Tuntut Keadilan Kematian Yaona, Warga Sandera Muspides

WAGIR – Ratusan warga Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, kemarin mendatangi Balai Desa Dalisodo. Mereka berunjukrasa menuntut keadilan atas kematian Yaona Miatisari, 23 tahun, warga Dusun Sengon. Sampai 23 hari melakukan penyelidikan kasus dugaan pembunuhan ini, Polres Malang yang menangani perkaranya belum bisa menetapkan tersangka.
Seperti diketahui, Ona, sapaan akrab Yaona Miatisari ini, setelah hilang selama 44 hari, jasad Ona ditemukan dasar jurang di Dusun Sengon, Desa Dalisodo. Saat diketemukan mayat dalam kondisi membusuk dan bebarapa bagian tubuhnya lepas dan hilang. Dugaan warga saat itu adalah mayat korban mutilasi.
Dalam aksinya selain berorasi, warga yang semula tidak percaya dengan hukum juga menyampaikan kekecewaan lewat tulisan. Diantaranya, “Pak Lurah ga usah duwe pamong”. “Dimana jalan keadilan serta kami butuh keadilan”. Tidak hanya itu, warga juga menurunkan bendera di Balai Desa Dalisodo menjadi setengah tiang sebagai tanda berduka. Mereka juga memasang foto Yaona di dinding balai desa.
“Kami hanya meminta keadilan. Selain itu kami juga ingin mengetahui seperti apa hasil visum di rumah sakit. Apalagi kami mendengar bahwa Rabut (Andi Rabut Cahyo terduga pelaku pembunuhan) juga dibebaskan dan dipulangkan. Warga sama sekali tidak terima, karena ingin mengetahui kejelasan statusnya,” papar Budi Karyono, yang dibenarkan warga lainnya.
Sebelum melakukan aksi, warga s mendengar isu bahwa Rabut dilepaskan. Warga menduga bahwa kematian Yaona berkaitan dengan Rabut. Pasalnya, kali terakhir yang bertemu dengan Ona adalah Rabut dan itu dipergoki oleh beberapa warga.
“Track record Rabut ini sudah buruk di masyarakat. Selama ini dia sudah mengotori desa. Pasalnya, dia juga pernah menghamili beberapa warga di sekitar. Dan dengan kasus kematian Ona ini, kami menuntut keadilan supaya Rabut dihukum,” ujarnya.
Sunaryadi, warga lainnya juga mengatakan sama. Dia bersama-sama dengan warga ingin mengetahui seperti apa perkembangan kasusnya. Warga meminta bahwa Rabut yang terduga sebagai pelakunya dihukum. Ketidakterimaan warga karena selain Rabut memiliki track record buruk, Ona yang diduga dibunuh ini dalam keadaan hamil 4 bulan.
“Warga sekitar sudah mengetahui kalau saat meninggal itu Ona sedang hamil. Dan yang menghamilinya adalah Rabut. Tuntutan warga hanya ingin tahu siapa yang terakhir membawa Ona ke ladang, lalu seperti apa perkembangan kasusnya dan kenapa Rabut tidak ditahan,” tutur Sunaryadi, yang juga diamini oleh Prayitno Subekti, salah satu keluarga Ona.
Sementara itu, suasana unjukrasa kemarin sempat memanas. Warga yang terpancing emosi berusaha masuk dan menduduki balai desa. Itu terjadi setelah sekitar dua jam, dijanjikan bahwa pihak Polres Malang akan datang tidak kunjung datang. Bahkan warga sempat mengancam akan menyerbu Polsek Wagir serta berbuat onar jika tidak kunjung datang.
Namun berkat kedatangan beberapa tokoh yang bisa meredam, warga membatalkan niatannya. Tetapi sebagai jaminan supaya pihak Polres Malang, warga menyandera perangkat desa, Babinkamtibmas Polsek Wagir Aiptu Purnomo serta beberapa anggota Koramil Wagir untuk tidak meninggalkan lokasi. Mereka dimasukkan ke dalam balai desa, lalu dikunci dari luar oleh warga.(agp/aim)