Libatkan Oknum Mahasiswa PTN dan PTS

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyerahkan kelanjutan proses hukum tiga calo masuk Fakultas Kedokteran (FK) kepada kepolisian. Keberhasilan UMM menjebak calo ini, diharapkan juga menjadi warning bagi perguruan tinggi lainnya yang memiliki program pendidikan kedokteran.
‘’Tidak menutup kemungkinan sindikat calo ini juga beraksi di kampus lain yang memiliki FK,’’ ujar Kepala Humas UMM, Nasrullah M.Si.
Apalagi sindikat yang tertangkap kemarin mengaku sudah empat kali melakukan penipuan. Sebelumnya mereka juga beraksi di UB. Menurut Nasrullah, UMM memang cukup pro aktif menangkap para joki ini. Mulai dari saat pendaftaran hingga pengumuman pun masih diwaspadai. Sebab pelaku yang tertangkap masih berani menawarkan kursi di FK padahal pendaftarannya sudah ditutup. Dalihnya masih ada satu kursi kosong melalui jalur belakang.
‘’Kasihan mahasiswanya kalau dia sebenarnya gak lolos tes tapi dipaksa masuk FK, akan keteteran waktu kuliah,’’ bebernya.
Mahasiswa yang diterima dengan menggunakan jasa joki, katanya, dikhawatirkan pada saat kuliah justru tidak bisa mengikuti pelajaran alias ‘nggandol’ yang pada akhirnya bisa terkena drop out (DO), sebab hal itu akan berpengaruh terhadap kredibelitas kampus. Selain itu, lanjutnya, lulusan adalah aset bagi lembaga dan mereka akan terjun di masyarakat.
Khusus untuk peminat FK, katanya, pada gelombang I dan II mencapai 1.900 lebih, padahal yang diterima hanya 180 mahasiswa. FK ini memang menjadi fakultas favorit, sehingga peminatnya cukup tinggi. Selain Fakultas Kedokteran, sejumlah program studi yang menjadi favorit adalah nanajemen, teknik informastika, komunikasi serta akuntansi.
Terpisah, tiga joki tersebut kemarin dilimpahkan ke Polres Malang Kota. Hal itu seperti diungkapkan Kapolsek Karangploso, AKP Sugeng Hardiyanto saat dihubungi Malang Post kemarin.
‘’Karena lokasinya berada di Kota Malang, maka hari ini (kemarin, Red.) ketiga tersangka kami limpahkan ke Mapolres Malang Kota,’’  ujarnya.
Dikatakannya, segala bentuk proses hukum mulai penyidikan hingga dibawa ke persidangan seluruhnya  akan ditangani Satreskrim Mapolres Malang Kota.
Diperoleh informasi, mereka sudah tiga kali melakukan penipuan serupa. Yang membedakan lokasinya yakni di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Dari ketiga aksi tersebut komplotan ini hanya menarik uang dari para korbannya dan tidak satu orang pun yang masuk menjadi mahasiswa.
‘’Jadi komplotan ini murni melakukan tindak pidana penipuan. Setelah dapat uang mereka lalu kabur, sementara korbannya gagal menjadi mahasiswa. Itu modus yang selalu dilakukan komplotan ini yang kami duga masih banyak jaringannya lagi,” beber Sugeng begitu dia akrab disapa.
Informasi yang dihimpun dari kepolisian, tiga komplotan yang berhasi dijebak itu Taufani Chandra Sukma, warga Jalan Puri Kartika Asri H7 02/09 Kota Malang, Agus Sugiono, warga Jalan Ki Ageng Gribig 1 RT 004/003 Madyopuro Kedungkandang Malang, dan Amri Septiono, warga Jalan Serayu 50 RT 005/006 Kelurahan Randuagung.
Agus sendiri, diduga sebagai otak penipuan. Dia bahkan tiga kali melakukan aksi di Universitas Brawijaya. Dalam melakukan aksinya, Agus bekerjasa sama dengan Marwan, mahasiswa UB jurusan Teknik Mesin yang saat ini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Dalam aksi keempat, saat menipu Basri Latuconsina, Agus melibatkan Taufani Chandra Sukma alias Toton dan Amri. Tonton adalah mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer), sedangkan Amri mahasiswa UB Fakultas Ilmu Administrasi (FIA).
Info adanya satu kuota Fakultas Kedokteran UMM dari Marwan dan diteruskan kepada Agus. Agus kemudian meneruskan kepada Taufani dan Amri.
Mereka  kebagian mencari korban dan pilihan jatuh pada Basri Latuconsina, yang curiga dan melaporkannya ke Polsek Karangploso. ‘’Marwan saat ini sedang kami buru. Ciri-cirinya sudah kami dapatkan melalui keterangan yang diberikan Agus, saat kami interogasi,’’ ungkap Sugeng.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Malang Kota, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Arif Kristanto yang dihubungi terpisah mengaku telah menerima pelimpahan kasus tersebut. Namun, Arif enggan memberi komentar, karena baru dilakukan serah terima tersangka sehingga belum dilakukan penyidikan.
‘’Benar, siang tadi (kemarin siang, Red.) kami baru menerima pelimpahan dari Polsek Karangploso dan masih memulai penyidikan. Karena proses penyidikan masih berlangsung, kami belum bisa menyimpulkan,’’ ujarnya saat dihubungi Malang Post.
Termasuk dugaan tentang melibatkan jaringan yang lebih luas lagi dan modusnya, dia mengaku masih belum bisa menyimpulkannya. ‘’Kami harap kepada rekan-rekan media untuk bersabarm karena proses penyidikan msih berlangsung. Setelah kami siap, nantinya pasti akan kami rilis,’’ tutupnya. (big/oci/avi)