Ibu Dua Anak Edarkan Sabu

Petugas menunjukan barang bukti narkotika milik Endri Rodiana.

KEPANJEN – Ironis, hanya karena butuh tambahan uang, seorang ibu dua anak asal Kecamatan Kepanjen, nekat terjun ke dunia hitam. Endri Rodiana, warga Jalan Regulo, Kelurahan Cokoliyo, Kecamatan Kepanjen ini, menjadi pengedar narkotika jenis sabu-sabu (SS). Akibat bisnis haramnya itu, dia pun harus meringkuk di balik rutan Mapolres Malang sejak akhir pekan lalu.
Wanita berusia 32 tahun tersebut, ditangkap petugas di rumahnya. Dari tangan dia petugas mengamankan barang bukti berupa lima poket SS, dua skrup serta 39 plastik transparan yang disimpan dalam dompet.
“Saya jualan SS ini atas inisiatif sendiri. Terpaksa saya melakukannya, karena untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari,” tutur Endri Rodiana sembari menundukkan kepala.
Menurut dia, sabu-sabu yang dimilikinya tersebut dipasok dari seseorang warga Pandaan, yang sebelumnya dikenal di pinggir jalan. Setiap setengah gram SS, dibeli dengan harga Rp 1 juta. Kemudian poketan SS tersebut, dijadikan beberapa poket yang selanjutnya dijual lagi seharga Rp 200 ribu.
“Saya belum lama mengedarkan SS tersebut. Baru sekitar tiga bulan ini, dan untuk pasokan SS sendiri, memang sudah sering serta saya jual kepada yang kenal saja,” ujarnya.
Sementara, tertangkapnya Endri sebagai pengedar SS ini, bermula dari tertangkapnya Nanang Ari Setiawan alias Sali, 30 tahun, warga Dusun Salamrejo, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo. Sali ditangkap di pinggir Jalan Katu Kepanjen, sesuai membeli sabu-sabu.
Dari tangannya polisi menemukan tiga poket SS yang dimasukkan dalam saku celana. Ketika diperiksa, Sali yang merupakan salah satu karyawan café di sekitar Stadion Kanjuruhan Kepanjen ini, mengaku mendapatkan SS dari Endri. Berdasarkan pengakuanya itulah, polisi lalu memburu Endri di rumahnya.
“Saya membeli SS kepada Endri, sudah dua kali ini. SS yang saya beli itu untuk dipakai sendiri di tempat kos. Saya sendiri mengenal Endri dari suaminya,” tutur tersangka Sali.
Kasatreskoba Polres Malang, AKP Samsul Hidayat mengatakan bahwa pihaknya akan terus melibas semua narkotika di Kabupaten Malang. Dia juga akan mengembangkan kasus narkotika tersebut, sampai menemukan pemasoknya. “Untuk kedua tersangka kami jerat dengan pasal 112 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun kurungan penjara,” tegas mantan Kanitreskrim Polsek Singisari ini.(agp/aim)