Intimidasi Wartawan, SDN Kauman 1 Dipolisikan

MALANG -  Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1 Malang, dilaporkan ke Polres Malang Kota. Pelaporan ini buntut dari perlakuan kasar yang diterima wartawan Radar Malang, Imam Nasrodin, 26 tahun, saat melakukan peliputan di sekolah tersebut, kemarin pagi.
Selain perlakuan kasar, dua HP dan satu kamera yang digunakan Imam, untuk bertugas, dirampas beberapa orang di sekolah itu. Hingga kemarin sore, Imam masih dimintai keterangan di unit pidana tertentu (pidter) Satreskrim Polres Malang Kota.  
Keterangan yang dihimpun, bermula ketika Imam dan beberapa wartawan menerima informasi, rencana demo beberapa orang tua siswa murid baru, terkait pungutan SBPP dan SPP di sekolah itu. Dia lantas mengecek kebenarannya dengan mendatangi sekolah yang berada di Jalan Kauman Malang tersebut, pukul 08.20.  
‘’Sampai di sana, saya tidak melihat ada aktivitas demo sama sekali. Saya lantas melakukan investigasi ke tukang parkir dan masuk ke dalam sekolah untuk mencari orang tua siswa yang hendak demo,’’ paparnya.
Usahanya tidak sia-sia. Saat makan di kantin sekolah, dia mendapat kabar bila demo tidak jadi dilakukan. Namun pihak sekolah, komite dan beberapa perwakilan orang tua siswa, melakukan pertemuan di ruang KKG.
‘’Saya lantas masuk dengan salah seorang wali murid dan duduk di dalam ruangan tersebut. Ada sekitar 20 orang yang berada di sana, termasuk salah satunya Kepala SDN Kauman 1, Dra Kartini,’’ lanjut dia.
Imam lantas mengeluarkan kamera poketnya dan memotret suasana pertemuan. Namun baru beberapa jepret foto,  pemuda asal Tulungagung itu lantas didatangi salah satu wanita berjilbab. Wanita yang tidak dikenalnya ini, menutupi lensa kameranya dan meminta agar pertemuan itu tidak diekspos dengan alasan masih menjadi urusan internal sekolah.
‘’Dari sinilah, semua orang melihat. Saya diusir keluar ruangan. Tentu saja, saya makin curiga dengan pengusiran ini, hingga akhirnya ketika saya hendak memotret dari jendela, beberapa orang mendatangi saya,’’ ungkap Imam.
Tanpa banyak kata, mereka meminta kartu identitas termasuk kamera yang sudah dimasukkan ke dalam tas kecil yang disandangnya. Mencium ketidakberesan ini, Imam pun berusaha pergi ke parkiran motor. Namun, belum sampai ke motor miliknya, dia sudah dihadang satpam dan kedua tangannya dipegang serta dipelintir.
‘’Saya sempat teriak, kalau saya ini bukan pencuri. Tidak perlu diperlakukan seperti itu. Saat itulah, beberapa orang yang sempat mengusir saya datang dan mengerumuni saya,’’ kata anak sulung dari dua bersaudara ini.
Selanjutnya, kamera dan dua HP-nya diambil paksa. Beberapa di antara orang yang mendatanginya ini, diakuinya juga sempat melontarkan kata-kata kasar.
Saat pandangan mata para ‘penyerbunya’ tertuju pada hasil foto kamera, Imam menyelinap dan kabur ke kantornya untuk melaporkan peristiwa tersebut.
Sementara itu, Redpel Radar Malang, Lazuardi Firdaus mengaku pihaknya tetap memproses secara hukum peristiwa kekerasan yang dialami anak buahnya. ‘’Kami juga berkonsultasi hukum kepada PP Otoda Universitas Brawijaya untuk masalah ini,’’ ungkapnya ketika mendampingi Imam dalam pemeriksaan.
Menurutnya, SDN Kauman 1 Malang, dilaporkan atas pelarangan kebebasan informasi publik, delik pers karena melarang wartawan melakukan peliputan serta perampasan dan perbuatan tidak menyenangkan.
‘’Kami melakukan pendampingan karena banyak kasus-kasus yang menimpa pers,’’ ujar Direktur Klinik Hukum PP Otoda, Syahrul Sajidin. Sementara, Humas SDN Kauman 1 Malang, Nanang Suhariadi yang juga disebut Imam sebagai salah satu penyerbunya enggan berkomentar lebih banyak.
‘’Ya, intinya ini hanya terjadi kesalahpahaman. Dan sekarang ini masih proses untuk menyelesaikan masalah dengan baik,’’ ujar guru olah raga tersebut. (mar)