Polisi Periksa Panitia Ospek ITN

MALANG – Keseriusan polisi menyelidiki kasus kematian Fikri Dolasmantya Surya, mulai dibuktikan. Kemarin, tujuh Fendem (mahasiswa senior) yang menjadi panitia, dalam kegiatan ospek di Goa Cina, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, diundang untuk dimintai keterangan. Pemeriksaan dilakukan di ruang Reskrim Polsek Sumbermanjing Wetan.
Selain melakukan pemeriksaan, sore kemarin polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Pantai Goa Cina, dengan menyertakan beberapa saksi dari panitia.
Olah TKP yang dipimpin Kapolsek Sumbermanjing Wetan AKP Farid Fathoni dan Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ni Nyoman Sri Elfiandai, dilakukan untuk mengetahui kronologis sebenarnya di lapangan, untuk dicocokkan dengan keterangan para saksi.
‘’Dari hasil olah TKP, kami mendapatkan delapan titik poin yang menjadi bahan penyelidikan,’’ ungkap Ni Nyoman Sri didampingi Farid Fathoni.
Poin pertama,  diawali dari korban Fikri, bersama rombongan berjalan dari titik kumpul. Fikri dan rombongan mahasiswa lainnya, masuk dalam gelombang dua, yang diberangkatkan setelah gelombang pertama.
Kemudian titik selanjutnya, Fikri mulai kelelahan, lalu dibonceng motor oleh panitia. Lalu di titik enam, Fikri turun dari motor karena motor yang ditumpangi tidak bisa melanjutkan perjalanan. Titik akhir atau kedelapan di atas bukit pisang, dimana Fikri terjatuh lalu dibawa ke Puskesmas hingga akhirnya meninggal dunia
Mantan Kapolsek Pakisaji ini mengatakan, pemeriksan terhadap ketujuh saksi yang dilanjutkan dengan olah TKP, adalah bukti keseriusan Polres Malang menangani kasus meninggalnya Fikri.
Selain tujuh orang saksi yang dimintai keterangan, dalam waktu dekat polisi akan memanggil beberapa saksi lainnya. Termasuk rekan-rekan seangkatan dengan korban Fikri.
‘’Untuk saksi, dipastikan akan banyak. Kegiatan kemah bakti saat itu diikuti banyak mahasiswa. Saat ini memang baru saksi dari pihak panitia. Namun selanjutnya kami akan memanggil saksi teman korban,’’ tambah Farid Fathoni, sembari mengatakan, pertanyaan yang dilayangkan pada saksi, hanya seputar kronologis kegiatan serta meninggalnya korban Fikri.
Tujuh mahasiswa senior yang kemarin dipanggil adalah Mutiara Ika, mahasiswa semester tiga. Enam mahasiswa lainnya semester tujuh. Yakni Ketua Panitia Putra Arif Budi Santosa, Natalia Damayanti (seksi acara), Citra serta Ica (seksi kesehatan) dan dua lagi Leo serta Romi. Dari tujuh mahasiswa ini, Romi salah satu mahasiswa yang ada dalam foto yang memperlihatkan kekerasan.
Mereka datang ke Mapolsek Sumbermanjing Wetan, dengan didampingi dua dosen. Arief Setiyawan, Sekretaris Jurusan Planologi serta Ida Suwarni. Pemeriksaan dilakukan mulai pukul 09.30 dan sampai tadi malam masih menjalani pemeriksaan.
‘’Kami datang karena diundang oleh pihak polisi untuk dimintai keterangan. Undangan pemeriksaan, kemarin malam (Rabu malam, Red.) via telepon. Anak-anak langsung kami hubungi yang kemudian kami ajak ke sini (Polsek Sumbermanjing Wetan, Red.),’’ terang Arief Setiyawan.
Arief mengatakan, kemah bakti desa (KBD) atau pengenalan jurusan bagi mahasiswa baru (PJMB), untuk mahasiswa baru di jurusan Planologi sudah lama ada. Sejak 1993. Lokasinya berganti-ganti tempat. Seperti di Pantai Tamban, Balekambang dan Goa Cina.
‘’PJMB adalah kegiatan sosial ke tempat minus, atau warga yang kehidupannya di bawah minimal. Dimana 30-45 persen rumah warga terbuat dari bilik bambu dengan alas lantai dari tanah. Sasaran tempat minus, memang daerah pelosok di Kabupaten Malang,’’ ujarnya.
Dengan kegiatan yang sudah berjalan lama tersebut, diyakininya kekerasan fisik terhadap mahasiswa baru, seperti yang diberitakan selama ini, tidak benar.
‘’Saya berani memastikan tidak ada kekerasan fisik. Hasil visum luar korban pun saat itu, juga tidak ada kekerasan. Kalau kekerasan verbal seperti diteriaki atau dibentak, itu memang ada,’’ katanya.
Selama melaksanakan kegiatan PJMB, lanjut dia, mulai Rabu 9 Oktober mahasiswa menginap di rumah warga selama dua hari. Kemudian Jumat (11/10) baru mahasiswa membuat tenda dengan menginap di pesisir Pantai Goa Cina. Selama kegiatan, diakuinya ada dosen pendamping. Namun pendampingan tidak sampai malam, hanya mulai pukul 08.00 – 17.00.
‘’Selebihnya ketika malam, meski tidak ada pendamping mereka diawasi oleh warga. Sehingga tidak mungkin terjadi kekerasan. Begitu juga dengan tuduhan ada pelecehan seksual juga tidak ada, sebab ketika memang ada pelecehan seksual pasti mereka akan ditegur oleh warga yang mengawasi,’’ lanjutnya.
Lantas, apa bisa dipastikan kalau panitia (Fendem) tidak melakukan kekerasan pada malam hari, ketika pendamping tidak ada? Arief menyatakan, kalau soal itu, dirinya tidak bisa memastikan. Namun dia mengatakan, kekerasan pada malam hari bisa saja terjadi saat tidak ada pendamping.
‘’Tetapi dari laporan pantia setiap kegiatan kepada saya, sama sekali tidak ada tindak kekerasan,’’ jawabnya.
Lalu foto-foto yang sudah beredar tersebut? Arief, mengaku kalau foto mahasiswa berbaris memang benar, itu mereka baris dan jongkok melewati pos. Posisi Fikri sendiri saat itu memang tidak bisa jongkok.
Kemudian foto yang menggambarkan ada beberapa siswa melakukan penganiayaan seperti menendang dan menginjak kepala, dia tidak tahu kejelasan foto tersebut, karena dalam laporannya tidak ada.
Sedangkan foto seorang wanita yang ditindih lelaki, dikatakan bahwa foto itu bukan kegiatan PJMB mahasiswa Planologi. Foto itu dikatakannya adalah film yang kemudian di cut. Foto sendiri diambil pada bulan Januari 2012. ‘’Foto pelecehan pada wanita itu adalah simulasi bagaimana menangani perkosaan, tetapi tidak terjadi di Indonesia,’’ jelasnya.
Arief menambahkan, foto-foto yang disebarkan tidak ada hubungannya dengan kematian Fikri. Dia mengatakan bahwa yang menyebarkan foto itu adalah mereka yang berkaitkan dengan mental, karena sakit hati dibentak.
‘’Tetapi sebetulnya pada Sabtu (12/10) malam, dimana saat kejadian itu, akan ada temu akrab untuk menjelaskan kegiatan PJMB. Namun belum sampai ada temu akrab, sudah ada kejadian meninggalnya Fikri,’’ tambahnya.
ITN sendiri, selang empat hari pasca kejadian, sudah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki penyebab kematian Fikri. Tim diketuai oleh Hutimo Mustajab (Dosen Planologi Bidang Kemahasiswaan), Arief Setiyawan sendiri, Ibnu Sasongko (Ketua Jurusan Planologi) serta dua dosen tidak tetap yaitu Mira Setyawati dan Ida Suwarni.
Hasil dari tim investigasi tersebut, pihak panitia memang ada kelalaian atau keteledoran hingga mengakibatkan salah satu mahasiswa atas nama Fikri, meninggal.
Para panitia pun dikatakannya juga sudah diberi sanksi, berupa skorsing dua semester, skorsing satu semester, pengurangan mata kuliah serta peringatan keras untuk semua panitia.
Terpisah, Rektor ITN, Soeparno Djiwo, terus bergerak untuk memberikan sanksi pada pihak-pihak yang dianggap bersalah. Rektor, bahkan membekukan sementara kegiatan kemahasiswaan yang ada di jurusan tersebut. Hal ini dilakukan setelah dipastikan adanya kelalaian dari panitia PJMB Planologi sehingga menyebabkan meninggalnya peserta, Fikri D Surya.
‘’Untuk sementara ini kegiatan kemahasiswaan di jurusan tersebut kami bekukan. Jurusan yang lain boleh tetap beraktivitas seperti biasa,’’ ujar Rektor.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga akan menggali informasi peristiwa awal menyebarnya foto-foto kegiatan yang merupakan dokumentasi panitia itu. Sebab diakuinya ada beberapa foto yang justru tak ia dapatkan saat panitia membuat laporan kegiatan.
‘’Foto yang ada di internet itu saya tidak punya, sehingga selama ini saya melihat kegiatan itu memang sudah sesuai petunjuk teknik pelaksanaan,’’ ungkapnya. (oci/agp/avi)