Tak Independen, Warga Tolak Kurator

Keinginan kurator untuk segera menghitung aset milik PT. Dewata Abdi Nusa (DAN) tidak semudah membalikkan tangan. Kemarin, belasan warga perumahan Graha Dewata malah memberikan pernyataan sikap menolak kurator yang sempat menemui mereka untuk meminta bukti-bukti atau daftar hak user yang belum dipenuhi developer dan pemiliknya, Dewa Putu Raka Wibawa. Mereka menyatakan lima poin penolakan tersebut di depan pintu gerbang masuk yang berada di wilayah Desa Landungsari, Dau tersebut.  Lima poin itu yakni warga hanya membutuhkan sertifikat, bukan uang sisa hasil lelang dan menolak penunjukkan kurator karena tidak independen.
Selain itu, warga juga  menolak arogansi kurator, warga tidak akan meninggalkan rumah dan tidak akan membeli rumah baru serta warga akan tetap melawan hingga titik darah penghabisan. Menurut mereka, pernyataan sikap itu terkait putusan pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya Nomor 16/Pailit/2013/Pengadilan Niaga Sby. Kristanti, salah satu warga yang membeli rumah di sana seharga Rp 290 juta menyatakan, salah satu yang sangat dicurigai terkait indepedensi kurator yakni syarat yang cukup memberatkan bila sudah ada developer baru yang akan mengambil alih perumahan tersebut usai lelang.
“Dalam pertemuan dengan kurator, warga diberitahu bila ada developer baru, akan ada penawaran. Jika tetap tinggal, diminta untuk menambah 70 persen dari harga rumah sekarang sedangkan bila memilih pergi dari rumah, akan diberikan kompensasi 30 persen dari harga rumah saat dibeli dulu. Kalau opsi pertama dipilih, sama juga dengan membeli rumah baru. Padahal, kami sudah membayar rumah tersebut secara lunas,” urainya. Padahal, menurutnya, perkiraan harga rumah miliknya sekarang sudah mencapai Rp 500 jutaan.
Kecurigaan kedua, tambah kuasa hukum para warga ini, Gunadi Handoko, SH, MM, M.Hum, kurator tersebut merupakan penunjukkan dari BRI dan berkantor di tempat yang sama dengan lawyer BRI. “Lalu siapa yang bisa menjamin mereka bisa independen? Kalau seperti ini, kami akan ajukan permintaan untuk mencari kurator  yang lebih netral,” paparnya.  Dalam perkara kepailitan ini, ungkapnya, warga bukan merupakan kreditur preferen yang memiliki hak mendapat pelunasan terlebih dulu dibandingkan kreditur lain, melainkan BRI Kawi. “BRI tidak professional. Mereka sudah mendapat pembayaran KPR dari user hingga lunas, sekarang mendapat lagi uang dari hasil lelang,” tegas dia.
Seperti diketahui,  dua kurator Willing Learned SH dan RM Otty Hendrawan SH menemui user perumahan Graha Dewata di kantor PT. DAN,  Jalan Joyo Agung Malang. Keduanya meminta bukti-bukti atau daftar hak para user yang tidak dipenuhi oleh developer dan pemiliknya, Dewa Putu Raka Wibawa. Dalam waktu 1,5 jam, para kreditur menyerahkan daftar tagihan didampingi kuasa hukumnya masing-masing. “Meskipun dalam pertemuan itu, para kurator mengaku tidak akan meninggalkan kepentingan atau hak para user, tetap saja kami ragukan kredibilitas mereka,” tutupnya. (mar)