Keluarga Tolak Diotopsi,Jenazah Diterbangkan ke Mataram

Setelah disemayamkan di tempat persemayaman Gotong Royong, jenazah Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa baru (Maba) ITN Malang, kemarin sore diterbangkan ke tempat tinggal asalnya, Jalan Sakura IV / 17 BTN Sweta Mataram – NTB. Jenazah yang dimasukkan dalam peti, dinaikkan pesawat cargo dari Bandara Juanda – Surabaya. Didampingi dua mahasiswa yang menjadi panitia pelatihan Planologi, Dosen Wali serta Sekretaris Jurusan.
Sementara, keluarga Fikri yang tinggal di Malang, lebih dahulu berangkat ke Mataram pagi harinya. “Pesawat terbang sore sekitar pukul 16.30. Dua mahasiswa yang menjadi panitia, kami minta mendampingi karena mereka yang mengetahui kejadian sampai akhirnya Fikri meninggal,” ungkap Ketua Jurusan Planolgi, Dr Ir Ibnu Sasongko (Dr Ir), ketika ditemui Malang Post  di kamar mayat RSSA Malang, Sabtu malam.
Sebagaimana diberitakan Malang Post kemarin,  Fikri meninggal dunia saat mengikuti pelatihan Planologi di Pantai Goa Cina. Dusun Rowotratih, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Sabtu siang lalu. Pemuda berusia 20 tahun ini, meninggal diduga karena kecapekan setelah mengikuti kegiatan survey pemetaan tanah dengan jalan kaki.
Sebelum dinyatakan meninggal, Fikri semula diketahui tak sadarkan diri. Namun karena sampai setengah jam tidak kunjung siuman, dia lalu dilarikan ke Puskesmas Sitiarjo. Tetapi setiba di Puskesmas, pemuda bertubuh tambun ini sudah dinyatakan tidak bernyawa oleh petugas medis.
Dari hasil pemeriksaan luar jenazah Fikri yang dilakukan Tim Identifikasi Polres Malang, diketahui kalau hidung, mulut serta mata korban mengeluarkan darah. Apa penyebabnya belum diketahui. Pasalnya, pihak keluarga menolak permintaan otopsi dengan membuat surat pernyataan. Keluarga hanya berkenan dilakukan visum luar.
“Semua  kebutuhan administrasi, mulai biaya ambulance, visum luar di kamar mayat RSSA Malang, travel serta pesawat ditanggung oleh ITN. Termasuk tiket pesawat untuk saudara Fikri yang ada di Malang,”  lanjut Ibnu Sasongko.
Elizabeth Catur Yulia, Humas ITN Malang mengatakan, bahwa kegiatan di Pantai Goa Cina adalah pelatihan pengenalan jurusan. Kegiatan tersebut, dilaksanakan setelah pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru (PKKMB). Selama pelatihan mulai Rabu (9/10) lalu, setiap harinya selalu ada pendamping yang bergantian. Mulai dari wakil Dekan, Dekan atau ketua jurusan.“Pelatihan pengenalan jurusan seperti ini, bukan pertama kalinya. Tetapi sudah beberapa kali diadakan setiap tahunnya. Selain pelatihan, juga digelar bakti sosial. Seperti bedah rumah, perbaikan rumah, penanaman tanaman bakau serta pendataan rumah warga. Itu dengan maksud memperkenalkan bagaimana cara untuk mengatur perencanaan wilayah dan mengetahui bagaimana kehidupan masrayakat sesungguhnya,” jelas Elizabeth Catur Yulia.
Dengan kejadian duka yang dialami Fikri tersebut, Yuli sapaan akrab Fikri Dolasmantya Surya ini, mengatakan akan dijadikan sebagai bahan evaluasi, supaya kejadian seperti ini tidak sampai terulang lagi.
Sementara itu, selama menjadi Maba di ITN Malang, Fikri tinggal di rumah Muhammad Nur Hadi, pamannya di Jalan Sembilang VII, Kelurahan Polowijen, Kota Malang. Dia tinggal sementara di rumah pamannya, selama belum mendapatkan tempat kos.
“Dulu saat pertama tinggal di Malang sudah kos, tetapi tidak kerasan akhirnya tinggal di tempat kami sebelum mendapat tempat kos lagi. Sekerang sudah dapat tempat kos, di Jalan Watu Gong Malang, dia sudah berpulang dulu,” ujar Diah Rahmatulla, istri Muhammad Nur Hadi.
Selama tinggal di rumah pamannya, Fikri sama sekali tidak pernah mengeluh sakit. Kalaupun dia sakit, mungkin hanya batuk dan sesak nafas karena kecapekan. “Setahu kami dia sama sekali tidak punya riwayat sakit. Hanya anaknya saja yang memang gemuk,” kata Diah.
Apakah ada firasat ? Diah mengatakan, Selasa (8/10) malam sebelum hari Rabu berangkat mengikuti pelatihan Planologi, Fikri pergi ke Matos untuk membeli kaos warna putih. Alasannya untuk ganti pakaian saat ikut pelatihan. Fikri sendiri juga menyempatkan untuk potong rambut.
“Hari Sabtu (5/10) ibunya (Khusnul Pikyah,red) yang kerja sebagai di Dinas Pertanian, sempat datang ke Malang setelah dari Jogja. Fikri dibelikan magic jar untuk masak nasi serta mangkok. Fikri minta dibelikan warna putih semuanya,” katanya.
Tidak hanya itu saja, Jumat (11/10) sebelum kejadian, kejadian aneh juga dialami Diah. Tiba-tiba kaca cermin di lemarinya tanpa sebab pecah. Dan Sabtu (12/10), salah satu keluarganya yang melakukan wisuda di UM, terlihat sedih. “Padahal seharusnya senang, tetapi saat wisuda itu, semuanya terlihat sedih,” lanjutnya. (agp/nug)