Sekdes DPO Bantu Imigran Gelap Ditangkap

INTEGROASI : Tersangka Dwi Pamirso, ketika diinterogasi Waka Polres Malang dan Kasatreskrim Polres Malang.

Bupati Pecat Dwi Sebagi PNS
TIRTOYUDO - Setelah tujuh bulan lebih namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), Dwi Pamirso alias Punjul, akhirnya berhasil diringkus petugas Reskrim Polres Malang, Selasa lalu. Pria yang menjabat Sekretaris Desa (Sekdes) Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo ini, ditangkap terkait keterlibatannya menyelundupkan imigran gelap pada 15 Desember 2012 lalu.
Pria 46 tahun ini, dibekuk di sebuah kamar Hotel Gorden Mutiara, Jalan Brigjen Slamet, Desa Pakusari, Jember. Itu setelah sebelumnya dia sempat bersembunyi di dalam hutan. "Dia kami tangkap setelah mendapat informasi tentang keberadaannya. Dan selama buron, dia mencari tokek di hutan, dengan alasan dijual dan uangnya untuk bayar hutang," ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah.
Penangkapan Dwi, menurut Waka Polres Malang, Kompol Pranatal Hutajulu, adalah tindak lanjut dari kebijakan dan atensi Kapolda Jatim tentang people smuggling atau penyelundupan orang. Hal itu karena wilayah Jawa Timur bagian selatan adalah tempat favorit para imigran untuk menyeberang laut menuju Australia.
"People smuggling itu, menjadi atensi khusus Kapolda untuk ditindak. Karena jika dibiarkan, maka mereka akan bebas dan berdampak sosial bagi masyarakat. Sebab mereka bisa melakukan kawin kontrak dengan warga, yang kemudian mempunyai anak. Tetapi setelah itu, mereka akan langsung pergi," terang Pranatal Hutajulu.
Sementara itu, dalam pemeriksaan penyidik tersangka Dwi ini, tidak hanya sekali menyelundupkan imigran gelap lewat Pantai Sipelot, Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo. Tetapi dia mengaku sudah empat kali. Tiga kali penyelundupan berhasil sukses, dan sekali terakhir gagal karena lebih dahulu digrebek petugas Polres Malang.
"Sebetulnya di Pantai Sipelot itu, tidak hanya empat kali saja. Tetapi terhitung ada lima kali yang sekali adalah imigran yang terdampar," ujar Pranatal.
Pertama kali menyelundupkan imigran, pada Agustus 2012. Kemudian kedua bulan September dan ketiga bulan Oktober. "Untuk yang pertama saya mendapat Rp 6 juta. Kedua tidak dapat karena dirapel dengan yang ketiga sebesar Rp 40 juta. Sedangkan yang keempat gagal karena digrebek polisi,” tutur tersangka Dwi Pamirso.
Keterlibatan dalam penyelundupan imigran itu, Dwi mengaku kalau dirinya diajak oleh adik iparnya berinisial AG, yang kini masih buron. AG sendiri dulunya pernah merantau ke luar negeri secara ilegal. Berbekal pengalamannya itulah, AG kemudian menjalin kerjasama dengan warga Surabaya, untuk penyelundupan imigran. Dia kemudian mengajak Dwi, dan SPT warga Tirtoyudo yang juga masih buron.
Tugas Dwi sendiri dalam kasus penyelundupan imigran ini, hanya berperan untuk membuka portal desa. Selanjutnya dia mengantarkan ke pesisir pantai. Di pesisir pantai itu, para imigran sudah ditunggu oleh kapal besar yang mau mengantarkan imigran di tengah laut. "Untuk menuju ke kapal besar, para imigran ini diimbal dengan menggunakan perahu speed," katanya.
Akibat perbuatannya itu, Dwi ini dijerat dengan pasal 120 Undang-undang Nomor 6 tahun 2013 tentang imigrasi. Ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun kurungan penjara.
Dwi Pamirso yang berstatus PNS pun sudah dipecat dengan tidak hormat oleh Bupati Malang. Karena dianggap telah melanggar aturan displin PNS dengan tidak masuk sebanyak 46 hari dalam satu tahun masuk dalam kategori berat dan dipecat sanksinya.
“Karena dia sudah tidak masuk selama menjadi DPO lebih dari 46 hari. Keputusan pemecatannya sudah dilakukan sekitar satu minggu lalu,” ujar Bupati Malang Rendra Kresna. (agp/aim)