin (22/7) lalu.  Terkait maraknya perampokan di lembaga pendidikan, membuat kepolisian  kembali menghimbau kepada pihak sekolah untuk tidak meninggalkan uang di sekolah.
Kapolsek Lawang, Kompol Eko Suminto kepada Malang post menegaskan bahwa  himbauan tersebut sebenarnya sudah disosialisasikan sejak lama. “Bahkan, yang memberi perintah untuk tidak meninggalkan uang di sekolah  adalah  langsung Kapolres Malang. Hal tersebut terjadi setelah dua bulan lalu marak sekolah menjadi target perampokan,“ serunya.
Untuk itu, dia heran mengapa SMAN 1 Lawang tidak menghiraukan himbauan tersebut. Padahal menurutnya sudah disosialisasikan sejak dua bulan lalu. Seperti yang diketahui, akibat pihak sekolahan tidak menghiraukan sosialisasi tersebut, kawanan perampok menggondol uang Rp 120 juta yang berada di dalam tiga brankas.“Kata pihak sekolah, saat uang terkumpul itu pada hari Jumat. Jadi alasannya, tidak sempat sempat disetorkan ke bank,“ terang Eko, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut ia menyatakan jika  tak sempat menyetorkan ke bank, seharusnya pihak sekolah mempunyai inisiatif untuk mengamankan uang tersebut, seperti membawa pulang ke rumah salah seorang guru.Itu dilakukan untuk meminimalisir kerugian, saat kawanan perampok menjalankan aksinya.
 “Untuk itu, saya menghimbau kepada sekolahan yang ada di Lawang ini, untuk tidak meninggalkan uang di sekolah meski itu ada di dalam brankas. Dan harap himbauan tersebut ditaati, untuk mengurangi resiko,“ himbaunya.
Sementara itu, Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta SH SIK dikonfirmasi terpisah memang membenarkan sudah memberikan sosialisasi kepada sekolahan untuk tidak meninggalkan uang dalam jumlah banyak di sekolah. Itu dilakukan untuk mengantisipasi tindak kejahatan pencurian dan perampokan yang terjadi.
“Para sekolah maupun guru, sudah saya kumpulkan beberapa waktu lalu. Intinya, mereka sepakat tidak boleh meninggalkan uang banyak di sekolahan. Saat itu, batasan maksimal uang yang boleh ditinggalkan hanya Rp 5 juta. Sisanya, bisa dibawa pulang atau disetorkan ke bank,“ beber Deriyan sapaan akrabnya.
Sedangkan disinggung perkembangan kasus perampokan tersebut, dia mengatakan masih dalam proses penyelidikan. “Semuanya masih dalam tahap penyelidikan. Kasatreskrim juga masih berada di lapangan untuk menyelidiki dan mengembangkan kasus ini. Saya memberikan waktu sepekan untuk menyelidikinya, baru nanti akan kami gelar perkara untuk mengungkap pelakunya,“ pungkasnya. (big/nug)