Kepolisian Mulai Gelar Perkara

KESERIUSAN Polres Malang, mengungkap kematian Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa ITN Malang, yang diduga meninggal dunia secara tidak wajar, pada 12 Oktober lalu, benar-benar dibuktikan.
Pagi ini, rencananya penyidik Reskrim Polres Malang, akan gelar perkara kasus meninggalnya pemuda warga Jalan Sakura IV /17 BTN Sweta Mataram, NTB tersebut.
‘’Besok pagi pukul 08.00 (hari ini, Red.) Kapolsek Sumbermanjing Wetan beserta Kanitreskrim dan penyidiknya, kami undang untuk gelar perkara. Karena saat kejadian kematian korban dulu, yang menangani adalah Polsek Sumbermanjing Wetan. Setelah gelar perkara, kasusnya langsung kami ambil alih,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman, SIK.
Gelar perkara itu, tambah dia, untuk mengetahui sejauh mana penyelidikan kasus kematian Fikri. Terlebih-lebih, ketika kejadian itu, tak ada satupun mahasiswa baru teman Fikri, mau bersaksi.
Selain itu, beberapa mahasiswa senior serta dosen pendamping, memberikan keterangan, Fikri meninggal dunia karena kecapekan dan dehidrasi.
Langkah awal untuk mengungkap kebenaran kematian Fikri ini, polisi akan mencari saksi teman korban yang memiliki dokumen foto, yang menggambarkan kekerasan. Polisi ingin membuktikan dari kebenaran foto tersebut. Bahkan polisi juga berjanji akan melindungi kesaksian teman- teman Fikri.
Jika memang kematian Fikri karena dianiaya, apakah akan ada upaya bongkar mayat untuk otopsi? Aldy mengatakan, hal itu pasti akan dilakukan. Tetapi semuanya tergantung dari pihak keluarga Fikri. Apakah mengizinkan makam Fikri dibongkar atau tidak.
Sekalipun pihak keluarga mengizinkan, polisi tidak menjamin apakah hasil otopsi nantinya, bisa menyimpulkan penyebab kematian Fikri. Pasalnya dalam waktu yang hampir dua bulan ini, mayat Fikri bisa dipastikan sudah tinggal tengkorak.
‘’Kecuali kalau korban diracun, meski tinggal tengkorak bisa diketahui penyebabnya. Atau korban dipukul dan menyebabkan tulang tengkoraknya retak, itu masih bisa. Tetapi kalau hanya memar sulit untuk membuktikannya. Tapi bagaimanapun kalau memang diizinkan keluarga, pasti akan bongkar mayat,’’ terang Aldy.
Mantan tenaga pendidik (Gadik) SPN Brimob Polda Jatim ini menambahkan, jika nanti penyebab kematian Fikri tidak bisa ditemukan, masih ada korban lainnya yang juga menjadi korban kekerasan Fendem.
‘’Selain itu, melihat foto-fotonya, juga terlihat seperti ada pelecehan seksual terhadap mahasiswi baru. Yang jelas, kasus ini akan kami tangani serius karena kasusnya sudah ramai,’’ paparnya.
Seperti diketahui, dua bulan sejak kematian Fikri saat mengikuti pelatihan Planologi mahasiswa baru (Maba), di Pantai Goa Cina, Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, meninggalkan kejanggalan.
Kematian warga, Jalan Sakura IV /17 BTN Sweta Mataram, NTB ini, dianggap tidak wajar.
Ada dugaan, Fikri, menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa seniornya saat orientasi siswa baru.  Menurut rekan Fikri, pernyataan Fikri yang akan melindungi teman-temannya dari kekerasan Fendem itulah yang membuat Fendem semakin brutal.
Saat itu juga Para Fendem mengamankan Fikri ke dalam tenda. Para Mahasiswa peserta KBD dipaksa untuk membelakangi para Fendem dan hanya terdengar suara erangan kesakitan Fikri.
Kejanggalan kematian Fikri inipun, tak urung menggemparkan beberapa mahasiswa ITN dan sebagian diantaranya ikut mengunduh beritanya yang menyebar di beberapa situs online seperti SeputarMalang.com dan voa-islam.com.
Bahkan, di situs tersebut, juga ditampilkan beberapa gambar adegan kekerasan, yang diduga dilakukan Fendem terhadap mahasiswa baru, termasuk Fikri, sekaligus kronologi kejadian selama Orentasi Kemah Bakti Desa (KBD) dan Temu Akrab di tempat tersebut. (agp/avi)