Petunjuk dari Lokal Boy

BONGKAR: Petugas menunjukkan linggis yang dipakai untuk membongkar brankas.

MALANG - Prnangkapan terhadap enam anggota kelompok Ambon, spesialias pencurian dan perampokan uang dalam brankas, tidak lepas dari penyelidikan panjang yang dilakukan anggota Satreskrim Polres Malang Kota (baca Penangkapan Pembobol Brankas di Halaman 1).  Sejak peristiwa pencurian uang brankas di Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang di Jalan Veteran, beberapa anggota reserse mengumpulkan informasi hingga keluar kota. Berbekal data wajah pelaku yang terekam Closed-Circuit Television (CCTV), mereka mencari identitas para pelaku yang diduga asal luar Malang.
Hal ini dibenarkan Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto, SH, SIK. Saat gelar pengungkapan kelompok Ambon, kemarin. Kedatangan kelompok ini melalui bandara Juanda Surabaya, Jumat (15/11) lalu akhinya tercium petugas. “Anggota kami yang sudah mendapatkan data identitas para pelaku, mulai mengintai komplotan ini,” paparnya. Selama beberapa hari, anak buahnya diminta untuk mengawasi sebuah hotel di Jalan Kalpataru Malang yang menjadi base camp kelompok ini dan salah satu rumah kos yang ada di  daerah Perumahan Griyashanta Malang.
Rumah kos itu, ditempati oleh Ibrahim Lestaluhu, salah satu tersangka. Menurut Arief, pola kerja kelompok ini selalu memanfaatkan orang-orang yang berada di wilayah calon jarahannya. “Mereka memiliki anggota yang tersebar di kota-kota lain untuk memberikan petunjuk kantor atau instansi mana yang akan menjadi sasarannya,” tambah Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan, SH. Sumber Malang Post di lingkungan Polres Malang Kota, pemberi informasi tersebut diberi nama Lokal Boy. Tugasnya pun tidak hanya itu. Lokal Boy juga menyediakan kendaraan yang akan digunakan dan hotel untuk menginap.
“Dari pemberi petunjuk inilah, anggota komplotan itu lantas datang bersama-sama. Bahkan, mereka juga naik pesawat,” papar Dwiko. Dari hasil membobol brankas, masing-masing mendapat jatah yang sama. Dia mencontohkan kejadian di Kampus Unitri, delapan pelaku mendapat bagian masing-masing Rp 15 juta. “Sedangkan sisanya dibawa satu pelaku yang sekarang masih kabur,” terangnya. Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang, AKP M Aldy Sulaeman menegaskan, pihaknya masih mengembangkan penyedikan terhadap jaringan kelompok nasional ini.
Menurut dia, sementara ini baru tiga TKP di wilayah Kabupaten Malang yang diakui dua anggota kelompok Ambon,, Zulkifli, 37 tahun, warga Desa/Kecamatan Batu Merah, Maluku Tengah dan Kristian Rajasa, 38 tahun, warga Gorontalo. Yakni kantor Dinas Pengairan Kabupaten Malang, Radio Kanjuruhan FM dan kantor UPTD Bina Marga Jawa Timur. “Saya baru dua kali ini beraksi bersama mereka. Pertama Jumat (15/11) malam lalu di lokasi yang seperti sekolah (kantor) dan yang kedua tadi malam (di Batu),” ujar Zulkifli. Selama beraksi, dia mengaku tidak membawa senjata.
“Namun untuk perlengkapan atau berjaga-jaga, saya membawa golok dari beli di pasar,” tambahnya. Yang menarik, dia selalu beraksi dengan enam atau tujuh temannya yang lain. “Kalau di Malang, saya baru dua kali. Tapi pernah melakukan aksi serupa di Lombok, Bali dan Surabaya. Khusus Surabaya, brankas yang kami ambil kosong,” ujarnya. (sit/mar)