Ketua Panitia Disanksi, Kajur Dicopot

MALANG - ITN Malang mengakui adanya indikasi terjadinya penyimpangan pada pelaksanaan pengenalan jurusan mahasiswa baru (PJMB) di jurusan Planologi, Oktober lalu. Akibatnya salah satu mahasiswa baru, Fikri Dolasmantya Surya meninggal dunia karena kelalaian panitia.
Pelanggaran yang dilakukan itu diantaranya lamanya waktu pelaksanaan PJMB yang harusnya hanya dua hari menjadi lima hari serta lokasi kegiatan yang jauh dari kampus.
‘’Kasus ini terjadi akibat kegiatan yang panjang, sehingga peserta lelah dan sakit. Buntutnya sampai ada yang meninggal dunia,’’ ucap Rektor ITN Malang, Soeparno Djiwo MT kepada Malang Post.
Ia menegaskan, kegiatan PJMB sudah diatur tegas dalam pedoman pelaksanaan, yang seharusnya dipahami semua panitia. Kegiatan ini bersifat mendidik dan membangun kebersamaan tanpa ada perploncoan. PJMB Planologi dilaksanakan 9-13 Oktober lalu, yang seharusnya hanya dilakukan 12-13 Oktober.
‘’Ketua Panitia sudah kami beri sanksi skorsing. Sementara ketua jurusan dan dosen yang bertanggung jawab, akan kami beri sanksi. Salah satunya dengan mencopot jabatan ketua jurusannya,’’ ungkap Soeparno Djiwo.
Namun alumnus ITN tahun 1980 membantah, jika kematian Fikri karena adanya kekerasan dari panitia. Yang terjadi adalah kelalaian saja. Sejak awal pendaftaran kegiatan, panitia sudah melakukan pendataan mengenai riwayat kesehatan peserta. Fikri tidak pernah melaporkan bahwa dirinya sedang dalam keadaan sakit atau punya riwayat sakit.
Hanya saja selama pelaksanaan kegiatan, Fikri terhitung lima kali melapor ke petugas kesehatan dari mahasiswa bahwa ia sakit. Baik sakit kakinya, pusing atau keluhan ringan lainnya.
‘’Sebenarnya waktu kegiatan terakhir, yaitu pemetaan jalan untuk pelepasan tukik itu, Fikri tidak termasuk tim pemetaan. Tapi dia dengan sukarela mendaftar,’’ jelasnya.
Pria asal Tarakan Kalimantan ini menegaskan, pihaknya tak akan menutup informasi jika pihak berwajib ingin mendalami kasus tersebut. Karena itu ITN akan bersikap kooperatif demi menjawab kegelisahan di masyarakat. Hanya saja ia memastikan tidak ada unsur kekerasan maupun pelecehan seksual yang terjadi dalam kegiatan di Pantai Goa Cina itu.
Dalam kesempatan tersebut, Hilmy, mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang juga membeberkan, ada banyak kejanggalan pada informasi awal yang tersebar di internet. ‘’Ada foto yang sengaja ditambahkan oleh pemasang, sehingga seolah ada pelecehan seksual,’’ ucapnya.
Salah satu foto yang berhasil dideteksi adalah gambar pria bercelana pendek yang duduk diatas wanita. Gambar itu jika diteliti detil diupload pada tahun 2012 sementara kegiatan PJMB dilaksanakan tahun 2013. Sementara gambar lainnya ada yang memang kegiatan di lokasi PJMB namun direkayasa captionnya.
‘’Sebenarnya gambar almarhum Fikri yang seolah merangkak itu bukan merangkak, tapi sedang jongkok di pos pemberhentian. Kami punya foto aslinya,’’ kata Sekretaris Jurusan, Arief Setyawan.
Gambar lainnya adalah kegiatan yang seolah ada aksi tendang menendang, menurutnya itu adalah sesi santai berjoget dimana peserta satu dan yang lain saling mengangkat kakinya.
‘’Kenapa kegiatan kami gelar lebih lama karena kami ada kegiatan konservasi alam dengan DKP Kabupaten Malang,’’ bebernya.
Arief mengaku heran karena foto-foto pribadi panitia itu tiba-tiba menyebar di media massa. Namun ia memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan sama sekali tidak berbau plonco.
Terpisah, anggota DPR RI dari Dapil NTB, Lalu Mara Satriawangsa mengutuk keras kejadian yang mencabut nyawa putra daerah Mataram itu. Dia kecewa, adanya kesan ITN menutup-nutupi kematian Fikri. Padahal, kejadiannya sudah Oktober lalu.
Lalu Mara tak bisa menutup mata terkait tragedi ini. Apalagi, dirinya adalah anggota DPR-RI dari dapil NTB, provinsi yang menaungi Mataram, Lombok. Keluarga Fikri pun meminta bantuan Lalu Mara agar kasus bisa teradvokasi dengan baik dan berakhir baik bagi pihak yang peduli dengan Fikri.
‘’Saya sudah kontak dengan orang tua korban. Ibu Fikri menghubungi saya beberapa kali sambil terus terisak menangis. Harus ada jalan untuk penyelesaian. Saya pun bakal menemui Kapolres Malang soal kasus ini,’’ terang Lalu Mara, yang menjabat sebagai Komisaris di PT Pelita Jaya Cronus, PT yang menaungi Arema itu.
Lalu Mara sendiri mengaku telah berkoordinasi dengan Komisi X DPR-RI. Tujuannya, untuk melapor kepada Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Djoko Santoso. Lalu Mara meminta Dirjen Dikti memanggil pimpinan ITN demi kejelasan insiden yang membuat nyawa Fikri melayang.
‘’Kita akan laporkan ITN ke Dirjen Dikti. Supaya, pimpinan ITN dipanggil demi memberi penjelasan lengkap terkait kematian putra daerah Mataram, Fikri,’’ tandas Lalu Mara. (oci/fin/avi)