Belum Temukan Bukti, Polisi Janji Usut Tuntas

AKSI ratusan warga sendiri baru mulai kondusif, setelah kedatangan rombongan petugas dari Polres Malang sekitar pukul 14.30. Pihak Polres Malang yang datang diwakili Kasatreskrim AKP Muhammad Aldy Sulaeman SIK, Kabag Ops Kompol Imam Rofik, Kasat Intel AKP Suwoco, Kasat Binmas AKP Supari, Kasat Sabhara AKP Ainun Djariah, Kanit Provos, Kapolsek Wagir AKP Nuryono, Camat Wagir Drs Firmando H Matondang, serta ratusan personil Sabhara, Intel dan Reskrim diturunkan.
Bahkan, satu tim petugas K-9 Brimob Ampeldento Pakis juga diterjunkan untuk mengantisipasi kericuhan. Selanjutnya sekitar 25 perwakilan warga dan keluarga diundang untuk musyawarah di lantai dua Balai Desa Dalisodo Wagir. Selama pemaparan perkembangan penyelidikan kasus, polisi disebar untuk mengawasi lokasi sekitar.
Dalam pemaparan itu, Kanit Idik III Ipda Anton Widodo, yang menangani perkara kasus kematian Yaona, menjelaskan kronologisnya mulai dari awal ada laporan dari Kepala Desa Dalisodo Narto alias Wareng, tentang penemuan mayat wanita di dasar jurang pada 10 November 2013, hingga penyelidikan yang dilakukannya saat ini.
Selama melakukan pemeriksaan, polisi juga memintakan tes DNA ke Pusdokes Mabes Polri untuk mengungkap identitas jenazah pada 13 November. Polisi juga memintakan visum et repertum di RSSA Malang. Hasil visum sesuai yang disampaikan dr Tasmonoheni SpF, dinyatakan bahwa didapatkan patah tulang cabang atas tulang kemaluan kiri dan bekas memar di dahu kiri akibat benturan benda tumpul. Tetapi untuk sebab kematian tidak diketahui, karena kondisi jenazah sudah membusuk dan tidak utuh, serta terlalu lama.
“Dari hasil visum ini, menyimpulkan bahwa penyebab kematian tidak diketahui. Dan sesuai pasal 183 KUHAP, untuk menjadikan seseorang menjadi tersangka harus ada dua alat bukti yang sah. Dan kami sendiri baru satu alat bukti saja, yaitu keterangan saksi. Hasil visum keterangan ahli yang sedianya akan kami jadikan sebagai alat bukti, ternyata tidak bisa,” terang Anton.
AKP Muhammad Aldy Sulaeman menambahkan, selama ini penyidik Reskrim Polres Malang sudah berusaha dan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini. Pasalnya kasus dugaan pembunuhan ini, menjadi atensi khusus yang harus segera dituntaskan. Bahkan, sampai saat ini polisi masih terus melakukan pendalaman penyelidikan.
“Dari pertemuan ini, kalau memang ada yang kurang dari penyelidikan, kami minta dikoreksi. Kalaupun ada temuan baru dan keterangan baru dari saksi warga atau keluarga yang mengetahui sekecil apapun informasi sangat kami butuhkan untuk tambahan penyelidikan. Percayakan kepada kami, bahwa polisi akan terus bekerja keras untuk menyelidikan, jadi jangan sampai ada yang melakukan anarkis,” jelas Aldy.
Tentang isu bahwa Rabut dipulangkan ? Mantan tenaga pendidik (Gadik) SPN Brimob Polda Jatim mengatakan, bahwa Rabut bukan dipulangkan, karena dia memang tidak ditahan. Sebab waktu polisi untuk menentukan apakah seseorang bersalah dan menjadi tersangka adalah 1 x 24 jam. Dan selama ini, Rabut masih berada di Polres Malang untuk mengamankan diri.
“Ingat kasus ini tidak dihentikan. Tetapi proses penyelidikan masih terus berlanjut. Karena kami tidak ingin kasus Ryan di Jombang terjadi di Malang. Untuk menentukan tersangka kami harus membutuhkan dua alat bukti. Dan kami berjanji akan membuktikan semaksimal mungkin untuk mengetahui penyebab kematian Yaona,” paparnya.(agp/aim)