Kasus Tanah Akordion, Polisi Bidik Tersangka Lain

MALANG- Penyidikan terhadap kasus penggelapan yang dilakukan Notaris Luluk Wafiroh, SH, SpN terus dilakukan penyidik Satreskrim Polres Malang Kota. Meski Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) ini sudah dimasukkan bui, namun penyidik tidak berhenti begitu saja. Mereka mengisyaratkan ada orang lain yang menyusul Luluk, sapaan akrabnya, yang menjadi tersangka dalam kasus penggelapan dan dilaporkan ahli waris tanah Jalan Akordion Malang.
Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK membenarkan perihal tersangka lain yang bakal menyusul Luluk mendekam di balik jeruji besi. “Ada calon tersangka lain. Tapi masih proses penyidikan ya,” ujarnya kemarin.
Mantan Kasatreskrim Polres Tuban itu belum mau membuka nama calon tersangka tersebut, meski Dwi Endro Tito SH, pengacara Luluk sudah memberikan nama Bambang dan Notaris Nunik Indah Rini, ikut terlibat dalam penggelapan yang dilakukan kliennya.
Arief juga mengaku, pihaknya belum menerima surat permintaan penangguhan penahanan dari pihak Luluk. Sebelumnya, Tito mengaku akan mengajukan permintaan penangguhan penahanan kliennya, dengan alasan untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai PPAT di Jalan Cengger Ayam Malang. “Belum kami terima suratnya,” kata perwira ini.
Sementara itu, sumber terpercaya Malang Post di Polres Malang Kota mengatakan, selain Bambang dan Nunik, ikut disebut nama Kasi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah (HTPT) Kantor Pertanahan Kota Malang, Suri Hadiyanto. “Faktanya, dia yang memberikan sertifikat tersebut ke tangan pegawainya Luluk, saat disimpan di Kantor Pertanahan Kota Malang. Perbuatannya termasuk dalam turut membantu penggelapan yang dilakukan tersangka,” papar sumber ini.
Sayangnya, disinggung tentang nama-nama calon tersangka lain, Tito enggan memberikan keterangan. “Biar penyidik saja yang menjelaskan masalah itu,” tambahnya. Saat ini, dia mengaku sedang konsen untuk melakukan mediasi perdamaian dengan Andrian Handoko, sebagai pembeli tanah serta pihak ahli waris. “Perdamaian artinya terpenuhinya hak-hak penjual dan pembeli secara musyawarah damai,” ujarnya.
Seperti diketahui, Luluk ditahan di sel Polres Malang Kota, akhir pekan kemarin setelah menjalani pemeriksaan beberapa jam di ruang Pidsus. Dia dianggap terbukti melakukan penggelapan sertifikat tanah nomor 1714 seluas 6.313 m2 Jalan Akordion, yang sekarang dimiliki lima ahli waris Tirah, yakni Condro, Poniti, Lasmini, Suradi dan Laseni, kesemuanya warga Jalan Akordion Malang. (mar)