Ngaku Sekda, PNS Hipnotis Kades Sakiti Diri

LAPOR : Hery Purnomo Kades Sengguruh Kepanjen ketika membuat laporan ke Polres Malang yang telah menjadi korban telpon hipnotis.

Empat Polisi pun Jadi Korbannya
KEPANJEN – Polres Malang, akhir pekan lalu mengamankan seorang pelaku hipnotis. Tersangkanya berinisial SS, 54 tahun, yang diketahui sebagai PNS golongan III.D dan menjabat sebagai Kasi Disperindag Kota Kediri. SS diamankan di rumahnya di Desa Kabuh, Kabupaten Jombang setelah lama menjadi buronan.
Penangkapan SS dilakukan setelah sekitar empat anggota Polres Malang menjadi korbannya. Yaitu tiga anggota dari Polsek Kalipare dan seorang anggota dari Polsek Donomulyo. Mereka terhipnotis oleh pelaku setelah ditelpon langsung oleh pelaku yang mengaku sebagai Kasat Binmas.
Melalui telepon, pelaku yang mengatakan mendapat perintah dari pimpinan ini, memandu para korban untuk melakukan ritual dengan melukai diri sendiri. Para korban yang merasa tidak sadar, langsung melukai tubuh dengan pisau karter serta pecahan botol.
Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan pelaku hipnotis tersebut. Adi juga membenarkan bahwa ada beberapa anggota yang telah menjadi korbannya. Hanya karena masih proses penyidikan dan pengembangan, dirinya belum menceritakan secara rinci.
“Yang jelas pelaku sudah kami amankan. Bahkan, saya yang memerintahkan anggota untuk mencarinya sampai ketemu. Korbannya selain anggota polisi, juga ada pejabat dan kepala desa. Tidak hanya di Malang saja, di Banyuwangi, Pacitan serta Blitar korbannya juga ada. Nanti kalau semua korbannya sudah terkumpul, tersangka ini akan kami ekspose. Sekarang cukup masih diamankan saja,” tutur Adi Deriyan.
Selain empat anggota Polres Malang, Kepala Desa Sengguruh Kecamatan Kepanjen, Hery Purnomo juga telah menjadi korbannya. Kemarin diantarkan keluarganya, Hery melapor ke Polres Malang.
Hery menjelaskan, kejadian itu dialaminya pada 5 Juli 2013 lalu. Saat itu dia hubungi oleh pelaku di telepon fleksi miliknya. Pelaku yang menghubungi dengan menggunakan nomor 081230370150 ini, mengaku sebagai Sekda Kabupaten Malang. “Nomor yang digunakan katanya adalah nomor khusus,” ujar Hery.
Pada pembicaraan lewat telepon itu, diceritakan Hery, pelaku mengaku mendapat perintah dari Bupati Malang, diminta bantuan untuk melakukan ritual. “Katanya saya orang yang dipercaya untuk membantu. Alasannya untuk membantu kemenangan, karena bapak (Bupati) banyak musuh-musuh politik,” tutur Hery.
Karena dalam ritual korban diminta sebagai babi, pelaku lalu meminta korban untuk menunjuk siapa menjadi pengembalanya dan disuruh mengirimkan nomor telepon. Korban pun lalu menunjuk Dwi Agus Widianto, seorang perangkat desa. Tak lama setelah itu pelaku lalu menghubungi Agus, dan diminta sebagai pengembala.
Selanjutnya, keduanya diperintah untuk melakukan ritual di lokasi yang sepi pada malam hari. Korban yang masih belum tersadar menjadikan lokasi sekitar Bendungan Sengguruh  untuk tempat ritualnya. Di lokasi itu korban memecahkan 17 botol bekas kecap. Lalu dia mengusap-usapkan wajahnya ke pecahan botol dan berguling-guling di pecahan botol tanpa menggunakan pakaian. “Sebelum guling-guling saya terlebih dahulu menyiram seluruh tubuh dengan cat hitam. Itupun saya lakukan karena dalam kondisi tidak sadar,” paparnya.
Keesokan harinya, Agus yang menjadi pengembala mendapat telepon dan SMS lagi dan mengatakan kalau ritual yang dilakukan belum sempurna. Korban diminta melakukan ritual lagi dengan menyayat tubuhnya mulai tangan kaki dan badannya dengan pisau karter. Bahkan korban juga diminta menusuk-nusuk matanya dengan bambu. Akibatnya seluruh tubuh Hery pun mengalami luka sayat. Dan kedua matanya sempat bengkak akibat ditusuk dengan bambu. “Sekarang lukanya sudah sembuh. Tinggal bekasnya saja,” tuturnya sembari menunjukkan bekas sayatan di kakinya.
Dia sebelumnya juga sempat merasa curiga, dan mau menanyakan ke teman kepala desa lainnya serta menelepon ke Sekda tetapi tidak bisa melakukannya.
“Saya baru benar-benar tersadar itu sekitar tiga hari lalu. Sebab menghilangkan cat di tubuh saya itu sampai lama. Dan selama ini mau melapor bingung, karena apa yang saya alami itu juga aib. Tetapi begitu mendapat kabar kalau korbannya banyak dan pelaku sudah tertangkap, saya baru berani melapor,” katanya.(agp/aim)