Bentuk Tim Ungkap Kematian Mahasiswa ITN

MENGADU: Kasatreskrim, AKP M Aldy Sulaeman saat menerima perwakilan dari Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan Lombok, di ruang Reskrim Polres Malang.

KEPANJEN – Polisi, benar-benar serius untuk mengungkap meninggalnya mahasiswa ITN, Fikri Dolasmantya Surya, 19 tahun. Kemarin, setelah gelar perkara, penyidik akan membentuk tim khusus, untuk menyelidiki meninggalnya Fikri, yang diduga akibat kena plonco mahasiswa senior (Fendem), pada 12 Oktober lalu di Goa Cina, Dusun Rowotrateh, Desa Sitiarjo, Sumawe.
Bahkan gelar perkara di Mapolres Malang itu, dihadiri jajaran secara lengkap. Melibatkan Kanit (Kepala Unit) Reskrim Polres Malang dan Kanitreskrim Polsek Sumbermanjing Wetan (Sumawe), berikut Kapolsek serta Kabag Humas dan KBO Reskrim Polres Malang.
Beberapa poin yang dihasilkan dalam gelar perkara itu, diantaranya mengenai pembentukan tim khusus Fikri yang beranggotakan penyidik Polres Malang dan Kanitreskrim Polsek Sumawe.
Sasaran dari pengembangan penyelidikan, yakni mengungkapkan kemungkinan tindak pidana atau murni lain-lain, yang menjadi penyebab meninggalnya mahasiswa asal Mataram itu.
Sementara untuk mengetahui kejadian itu, beberapa saksi disiapkan untuk mengungkapkan peristiwa sesungguhnya. Diantaranya, seperti siapa yang mengantar korban menuju ke tenda, ketua panitia (Putra Arif Budi Santoso), tenaga medis di peristiwa itu, komite acara hingga pada saksi ahli kedokteran.
‘’Tim akan melakukan pemeriksaan berdasarkan laporan Ketua Panitia yang menjelaskan ada korban meninggal dunia pada kejadian 12 Oktober lalu. Jadi, sasaran dari pemeriksaan adalah dasar laporan Ketua Panitia,’’ kata Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ni Nyoman Sri.
Kasatreskrim Polres Malang, AKP M Aldy Sulaeman, dikonfirmasi terpisah mengungkapkan, tim yang sudah dibentuk itu akan langsung turun ke lapangan. Tim itu adalah satu dari empat unit di Reskrim Polres Malang.
‘’Cukup satu tim yang nantinya dilibatkan oleh Reskrim Polres Malang. Jika membutuhkan bantuan, baru akan koordinasi dengan Polsek Sumawe. Tim inilah yang nanti akan mengklarifikasi kejadian itu. Apakah benar ada unsur pidana atau bagaimana. Termasuk, pelimpahan pemeriksaan dari Polsek Sumawe ke Polres Malang,’’ ujarnya.
Apalagi, kata Aldy, untuk meningkatkan pemeriksaan dari penyelidikan ke penyidikan, perlu dua alat bukti. Sementara dari pemeriksaan yang sudah dilakukan di Polsek, baru didapat satu alat bukti. Yakni keterangan tenaga medis hingga panitia pelaksanaan. Sementara hasil visum atau otopsi, tidak bisa dilakukan, setelah keluarga Fikri menolak.
‘’Kami akan mencari bukti lain dari kejadian itu. Salah satunya, memastikan dari kebenaran foto-foto yang sudah beredar. Sejauh ini, belum ada yang bersedia bersaksi, kalau foto-foto itu benar saat pelaksanaan kegiatan di Goa Cina,’’ tambahnya.
Apakah ada kemungkinan petugas mendatangi lokasi kejadian untuk mencocokan foto? Aldy menjelaskan, kemungkinan itu akan dilakukan. Apalagi sejauh ini, petugas belum turun ke lokasi seperti yang terlihat dalam foto. ‘’Ini nanti akan koordinasi dengan Polsek,’’ tambahnya.
Ketika tengah mempersiapkan tim, petang kemarin, polisi kedatangan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan (AMAK) Lombok. Kedatangan sejumlah mahasiswa itu, untuk melaporkan tindak dugaan pidana dalam meninggalnya Fikri.
‘’Bagaimana kronologi kejadiannya, kami tahu. Termasuk, mengenai foto-foto yang beredar tersebut,’’ kata Koordinator Lapangan, Farid Romdhoni.
Polisi sendiri mengaku senang dengan kedatangan AMAK. Apalagi, AMAK berjanji akan membawa saksi. ‘’Rencananya besok (hari ini, Red.) mereka akan datang lagi untuk membawa saksi-saksi yang dimaksud,’’ terang Kasatreskrim.
Sementara itu Kanitreskrim Polsek Sumawe, Iptu Sobikin, mengaku belum bisa memastikan, apakah kejadian itu benar dilakukan selama pelatihan atau bukan.
‘’Setahu saya, mereka itu berinteraksi dengan masyarakat. Tapi entah juga, kalau malamnya kemudian melakukan kegiatan yang di luar pelatihan. Biasanya, kekecil apapun kejadian di masyarakat, warga yang tahu cepat berkembang atau diketahui orang banyak,’’ paparnya.
Terpisah, ITN Malang, tak tinggal diam dengan tudingan adanya tindakan asusila yang informasinya menyebar di dunia maya. Saat ini tim ITN Malang akan mencari data dan bukti, yang menunjukkan bahwa beberapa foto yang tersebar itu, bukan foto kegiatan mahasiswa Planologi yang sedang melaksanakan kegiatan pengenalan jurusan di Pantai Goa Cina, Dusun Rowotratih, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Kepada Malang Post, Humas ITN Malang, Elizabeth Catur Yulia menuturkan, dalam waktu dekat ITN akan siap membeberkan temuan mereka tersebut.
‘’Kami akan coba dalami untuk mempertegas bahwa beberapa foto yang tersebar di internet itu adalah bohong, dan dalam waktu dekat akan kami beberkan ke media,’’ ungkapnya.
Yuli panggilan akrab Elizabeth Catur Yulia menegaskan, ITN juga akan berupaya meluruskan informasi yang tidak benar, terkait tindakan asusila selama kegiatan.
Dia menyebut, sama sekali tidak ada tindakan asusila. Apalagi dalam kegiatan itu, setiap hari selalu ada pendamping yang bergantian. Mulai dari wakil Dekan, Dekan atau ketua jurusan.
Pelatihan pengenalan jurusan seperti ini, bukan pertama kalinya. Tetapi sudah beberapa kali diadakan setiap tahunnya. Selain pelatihan, juga digelar bakti sosial. Seperti bedah rumah, perbaikan rumah, penanaman tanaman bakau serta pendataan rumah warga.
Rangkaian kegiatan itu, katanya, dilakukan dengan maksud memperkenalkan bagaimana cara untuk mengatur perencanaan wilayah dan mengetahui bagaimana kehidupan masrayakat sesungguhnya
Seperti diberitakan di Malang Post, Fikri meninggal dunia saat mengikuti pelatihan Planologi di Pantai Goa Cina. Dusun Rowotratih, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pemuda berusia 20 tahun ini, meninggal diduga karena kecapekan setelah mengikuti kegiatan survey pemetaan tanah dengan jalan kaki.
Kegiatan di Pantai Goa Cina adalah pelatihan pengenalan jurusan. Kegiatan tersebut, dilaksanakan setelah pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru (PKKMB).
Disinggung tentang komunikasi dengan keluarga, menurut Yuli komunikasi sudah dijalin oleh wakil rektor 3 bidang kemahasiswaan, I Wayan Mundra. Dan pada intinya pihak keluarga juga ikhlas menerima musibah tersebut. (oci/sit/avi)