Minibus Pengantin Masuk Jurang, Sopir Tewas

MALANG POST – Minibus yang mengangkut rombongan pengantin pria asal Banyumas, Jawa Tengah, masuk jurang sedalam 200 meter di Kampung Cisandaan Desa Pananjung Pamulihan, Garut, Jawa Barat, Minggu 8 Desember 2013. Kecelakaan itu terjadi 100 kilometer sebelum lokasi pernikahan di Rancabuaya, Garut.
Sebanyak 16 penumpang minibus terluka, sedangkan sang sopir yang berusia 25 tahun, Asep, hanyut terbawa arus air sungai di dasar jurang. “Sopir yang hilang itu sudah ditemukan dalam kondisi tewas,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Garut AKP Bariu Bawana, kemarin.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara aparat Satlantas Polres Garut, kecelakaan itu diduga terjadi karena rem blong. Sopir juga diduga tidak menguasai medan jalur yang terhitung curam. “Jalanan berliku, banyak tanjakan, lalu menurun tajam. Di kanan-kiri jalan terdapat jurang hingga kedalaman ratusan meter,” ujar Bariu.
Lima di antara penumpang minibus tersebut adalah anak-anak. Sang pengantin pria, Yuli Eko Prasetyo yang berusia 26 tahun, menderita luka berat dan harus dirawat di rumah sakit. Ia tergolek tak sadarkan diri di RSUD dr. Slamet Garut. Sementara para penumpang lainnya menderita luka ringan dan sudah dirawat di Puskesmas Cikajang Garut.
Sedangkan bangkai minibus nahas sampai saat ini belum berhasil dievakuasi karena kondisi jurang yang amat curam. Petugas masih harus mendatangkan kendaraan derek lain.
Warga di sekitar lokasi kecelakaan yang menjadi saksi mata peristiwa nahas itu mengatakan, minibus rombongan pengantin dari Banyumas, Jawa Tengah, yang hendak ke Rancabuaya Garut itu tiba-tiba hilang kendali saat melewati turunan tajam di Cisandaan. Para korban menduga minibus yang mereka tumpangi mengalami rem blong.
Falahi (28), warga setempat, mengaku tidak heran saat minibus rombongan pengantin asal Banyumas Jawa Tengah mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Halimun tersebut atau tepatnya di Kampung Cisandaan, Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan, Garut. Sejauh yang ia tahu, kejadian serupa terjadi 10 kali. "Sebelas kali dengan kejadian itu. Lokasi itu biasa disebut tanjakan penganten," katanya kepada wartawan, kemarin.
Disebut tanjakan karena lokasinya merupakan tebing. Kontur jalannya naik turun. Kata 'penganten' disematkan karena rombongan pengantin sering mengalami kecelakaan di tempat tersebut. (jpnn/udi)