Hardi Akui Direksi Tidak Pernah Minta RUPS

MALANG - Sidang pemalsuan data autentik yang dilakukan dr. Hardi Soetanto memasuki pemeriksaan terdakwa di PN Kota Malang, kemarin. Dalam pemeriksaan ini pula, diketahui jika direksi PT. Hardlent Medika Husada (HMH) tidak pernah meminta kepada komisaris untuk mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Hal ini dikatakan Hardi, ketika ditanya majelis hakim yang diketuai Eko Wiyono SH, MH. Dia mengaku tidak tahu alasan Direktur Utama PT. Hardlent Medika Husada (HMH), DR. FM Valentina, SH, M.Hum enggan melakukan RUPS.
“Selama ini, direksi memang tidak pernah meminta RUPS. Kami sebagai komisaris, terpaksa melakukan RUPSLB karena Valent (panggilan Valentina) tidak pernah mau saya minta untuk melakukan RUPS,” ungkap pria ini. Bahkan ketika dia menanyakan tentang dividen, mantan istrinya ini selalu mengatakan bila uang PT. HMH masih diputar. “Sebab itu, direktur-direktur saya, hingga sekarang tidak bisa bekerja karena Valent tidak pernah menyerahkan surat-surat PT. HMH,” lanjutnya.
Diakui Hardi, pihaknya sudah tiga kali melayangkan somasi kepada Valent setelah muncul putusan dari Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya yang mengabulkan banding putusan PN Kota Malang tentang gugatan nomor 71//Pdt.G/2012/PN Malang yang mengatakan bahwa Lisa Megawati dan Hardi Soetanto bukan komisaris PT. HMH. Meskipun kuasa hukumnya, Sudiman Sidabukke, SH, mengatakan putusan PT Surabaya ini belum incracht atau memiliki kekuatan hukum tetap.
Kepada hakim, Hardi juga mengaku sudah memberikan bukti setor melalui Lisa Megawati dan disimpan di Bank Bersaudara Jaya. “Saya setor kepada bu Lisa untuk membuktikan bahwa saya juga punya uang. Memang bu Lisa yang sejak awal memberikan modal untuk pembelian alat-alat, ambulance dan sebagainya,” terangnya. Dikonfirmasi perihal pengakuan tersebut, Sutrisno, SH, kuasa hukum Valent membantahnya.  “Bukti setor Lisa itu adalah bukti kredit yang telah lunas. Direksi juga tidak pernah RUPS karena Lisa dan Hardi tidak memiliki bukti setor. Klien saya tidak tahu menahu tentang tiga kali RUPS yang juga mengangkat Ismail Modal, SH sebagai salah satu direktur,” terangnya.
Terkait ambulance yang sempat disebut, dikatakan dia, dibeli oleh Valent setelah menjual mobil Civic Wonder LX yang ‘dibankkan’ Hardi di Bank Antar Daerah Jalan Basuki Rahmad Malang untuk pembayaran utang Hardi dengan Shinta, istri pertamanya. “Jadi, untuk membesarkan perusahaan G&G menjadi PT. HMH, klien saya harus membayar Lisa Rp 400 juta, satu ruko Jalan Galunggung dan satu rumah di PBI karena overdraft. Sedangkan terkait RUPSLB, klien saya juga tidak pernah diundang,” pungkas Sutrisno. (mar)