Dituntut Setahun, dr Hardi Lemas

Raut wajah dr Hardi Soetanto, 54 tahun, mendadak pucat saat tuntutan atas kasus pencurian belasan sertifikat milik Direktur PT. Hardlent Medika Husada (HMH), DR. FM Valentina SH, M.Hum dibacakan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, kemarin sore. Warga Jalan Mojo Kidul Surabaya ini langsung lemas ketika dituntut hukuman satu tahun dan perintah untuk dipenjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ari Kuswandi SH. Menurut jaksa muda ini, Hardi terbukti melakukan pencurian belasan sertifikat senilai Rp 4 miliar, yang dilaporkan Valent, panggilan korban ke Satreskrim Polres Malang Kota beberapa bulan lalu.
“Terdakwa dengan sengaja melanggar pasal 362 junto 367 KUHP. Namun yang meringankan bagi terdakwa adalah dia belum pernah dihukum, sopan dalam persidangan, belum mendapatkan hasil dari pencurian sertifikat itu dan dia mengaku melakukan perbuatannya karena ada masalah dengan bu Valent,” papar Ari kepada majelis hakim yang diketuai Hari Widodo SH, MH. Masih menurut dia, pembuktian bila Hardi melakukan pencurian sertifikat tersebut, setelah pihaknya meminta keterangan dari beberapa saksi termasuk dua saksi ahli dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Drs. Adami Chazawi SH dan DR. Suhariningsih SH, SU.
“Kami juga melampirkan barang bukti berupa 14 sertifikat, satu bendel perjanjian nikah dan beberapa surat lainnya,” ujarnya. Selain memerintahkan untuk penjara bagi Hardi, JPU juga menuntut agar semua sertifikat yang dimaksud, dikembalikan kepada Valent.  Seperti diketahui sebelumnya, Valent melaporkan hilangnya 14 sertifikat yang diambil Hardi.
 “Kapan hilangnya sertifikat itu, saya sendiri tidak tahu. Hanya saja, sertifikat itu baru diketahui hilang pada sekitar November 2011,” ungkap Valent pada persidangan pertama. Selain sertifikat, uang USD 10.000 juga dilaporkan hilang dari dalam brankas rumahnya. Sementara itu, RR. Tantri SH, kuasa hukum Hardi mengatakan akan memberikan pembelaan dalam persidangan minggu depan. “Sebab, ada beberapa kejanggalan dalam tuntutan itu. Seperti saksi yang mengetahui pencurian itu hanya Valent seorang,” terangnya.
Lantas, brankas yang katanya dirusak, menurutnya juga tidak ada. “Menurut keterangan Bambang, mantan satpam di rumah itu, dia mengatakan kalau brankas tersebut sudah rusak jauh–jauh hari sebelum klien kami dilaporkan mencuri sertifikat. Sekarang, kenapa brankas itu juga tidak dijadikan barang bukti dalam persidangan. Ada pula keterangan dari Bambang yang menyatakan pernah melihat bila sertifikat itu ada di meja ataupun di ruang kerja. Bukan hanya di dalam brankas. Artinya, masih ada celah untuk klien kami lolos dari hukuman,” kata dia. (mar)