Tuntut Penyidikan Tanah Akordion Selesai

MALANG-  Ahli waris tanah sengketa di Jalan Akordion Utara Malang akhirnya membuktikan ucapannya untuk melakukan istiqosah bersama beberapa santri ponpes Manarul Huda. Istiqosah itu, dilakukan di bagian depan tanah seluas 6.313 m2 tersebut kemarin. Menurut Dicky Sulaeman, perwakilan ahli waris, acara itu memang dilakukan agar permasalahan yang dihadapi ahli waris bisa segera selesai. “Kami bersyukur hingga hari ini, ahli waris masih diberikan kesehatan dan diberi kekuatan untuk memperjuangkan haknya mendapatkan tanah itu kembali,” tuturnya. Menurut rencana, istiqosah tidak hanya dilakukan satu kali ini saja. Melainkan akan dilakukan beberapa kali dengan massa yang lebih besar dengan melibatkan warga sekitar dan ponpes lain.
Dijelaskan dia, hingga hari ini, lima ahli waris tanah milik almarhumah Tirah dan keluarganya, masih mencari jalan terbaik untuk kasus proses jual beli tanah bermasalah tersebut. “Memang tidak menutup kemungkinan, perdamaian adalah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, meskipun proses penyidikan polisi tetap berjalan,” lanjutnya. Sejak awal, ahli waris pun juga bersedia untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan. Dicky, sapaan akrabnya mengaku bila ahli waris berterima kasih kepada pihak yang sudah membantu dan polisi untuk menyelesaikan permasalahan itu.
‘Terutama kepada polisi, kami berterima kasih sudah bekerja dengan baik dan profesional. Sehingga harapan keluarga ahli waris untuk mempidanakan notaris Luluk Wafiroh dan mengambil kembali sertifikat yang digelapkan, bisa terwujud secepatnya,” terangnya. Dia juga berharap, polisi juga mengusut dugaan mafia tanah terkait jual beli tanah berharga Rp 1 juta per meternya ini. Kuasa hukum ahli waris, Suwito Wijoyo SH mengungkapkan, bila kliennya juga terbuka untuk menyelesaikan jual beli tanah itu secara win-win solution. “Sepanjang hak klien kami terpenuhi, tidak ada masalah untuk menyelesaikannya secara damai,” katanya.  
Di bagian lain, Didik Wibowo, salah satu keluarga ahli waris mengaku kembali diperiksa penyidik Unit Pidsus Satreskrim Polres Malang Kota terkait uang muka Rp 1 miliar yang diterima keluarganya. “Ya, saya kembali diperiksa terkait uang muka ini. Namun, kami tetap mengatakan bahwa ahli waris hanya menerima uang Rp 750 juta dari pembayaran uang muka tersebut yang dilakukan di BCA JalanBasuki Rakhmad Malang. Secara otomatis pula, tanah ini masih milik keluarga kami,” tegas Didik, panggilannya. (mar)