Psikopat Pelaku Hipnotis Kades

Korban hipnotis yang dilakukan Slamet Subagjo bin Sukardi, 53 tahun, ternyata cukup banyak. Dari pengakuan PNS golongan 3D Kota Kediri itu, sedikitnya ada 13 orang yang menjadi korbannya. Delapan orang adalah
 anggota polisi dan lima orang lainnya kepala desa (Kades).
Menurut tersangka yang masih tercatat sebagai Kasi Perdagangan di Disperindag Kota Kediri ini, delapan orang anggota polisi itu yaitu, empat orang anggota Polres Malang (3 orang dari Polsek Kalipare dan 1 dari Polsek Donomulyo). Lalu dua orang anggota Polres Banyuwangi, satu orang anggota Polres Blitar dan satu orang anggota Polres Pacitan.
“Namun dari delapan anggota polisi itu, hanya empat orang polisi dari Polres Malang ini yang melakukan ritual seperti yang saya perintahkan. Sedangkan lainya tidak mau, karena tidak percaya,” ungkap tersangka Slamet Subagjo, saat gelar perkara kemarin.
Sedangkan 5 Kades yang telah menjadi korban hipnotisnya, diakui semuanya adalah Kades di Kabupaten Malang. Hanya Kades mana saja, tersangka mengaku tidak ingat. Namun salah satunya yang sudah melapor ke Polres Malang adalah Kades Sengguruh, Hery Purnomo.
Modus operandi yang dilakukan Slamet, sebelum mendapatkan nomor telpon pribadi para korbannya, dia menghubungi nomor layanan 108. Dia menanyakan nomor telpon Polsek yang akan menjadi sasarannya. Begitu mendapatkan, tersangka lalu menghubungi penjagaan di Polsek yang dituju.
Ketika diangkat, semula dia mengaku sebagai sekretaris Kecamatan (Sekcam) dan mengatakan akan membagikan bingkisan lebaran. Dia meminta nomor HP siapa saja anggota di Polsek tersebut. Begitu mendapatkannya, tersangka lalu menghubungi satu persatu korbannya dengan mengatakan sebagai Kasat Binmas AKP Supari.
“Kalau untuk anggota polisi yang menjadi korbannya, mereka ditelpon oleh pelaku dan diminta melakukan ritual seperti perintah pelaku itu pada pertengahan Agustus lalu. Sedangkan Kades, dilakukannya pada Juli lalu,” terang Waka Polres Malang, Kompol Pranatal Hutajulu.
Selanjutnya, dengan mengatakan diperintah oleh pimpinan, tersangka meminta para korban ini untuk menjadi babi hutan (celeng) dan diminta melakukan ritual seperti yang dilakukan. Mulai mengecat tubuh dengan cat kayu, melukai tubuh dengan pecahan botol kaca serta menyayat tubuh dengan pisau carter.
Lantas, ilmu apa yang dimiliki dan apa alasan tersangka melakukan itu ? Dengan menundukkan kepala dan terus meminta maaf, tersangka yang mengaku sudah bercerai dengan istrinya mengatakan kalau dirinya tidak memiliki ilmu apapun. Dia juga mengatakan tidak pernah membaca mantera apapun. Alasan dia melakukannya itu, karena hanya sebagai kepuasan batin saja.
“Jujur saya tidak memiliki ilmu. Saya melakukan itu untuk kepuasan batin saja. Setelah mengerjai itu, saya puas seperti habis berhubungan intim,” tuturnya.
Akibat perbuatannya itu, tersangka Slamet ini dijerat dengan pasal 45 ayat 3 jo pasal 29 UU RI nomor 11 tahun 2008 sub pasal 45 ayat 2 jo pasal 28 ayat 1 UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronika lebih sub pasal 335 KUHP junto pasal 64 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan. “Ancaman hukumannya 12 tahun kurungan penjara,” tegas Pranatal Hutajulu. (agp/aim)