Ajukan Peninjauan Kembali Putusan Pailit PT. DAN

MALANG - Warga perumahan Graha Dewata kembali merapatkan barisan Kemarin, mereka melakukan pertemuan di perumahan tersebut, membahas beberapa hal jika upaya-upaya diluar pengadilan, mengalami jalan buntu atau menemui kegagalan. Salah satunya, bila upaya penyelesaian dengan pejabat BRI Pusat yang akan dilakukan Rabu (23/11) nanti tidak mendapatkan titik temu.
“Warga sudah sepakat akan melakukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung di Jakarta atas putusan pailit PT. Dewata Abdi Nusa (DAN), developer perumahan Graha Dewata. Sebab, kami sudah mengumpulkan bukti-bukti baru yang akan diberikan kepada Mahkamah Agung,” tutur Abdul Azis, salah seorang perwakilan warga. Menurut dia, materi untuk PK tersebut, sudah disusun Gunadi Handoko, SH, MM, M.Hum, kuasa hukum mereka.
‘Ancaman’ tidak hanya itu saja. Warga perumahan juga memutuskan untuk melakukan aksi demonstrasi di Bundaran HI Jakarta, BRI Pusat serta Bank Indonesia Pusat. “Sebab selama ini, warga sudah sangat tidak sabar untuk menyelesaikan masalah rumah yang dimiliki,” sambungnya. Sebagai bukti kekompakan pula, Kamis (24/11), warga wajib mengikuti verifikasi ke Pengadilan Niaga Surabaya.
Hal ini juga dibenarkan Gunadi Handoko. Dikonfirmasi sore kemarin, dia tidak menampik rencana warga yang menjadi kliennya tersebut.  “Selain itu, warga juga akan menyerahkan dugaan gratifikasi pejabat BRI ke KPK dan Kementerian BUMN sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dimiliki,” papar dia. Sedangkan Minggu (27/11) nanti, warga juga akan kembali melakukan rapat dengan Komisi III DPR RI di lingkungan perumahan Graha Dewata.
Seperti pernah diberitakan, warga perumahan Graha Dewata, kembali melakukan unjuk rasa ke kantor BRI Malang Kawi. Mereka tidak hanya datang untuk menagih janji bank tersebut untuk menyelesaikan ‘penyanderaan’ 125 sertifikat, namun mereka juga membawa daftar 19 pejabat BRI yang diindikasikan menerima gratifikasi tanah seluas 7.000 meter persegi dari PT. DAN.
Di bagian lain, Waluyo S Putro, SH, kuasa hukum Direktur PT. DAN, Dewa Putu Raka Wibawa, juga dipolisikan. Menjelang akhir pekan kemarin, dia dilaporkan Budiono, 30 tahun, sesama pengacara yang tinggal di Jalan Sawojajar VII Malang ke Polres Malang Kota. Waluyo yang tinggal di Perum Nirwana Sulfat Malang ini, dianggap menggelapkan BPKB mobil Daihatsu Xenia, 2006, N 997 VA yang dijualnya kepada Budiono.
Informasi yang didapat, Waluyo menjual mobil tersebut seharga Rp 105 juta. Namun, dia hanya meminta uang muka Rp 65 juta, dengan alasan BPKB mobil masih dibawa kakaknya. Korban yang menunggu beberapa hari, mulai curiga. Budiono lantas mencek keberadaan BPKB tersebut, dan dia mendapat informasi bila BPKB itu sudah dijaminkan Waluyo ke Koperasi Artha Mandiri. Merasa tertipu, Budiono pun mempolisikan Waluyo. Kasusnya sendiri masih dalam penyelidikan anggota Satreskrim Polres Malang Kota. (mar)