Sutiaji Sidak, Sekolah Tuding Berita Diplintir

Wawali Kota Malang, Sutiaji, sidak SDN Kauman 1 pasca  peristiwa intimidasi yang dialami wartawan Radar Malang, Imam Nasrodin, Kamis (19/9) di sekolah itu. Sutiaji berusaha mencari tahu persoalan yang sebenarnya.
Saat sidak, orang nomor dua di Pemkot Malang itu, mendengar pemaparan Kepala SDN Kauman 1, Dra R Kartini MPd dan  perwakilan komite sekolah. Termasuk Kadis Pendidikan, Dra Sri Wahyuningtyas MSi. Pertemuan itu berlangsung terbuka dan disaksikan wartawan.
‘’Hemat saya, kalau ini diterus-teruskan, akan berkembang,’’ katanya kepada wartawan usai pertemuan itu. Ia juga memastikan, sebenarnya tidak ada berita yang diplintir dan tak seharusnya jadi masalah.
Sebelumnya dalam pertemuan, Sutiaji mendengar penjelasan, adanya berita yang diplintir wartawan. Seakan melakukan klarifikasi, pihak sekolah memaparkan penjelasan versi sekolah.
‘’Kita tahu dan berusaha untuk taat asas (tidak melakukan pungutan). Sekolah tidak melakukan pungutan. Jadi berita itu plintiran,’’ kata salah seorang peserta pertemuan kepada Sutiaji.
Mendengar kata plintiran, Sutiaji langsung memberi penjelasan. Menurut dia, sebenarnya tidak ada berita yang diplintir oleh wartawan. ‘’Dalam berita itu disebutkan diindikasikan. Jadi itu bukan diplintir,’’ terang Sutiaji.
Mantan ketua Fraksi PKB DPRD Kota Malang ini juga meminta pihak sekolah memasang standard operating procedure (SOP). ‘’SOP itu harus dipasang di depan. Media juga saling mengerti dan saling menjaga. SOP dibuat karena disini anak-anak sekolah,’’ katanya kepada wartawan usai sidak.
Sutiaji juga meminta maaf jika pihaknya dianggap salah. Khusus soal dugaan pungutan, menurut dia, hal itu merupakan ranah Dinas Pendidikan. Jika terbukti, akan ditindak tegas.
Sementara itu, Kartini meminta maaf atas kejadian yang menimpa wartawan peliput di sekolah yang dipimpinnya. Namun kejadian itu tidak serta merta terjadi. Pasalnya menurut mereka, sang wartawan tak membawa kartu pers saat meliput.
Di depan Sutiaji, Kartini dan perwakilan komite sekolah memberikan klarifikasi kejadian versi mereka. Menurut mereka, sebelumnya sudah berkali-kali menanyakan id card atau kartu pers.
Ketua Komite SDN Kauman 1, Hessy Hazniah Tamim membantah ada pungutan. Yang ada infaq. Itu pun jumlahnya tidak ditentukan. ‘’Infaq disini bebas, sesuai kemampuan,’’ katanya.  
Sementara itu, Kartini menegaskan bahwa rapat yang digelar sebenarnya bukan terkait pungutan. Bahkan menurut dia, tak membahas infaq karena bukan ranah sekolah melainkan komite sekolah.  
Sebenarnya agenda rapat, yakni klarifikasi program. ‘’Sebenarnya rapatnya bukan tertutup. Tapi dia yang tak izin dan akhirnya diusir,’’ katanya.
Seperti diberitakan Malang Post sebelumnya, wartawan Radar Malang, Imam Nasrodin mendapat perlakuan kasar dan tak menyenangkan saat meliput di sekolah tersebut.
Selain perlakuan kasar, dua HP dan satu kamera yang digunakan Imam, untuk bertugas, sempat dirampas beberapa orang di sekolah itu.
Peristiwa itu bermula ketika Imam menerima informasi, rencana demo beberapa orang tua siswa murid baru, terkait pungutan SBPP dan SPP di sekolah itu. Dia lantas mengecek kebenarannya dengan mendatangi sekolah.
Saat makan di kantin sekolah, dia mendapat kabar bila demo tidak jadi dilakukan. Namun pihak sekolah, komite dan beberapa perwakilan orang tua siswa, melakukan pertemuan di ruang KKG.
Ia lantas masuk bersama salah seorang wali murid dan duduk di dalam ruangan tersebut. Ada sekitar 20 orang yang berada di sana, termasuk salah satunya Kepala SDN Kauman 1, Dra Kartini MPd.
Imam lantas mengeluarkan kamera poketnya lalu memotret suasana pertemuan. Namun baru beberapa jepret foto,  dia  didatangi salah satu wanita berjilbab. Wanita yang tidak dikenalnya ini, menutupi lensa kameranya dan meminta agar pertemuan itu tidak diekspos dengan alasan masih menjadi urusan internal sekolah. Pengusiran terhadap Imam yang melakukan tugas jurnalistik pun terjadi.
Mereka juga  meminta kartu identitas termasuk kamera yang sudah dimasukkan ke dalam tas kecil yang disandang Imam. Mencium ketidakberesan ini, ia pun berusaha pergi ke parkiran motor. Namun, belum sampai ke motor miliknya, Imam  sudah dihadang satpam dan kedua tangannya dipegang lalu dipelintir.
Sementara itu hingga kemarin, penyidik Satreskrim Polres Malang Kota belum menerapkan pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang cocok dalam kasus peliputan berujung kekerasan yang dialami wartawan Radar Malang, Imam Nasrodin, 26 tahun di SDN Kauman 1 Malang. Polisi mengaku masih membutuhkan keterangan banyak saksi untuk mendukung laporan ini. Usai memeriksa pemuda asal Tulungagung ini hingga menjelang dini hari kemarin, penyidik langsung melayangkan surat untuk memanggil beberapa saksi di sekolah tersebut. “Hari ini (kemarin), penyidik kami sudah mengirimkan surat panggilan ke saksi di SDN Kauman 1 yang tahu kejadian tersebut,” tutur Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK.
Dia mengakui bila keterangan saksi ini sangat dibutuhkan untuk unsur pasal yang diterapkan nanti. “Keterangan itu nanti yang akan kami kaji hingga ditemukan pasal yang pas,” tegasnya. Mantan Kasatreskrim Polres Tuban itu tidak menampik bila anggotanya masih berpedoman pada pengaduan korban untuk menjerat pelakunya menjadi tersangka. “Sesuai pengaduan, sekolah itu dilaporkan melakukan pelarangan kebebasan informasi publik, delik pers karena melarang wartawan melakukan peliputan serta perampasan dan perbuatan tidak menyenangkan. Masih kita lihat lagi nanti,” ujarnya. (van/mar)