Direktur PT. HMH Ajukan Banding Rumah Hibah

DIMASALAHKAN: Rumah milik Valent yang dimasalahkan oleh Hardi, mantan suaminya.

MALANG-  Perseteruan antara Direktur Utama PT. Hardlent Medika Husada (HMH), DR. FM. Valentina dengan mantan suaminya, dr. Hardi Soesanto di meja hijau benar-benar di luar batas kewajaran. Bak mengincar harta mantan istrinya tersebut, Hardi kembali mengugat rumah di Jalan Taman Ijen B/27 Malang sebagai hak miliknya.
Majelis hakim yang diketuai Heri Widodo SH, dalam sidang gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang itu, memutuskan bila Hardi masih memiliki hak atas bangunan tersebut. Alasannya, saat dibeli bulan November 2010 lalu, bangunan yang dulu berupa tanah itu, masih diatasnamakan Hardi dalam sertifikat yang dibuat di notaris Eko Handoko Widjaja, SH, M.Hum.
Dikonfirmasi putusan itu, Valent, panggilan akrab bos PT. HMH itu meradang. Dia mengatakan, bila bangunan itu merupakan milik kedua anaknya, Gina Gratiana dan Gladys Adipranoto. Ini dibuktikan dengan akta hibah tertanggal 6 Juni 2011 lalu yang dibuat di notaris yang sama. “Saya dulu beli masih berupa tanah seluas 700 m2 kepada pemiliknya, Endang Murtini. Saya bayar dua kali. Yang pertama Rp 1,7 miliar dan yang kedua,Rp 351.200.000. Pembayaran lewat Bank CIMB Niaga,” tuturnya.
Dia mengakui, ketika itu memang meminta tolong Hardi yang masih menjadi suaminya untuk pengurusan balik nama. “Lama tidak terdengar kabarnya, saya cek ke notaris. Saya kaget karena tanah itu dibalik nama ke Hardi. Gelagat tidak beres ini, saya lantas minta tanah itu dikembalikan ke nama saya sendiri. Singkat kata, Hardi membuat akta hibah nomor 17 dan akta jual nomor 18 lewat notaris Ita Kristiana. Dua akta itu dibuat bersama-sama tanggal 6 Juni 2011,” lanjut dia. Lalu, tanggal 10 Agustus 2011, agar lebih amannya, dia membuat akta hibah tanah itu kepada dua anaknya. “Akta hibah itu, saya percayakan kembali ke notaris Eko Handoko. Jadi kalau sekarang pengadilan memutuskan pembatalan akta hibah ini, salah besar. Sejak kecil, saya dididik untuk tidak jadi penipu atau perampok,” katanya sedikit emosi.
Di bagian lain, Sutrisno SH, kuasa hukum Valent mengaku akan segera mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya terkait putusan hakim PN Kota Malang ini. “Kalau putusan PN Kota Malang mengabulkan sebagian dari gugatan Hardi, apalagi dalam pertimbangan hakimnya tidak sesuai dengan dalil yang disampaikan Hardi, maka kami banding,” tegasnya melalui telepon.
Dia menilai, majelis hakim yang memeriksa perkara ini, kadangkala sok pandai namun ternyata salah dalam memahami suatu aturan hukum. “Tetapi tetap dipaksakan karena mempunyai kewenangan dalam memutus perkara hingga berbulan-bulan yang merugikan pencari keadilan,” tutup Sutrisno. (mar)