Saksi Mata, Fikri Ditendang dan Dipukul

Panitia : Tidak Ada Kekerasan
MALANG – Pernyataan ITN maupun panitia Kemah Bakti Desa (KBD) atau Pengenalan Jurusan bagi Mahasiswa Baru (PJMB), yang menyebut tidak ada tindakan kekerasan dalam aktivitas tersebut, tampaknya mulai dimentahkan.
Saksi mata dari petugas keamanan di Pantai Goa Cina, Mariyono. Mengaku melihat ada tindak kekerasan yang dilakukan pihak panitia. Kepada Malang Post ketika dikonformasi tersendiri, membenarkan adanya tindak kekerasan.
‘’Kalau panitia dan pihak ITN mengatakan tidak ada kekerasan, itu semua bohong. Saya saksi mata yang melihat langsung kejadian itu. Jika dimintai keterangan, saya siap dijadikan saksi,’’ kata Maryono, kepada Malang Post, kemarin.
Diceritakannya, kekerasan yang dilakukan Fendem (mahasiswa senior) terhadap mahasiswa baru, tidak hanya sekali saja terjadi. Tetapi sejak mulai kegiatan di lokasi Pantai Goa Cina. Bahkan Maryono sempat menegur panitia, supaya tidak melakukan kekerasan.
‘’Seingat saya saat itu, Kamis (10/10) jam 08.00 pagi. Korban yang bertubuh besar yang akhirnya meninggal itu (Fikri, Red.), dipukul dan ditendang di bagian rusuk. Ketika saya tanya kenapa kok dipukul, kata panitia telah membuang nasi,’’ ujar Maryono.
Maryono juga mengatakan, kekerasan yang dilakukan Fendem, tidak terjadi pada satu tempat. Sebab setelah ditegur, kekerasan dialihkan di tempat lain.
‘’Pada awal kegiatan itu, sebenarnya sempat saya tolak. Sebab izin kegiatan bertemu dengan warga Desa Sitiarjo dan penempatan kegiatan di desa, tetapi kok malah ditempatkan di hutan. Saya sempat menolak kegiatan itu, karena tidak ada izin kegiatan di pantai. Sebab ketika terjadi apa-apa ketika di pantai, pasti akan menyalahkan keamanan pantai,’’ jelasnya.
Sementara itu, Natalia Damayanti, salah satu panitia sekaligus seksi acara, dalam keterangannya memang mengakui, foto-foto yang ramai tersebut, adalah foto kegiatan PJMB. Tetapi sekadar guyonan. Dia juga menyangkal ada tindak kekerasan.
Bahkan salah satu mahasiswa yang ada dalam foto tersebut, ikut menjadi saksi dan kemarin dimintai keterangan oleh penyidik Reskrim Polsek Sumbermanjing Wetan.
Namun dikatakannya, foto yang beredar tersebut, bukan adegan sungguhan. Foto itu hanya guyonan dan tidak dilakukan sungguhan. ‘’Foto orang menendang dan menginjak itu, memang benar foto kegiatan kami. Tetapi itu tidak sungguhan dan tidak sampai menyentuh tubuh. Tidak mungkin kami pukul orang lalu kami dokumentasikan. Tidak mungkin pembunuh mendokumentasikan kejahatan sendiri,’’ tuturnya.
Natalia menyatakan, dirinya berani menegaskan kalau tidak ada kekerasan dalam kegiatan PJMB tersebut. ‘’Soal katanya mata Fikri yang dikatakan keluar darah, itu sama sekali tidak benar. Darah pada matanya itu, adalah darah yang keluar dari mulut karena dehidrasi, lalu saat dibawa ke Puskesmas Sitiarjo, kena goncangan hingga darahnya mengalir ke mata. Jadi saya tekankan lagi dan harus diklarifikasi sama sekali tidak ada kekerasan,’’ paparnya.
Dikatakannya, pada kegiatan PJMB, tindakan kekerasan fisik seperti pemukulan sama sekali tidak ada. ‘’Kalau hukuman seperti push up, gulung-gulung atau lainnya itu memang ada. Itu adalah hukuman bagi mereka yang tidak hafal lagu mars atau tidak kompak. Karena tujuan kami pada kegiatan itu, supaya mereka kompak,’’ katanya.
Lalu bagaimana dengan foto Fikri yang jongkok? Dikatakannya bahwa itu bukan foto jongkok, melainkan adalah foto sujud syukur terhadap tanah kelahiran. Hanya saja, korban Fikri saat itu memang tidak bisa jongkok karena keberatan.
Natalia juga menjelaskan, kronologis kematian Fikri, terjadi saat akan kegiatan penggemburan tanah di Pantai Leter. Kegiatan diawali dengan jalan kaki dari Pantai Goa Cina melintasi bukti.
‘’Saat perjalanan Fikri yang ada dalam gelombang dua, memang sudah kelihatan letih dan tidak kuat. Saya sempat menawarkan agar dibonceng motor, tetapi tidak mau. Namun setelah saya paksa untuk naik motor baru mau. Tetapi ketika melintasi bukit, Fikri turun dan saat dalam perjalanan dia tiba-tiba jatuh pingsan hingga akhirnya meninggal,’’ jelasnya.
Soal minuman air mineral yang dibatasi dua botol untuk 114 orang, juga tidak dibenarkan. Menurutnya setiap kelompok yang terdiri 10 orang, diberi jatah minuman air mineral 2 botol ukuran 1,5 liter. Fikri sendiri, dikatakannya, membawa satu botol minuman sendiri karena diistimewakan dengan kondisi badannya yang besar.
Ketua Panitia Putra Arif Budi Santosa, dikonfirmasi terpisah juga membenarkan keaslian foto yang beredar itu adalah foto kegiatan PJMB. Namun dia menolak jika dalam kegiatan itu ada tindak kekerasan. ‘’Tidak ada kekerasan mas, foto itu hanya gaya dan tidak kejadian sesungguhnya,’’ katanya. (agp/avi)