Developer Minta Tanah Status Quo

STATUS QUO: Tanah di Jalan Akordion diminta berstatus quo untuk menjunjung tinggi proses hukum.

Tanah Akordion
MALANG- Sengketa jual beli tanah di Jalan Akordion Utara Malang berlanjut makin panas. Meski perkaranya masih dalam penyelidikan di Satreskrim Polres Malang Kota, berbagai manuver mencari keadilan dilakukan oleh ahli waris dan keluarganya ataupun Andrian Handoko, owner PT. Woodland Property, pengembang perumahan North Point Residence. Melalui Eddo Bambang SH, kuasa hukum Andrian Handoko, dia meminta agar tanah yang dibeli kliennya dinyatakan bertatus quo.
“Saya sudah minta perwakilan ahli waris agar tanah itu dinyatakan status quo untuk sama-sama menghormati proses hukum hingga status hukumnya mendapat kejelasan,” tuturnya.
Untuk menegaskan hal ini, kemarin dia mendatangi Satreskrim Polres Malang Kota untuk meminta perlindungan polisi. “Nanti terserah polisi. Apakah mau di-police line atau diapakan, terserah saja,” tambahnya. Eddo, panggilannya mengatakan, langkah ini diambilnya karena ahli waris dan keluarganya sudah dianggapnya melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kliennya sebagai pemilik tanah.
“Saya sudah bilang ke mereka kalau ada bangunan atau apapun bentuknya yang berdiri di atas tanah itu, pasti saya bongkar karena tanah itu memang hak klien saya,” terangnya.
Dalam kasus ini, dia juga berharap polisi jeli. Sebab, pihaknya sudah memegang Perjanjian Pengikatan Jual Beli No 39 dan Akta Jual Beli No 245 serta surat kuasa No 40 dari ahli waris yang memperbolehkan pembeli menggarap tanah itu sebelum pelunasan. “Harga sudah sepakat. Kalau ada uang pembayaran yang tidak sampai ke tangan ahli waris, itu bukan kewenangan klien kami. Saya lihat, ada spekulan yang berusaha mempengaruhi ahli waris,” tudingnya.
Eddo juga tidak mempermasalahkan bila notaris Luluk Wafiroh yang dilaporkan ahli waris karena menggelapkan sertifikat, berdampak pada kliennya. Sementara itu, ahli waris dan keluarganya, kemarin kembali memasang dua tenda seng dan bangunan bambu, di tanah sengketa tersebut. “Kami memang kembali, setelah sebelumnya sempat dirusak. Untung kami masih sabar, tidak sampai melaporkan perusakan itu ke polisi,” tutur mereka kepada Malang Post.
Pemasangan tenda seng dan bangunan bambu ini pula, juga akan dipergunakan untuk melakukan istiqosah di tanah tersebut bersama santri PP As Salam, Bunut, Karanglo pimpinan Gus Wachid dan PP. Manarul Huda.  Pemasangan tersebut, sempat diamati dan difoto oleh seorang pria berambut cepak yang datang menggunakan motor. Dikonfirmasi perihal penyidikan laporan penggelapan sertifikat, Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK mengaku pihaknya masih akan memanggilnya untuk dimintai keterangan. (mar)