Ajak Pemuda Indonesia Sadar Berlalu Lintas

Tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu-lintas yang terjadi selama ini, tak lain karena factor human erorr. Emosional pengendara motor dan pengemudi mobil terutama anak muda, saat berada di jalan raya masih sering mengabaikan ketertiban lalu-lintas. Masih banyak para pengguna jalan raya yang belum sadar berlalu lintas.
Untuk menekan angka kecelakaan tersebut, Inspektur Polisi Satu (Iptu) M Fadli Amri, yang kini menjabat sebagai Kaureg Iden Polres Malang ini, terus getol mengajak dan memberikan himbauan kepada masyarakat untuk sadar dan tertib berlalu lintas. Terutama anak-anak muda, yang menjadi harapan dan masa depan Bangsa Indonesia.
“Kasus kecelakaan ini menyumbang angka kematian yang cukup besar di dunia ini termasuk Indonesia. Dan paling banyak korbannya adalah usia produktif antara usia 18 – 30 tahun. Jika kasus ini terus diabaikan, maka akan berimbas pada masa depan Bangsa Indonesia,” ungkap M Fadli Amri.
Perwira Polisi Pertama (Pama) yang berasal dari Tebing Siring – Kalimantan Selatan ini, mengungkapkan banyak factor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di jalan raya. Salah satunya selain karena emosional pengguna jalan, juga karena banyak masyarakat yang belum sadar dengan peraturan serta tata tertib berlalu lintas.
Oleh karena itu, sesuai gagasan program bersama dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menurunkan angka kecelakaan, di Indonesia dibentuk Dekade Aksi Keselamatan Nasional yang bertujuan menurunkan angka kematian akibat kecelakaan. Salah satu program tersebut yaitu dengan terus memberikan sosialiasi dan mengajak masyarakat serta pemuda Indonesia sadar berlalu lintas.
Seperti yang sudah dilakukan Satuan Lalu Lintas Polres Malang dengan mengajak kerjasama Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Yaitu meminta Disdik mengeluarkan surat edaran ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Malang, untuk membuat larangan kepada siswa memakai kendaraan sendiri bagi yang belum memenuhi syarat. Seperti kurang umur atau belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
Setelah surat larangan ke sekolah beredar dan sudah dilakukan sosialiasi, kemudian dilanjutkan dengan melakukan penegakan hukum secara humanis. Yaitu melakukan giat operasi dengan sasaran pelajar sekolah.
“Bagi yang melanggar akan kami berikan teguran. Kalau tidak kami langsung menyita surat kendaraan dengan tujuan supaya orangtuanya datang untuk membuat surat pernyataan agar anaknya tidak lagi membawa kendaraan sendiri. Sebab kita sendiri tidak tahu siapa yang akan menjadi korban kecelakaan. Apakah itu anak muda berprestasi dan pintar yang menjadi harapan bangsa. Dan kalau terus dibiarkan maka potensi ke depan anak muda akan habis,” jelas pria kelahiran 18 Maret 1989 yang juga mantan Kanitlaka Polres Malang ini.(agp)