SMKN 1 Kepanjen Digarong

BERANTAKAN : Sutisno menunjukkan lokasi bengkel praktek yang dibobol maling

KEPANJEN – Untuk kesekian kalinya, lembaga pendidikan menjadi sasaran pelaku pencurian. Dini hari kemarin, SMK Negeri 1 Kepanjen di Desa Kedung Pedaringan, Kecamatan Kepanjen ini yang diacak-acak pencuri. Pelaku yang diperkirakan lebih dari dua orang, berhasil membawa kabur barang berharga senilai sekitar Rp 70 juta.
Kasus pencurian sendiri, kemarin langsung ditangani petugas Polsek Kepanjen diback up Polres Malang. Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk menyelidiki pelakunya. Bahkan, anjing pelacak K-9 juga didatangkan untuk mengendus jejak pelaku.
“Kalau kerugian seluruhnya sekitar Rp 70 juta. Karena barang-barang yang dicuri, semuanya bernilai tinggi,” ungkap Choliq, Wakil Kepala SMK Negeri 1 Kepanjen, yang dibenarkan Ketua Komite Sekolah Sutrisno.
Informasi yang diperoleh, aksi pencurian itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 01.00. Saat kejadian, sekolah dijaga oleh dua orang satpam yaitu Sakur serta Sutris. Saat terjadi pencurian, keduanya tidak tahu karena berada di ruang penjagaan depan.
Sementara pelaku sendiri, masuk melalui jalan makam umum yang kemudian menerobos kebun tebu. Setelah berada di area belakang sekolah, pelaku menjebol jendela ruang Laboratorium Elektronik Industri (Lab EI). Di gedung yang berada di belakang sendiri ini, pelaku mengambil lima unit CPU serta monitor layar datar.
Tak puas mendapatkan barang curian itu, pelaku beralih ke bengkel rekayasa perangkat lunak (RPL). Dengan modus yang sama, pelaku lalu masuk dan mengambil 15 CPU serta satu unit laptop. Setelah barang-barang itu berhasil diambil, pelaku lalu kabur lewat jalan semula menuju ke tengah pemakaman umum.
“Semua barang yang dicuri itu adalah bantuan dari Pemerintah tahun 2010 dan 2011. Sebagian juga merupakan bantuan dari swadaya komite,” ujar Sutrisno.
Kejadian pencurian tersebut, baru diketahui pagi harinya sekitar pukul 06.00. Adalah Rudi, 30 tahun, tukang kebersihan yang setiap pagi membuka ruangan. Begitu pintu dibuka dan melihat dua ruangan ini acak-acakan, Rudi yang yakin kemalingan lantas memberitahukan pihak sekolah yang selanjutnya melapor ke Polsek Kepanjen.
Polisi sendiri yang mendapat laporan, lalu melakukan olah TKP. Dari penyisiran, polisi menemukan 15 unit rangka CPU di tengah makam yang berjarak sekitar 50 meter. Sementara komponen penting di dalam CPU sudah tidak ada. Sedangkan lima rangka CPU lagi, ditemukan di tepi sungai yang berjarak 100 meter dengan kondisi yang sama.(agp/aim)