Keluarga Tuntut Penjelasan

KEPANJEN – Upaya Polres Malang mengungkap kematian Fikri Dolasmantya Surya, mendapat dukungan keluarga korban. Kemarin, Muhammad Nurhadi, paman korban mendatangi Polres Malang, menanyakan perkembangan penyelidikan.
Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ni Nyoman Elfiandani menyebut, kedatangan Nurhadi sekitar pukul 10.30. Nurhadi juga mengakui, dirinya yang membuat surat pernyataan penolakan otopsi saat jenazah Fikri dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. Penolakan surat otopsi itu, karena ada keterangan dari pihak ITN bahwa kematian Fikri karena dehidrasi.
‘’Tetapi dalam surat pernyataan itu, pamannya menyatakan sempat menuliskan kalimat di bawah surat pernyataan. Isinya, dia bersedia menandatangani surat pernyataan penolakan otopsi kalau meninggalnya Fikri dalam kegiatan ospek tidak ada kekerasan. Tapi karena dehidrasi dan kecapekan sesuai yang dikatakan pihak ITN,’’ jelas Nyoman.
Setelah kedatangan paman Fikri, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman, secepatnya akan menghubungi keluarga Fikri, yang ada di Jalan Sakura IV / 17 BTN Sweta Mataram – NTB. Polisi akan meminta izin pada keluarga membongkar makam Fikri, untuk dilakukan otopsi. ‘’Tapi disetujui atau tidaknya, itu nanti keputusan dari keluarga. Yang jelas kami akan berupaya,’’ tutur Aldy.
Polisi juga akan mencari beberapa teman Fikri, untuk meminta keterangan terkait kebenaran berita ini. Termasuk mencari bukti foto-foto dugaan kekerasan yang dilakukan Fendem (mahasiswa senior) yang sudah beredar.
Terpisah Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta, mengatakan, polisi sudah mengumpulkan bukti-bukti awal tentang kasus tersebut. Yakni hasil visum luar korban, saat kejadian 12 Oktober lalu. Kemudian bukti kedua, keterangan empat saksi dari mahasiswa yang mengikuti kegiatan ospek saat itu. Bukti ketiga adalah surat pernyataan dari pihak keluarga yang menolak otopsi dan menganggap kejadian itu sebagai musibah.
‘’Empat saksi mahasiswa yang dimintai keterangan saat kejadian itu, mengatakan bahwa saat itu korban terjatuh, lalu mereka mendengar suara seperti orang minta tolong. Setelah ditolong dan dibawa ke Puskesmas, nyawa korban sudah tidak tertolong,’’ ujar Adi.
Namun dengan munculnya kembali kasus kematian Fikri yang menjadi dugaan korban kekerasan, lanjut mantan penyidik KPK ini, Polres Malang telah membuka kasusnya lagi. Dan sebagai langkah awal untuk membuka kasus tersebut, Polres Malang telah membangun komunikasi dengan pihak keluarga korban.
Sementara itu, Muhammad Nurhadi, paman Fikri ketika dikonfirmasi terpisah terkait temuan dugaan kematian Fikri karena kekerasan, menyatakan ada tiga tuntutan.
Pertama, meminta pihak-pihak yang terkait dengan kekerasan dalam Ospek diproses hukum. Karena selain melakukan kekerasan, mereka juga telah perbuatan pelecehan seksual. Kedua meminta polisi untuk transparan dan terbuka dalam mengawal kasus kematian Fikri.
‘’Sedangkan ketiga sesuai Permendikbud tahun 2011, pihak ITN sudah jelas bersalah. Karena sesuai Permendikbud sudah tidak diperbolehkan ada kegiatan seperti Ospek di luar kampus. Sehigga pihak ITN harus memberikan klarifikasi kebenaran kasus ini ini,’’ ujar Nurhadi.
Menurutnya, secara agama pihak keluarga memang sudah mengikhlaskan kepergian Fikri. Namun jika memang penyebab kematian Fikri karena kekerasan, keluarga meminta supaya kasusnya diungkap dan pelakunya diproses sesuai hukum.
Lantas, apakah sudah mengklarifikasi tentang masalah ini ke pihak ITN? Nurhadi mengatakan, dirinya sudah mengklarifikasi dengan mengirimkan pesan singkat SMS ke salah satu pihak ITN. Namun sampai kemarin, belum ada klarifikasi dari pihak ITN kepada keluarga. (agp/avi)