Tangkap Pengedar Uang Palsu

BARANG BUKTI: Tersangka Muhammad Djoenaidi, bersama barang bukti upal di Mapolres Malang.

Tim Buser Polres Malang
MALANG – Tim Buser Polres Malang berhasil menangkap pengedar uang palsu (upal) pecahan Rp 100 ribu, Kamis (17/10/13). Tersangkanya adalah Muhammad Djoenaidi, 41 tahun, warga Jalan Gadang Gg 5 C, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun. Selain dia, petugas juga mengamankan barang bukti berupa upal sebanyak Rp 1,7 juta.
“Kami menangkap Djoenaidi di rumahnya. Barang bukti upal pecahan Rp 100 ribu tersebut, ditemukan dalam lemari rumahnya. Saat ini, kami masih mengembangkan kasusnya karena ada pelaku lain yang belum tertangkap,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP M Aldy Sulaeman.
Mantan Tenaga Pendidik (Gadik) di SPN Brimob Polda Jatim ini mengatakan, penangkapan Djoenaidi merupakan hasil pengembangan dari tertangkapnya Sampur, warga Desa Kemiri, Kecamatan Jabung. Sampur sendiri, adalah tersangka penipuan yang meringkuk di Mapolsek Tirtoyudo sejak awal pekan lalu.
Dia ditahan setelah melakukan penipuan terhadap warga Tirtoyudo, dengan mengaku sebagai orang pintar (dukun) yang bisa menggandakan uang. Ternyata uang yang diberikan kepada para korban adalah upal. Dalam pengakuanya, Sampur mengaku upal tersebut diperoleh dari Djoenaidi. Berangkat dari pengakuannya itulah akhirnya polisi menangkap Djoenaidi.
Sementara Djoenaidi yang kesehariannya berjualan kain keliling, dalam pemeriksaan mangatakan kalau upal tersebut didapat dari Gus Satrio, warga Tambakrejo – Pasuruan. Ia mengaku juga menjadi korban penipuan Gus Satrio.
Ceritanya, bulan Juli 2013 lalu, Djoenaidi datang ke rumah Gus Satrio setelah diajak oleh temannya Daim. Dia datang untuk meminta pertolongan, karena Gus Satrio dikenal orang pintar yang bisa membantu mendatangkan uang. Bapak tiga anak itu terpaksa meminta pertolongannya karena dikejar-kejar hutang sekitar Rp 150 juta.
Syarat untuk bisa mendapat uang sebesar itu, Djoenaidi diminta menyerahkan sejumlah uang. Alasannya uang tersebut untuk anak fakir miskin dan sedekah. “Saya menyerahkan uang secara bertahap. Pertama sebesar Rp 1,8 juta hingga total semuanya sekitar Rp 30 juta,” ujar Djoenaidi.
Setelah sejumlah uang diserahkan, sebulan kemudian Djoenaidi diberi dus berisi uang yang ternyata palsu. Karena merasa tertipu, akhirnya dia meminta pertolongan Sampur untuk penyempurnaan uang. Namun upal tersebut, oleh Sampur malah digunakan menipu, hingga menyeret Sampur serta Djoenaidi ke dalam penjara.
“Dia ini (Djoenaidi, red) kami jerat dengan Undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dan pasal 26 ayat 3 tentang larangan mengedarkan uang palsu dengan ancaman hukuman 15 tahun kurungan penjara,” lanjut M Aldy Sulaeman.(agp/han)