Polisi Bakal Bongkar Makam Fikri

KEPANJEN – Usai memeriksa tujuh saksi mahasiswa senior (Fendem), serta Sekretaris Jurusan Planologi ITN, Arief Setiyawan, hari ini Polres Malang berencana akan melayangkan surat ke keluarga Fikri Dolasmantya Surya, di Mataram – NTB.
Surat tersebut, soal pemberitahuan perkembangan penyelidikan, sekaligus permohonan izin untuk otopsi dengan bongkar makam Fikri.
‘’Surat yang akan dikirim kepada keluarga korban, hari ini (kemarin, Red.) sedang kami buat. Secepatnya, kalau tidak besok (hari ini, Red.) surat permohonan otopsi akan kami layangkan,’’ ujar Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman.
Jika pihak keluarga mengizinkan untuk bongkar makam, Polres Malang secepatnya akan mengirimkan tim khusus untuk terbang ke Mataram – NTB, termasuk tim Identifikasi.
Karena hasil otopsi jenazah Fikri tersebut, nantinya akan menjadi alat bukti untuk mengungkap kasus dugaan kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa senior ITN Malang.
Mantan tenaga pendidik (Gadik) SPN Brimob Polda Jatim ini menambahkan, kasus kematian Fikri yang sudah menjadi sorotan publik ini, akan menjadi atensi khusus Polres Malang untuk segera diungkap.
Tim untuk mengungkap kasus ini sendiri, tidak lagi hanya di Unit Idik IV saja, tetapi tim yang berjumlah 10 orang terdiri dari penyidik di masing-masing unit. Mulai penyidik di Unit Idik I, II, III dan IV.
‘’Tugas tim ini adalah untuk mencari titik terang. Apakah dalam permasalahan ini, memang ada perbuatan melawan hukum atau tidak. Untuk target, secepatnya akan kami ungkap,’’ ungkapnya.
Selain melayangkan surat kepihak keluarga korban, Polres Malang juga berencana memanggil saksi-saksi lain yang mengetahui kejadian ini. Saksi-saksi itu, selain dari teman-teman Fikri, juga saksi mata warga di sekitar Pantai Goa Cina.
Salah satunya adalah Maryono, petugas keamanan Pantai Goa Cina, yang sebelumnya mengatakan mengetahui persis tindak kekerasan terhadap Fikri.
Apalagi Maryono sendiri, juga menyatakan siap memberikan keterangan kejadian sebenarnya tanpa ditutup-tutupi. ‘’Untuk saksi-saksi tambahan ini, surat pemanggilannya sedang dibuatkan,’’ katanya.
Lantas untuk video amatir yang menggambarkan adanya tindak kekerasan? Aldy menuturkan, untuk saat ini, bukti-bukti yang sudah dimiliki oleh polisi masih belum bisa disampaikan ke publik. Namun pada waktunya, bukti-bukti yang dimiliki akan disampaikan.
Sementara itu, Kepala Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Lespijanto Daud, ketika dikonfirmasi terkait izin kegiatan kemah bakti desa (KBD) mahasiswa ITN, mengatakan, izin pemberitahuan sudah lengkap.
Bahkan, tanggal 7 Oktober sebelum kegiatan, panitia serta pihak-pihak terkait seperti dari Perhutani, Wisata serta keamanan sudah dikumpulkan untuk diberikan himbauan.
Termasuk saat kedatangan mahasiswa ITN Malang di pada 9 Oktober, juga diberikan imbauan. ‘’Imbauan yang saya berikan, supaya kedatangan mahasiswa berguna untuk warga sekitar. Dan untuk izinnya adalah kemah bakti desa, bukan kegiatan ospek,’’ tutur Lespijanto Daud.
Tentang dugaan kekerasan seperti yang saat ini sudah ramai di media, Daud meyakini tidak ada tindak kekerasan. Sebab ketika dia mengikuti kegiatan penanaman Mangro (bakau) tentang program penghijauan pantai, melihat semua mahasiswa senang dan tidak ada apa-apa. Namun di balik kegiatan lainnya, Daud tidak bisa memastikan apakah ada kekerasan atau tidak.
Yang membuat Lespijanto Daud kaget dan menyesal, dirinya sama sekali tidak diberi laporan, jika ada salah satu mahasiswa baru yang ikut kegiatan meninggal dunia. Sebab pihak usai kegiatan KBD, pihak panitia ataupun ITN sama sekali tidak pamitan kepada Kepala Desa.
‘’Setidaknya kalau ada kejadian kan dilaporkan kepada saya juga. Dan selesai kegiatan pamitan kepada kami. Tetapi ini tidak, bahkan saya baru mengetahui kalau kegiatan KBD ada mahasiswa yang sampai meninggal, dua hari lalu dari televisi. Ini jelas sangat memalukan kalau memang terjadi kekerasan, karena bisa jadi seperti kasus STPDN dulu,’’ terangnya.
Apakah nantinya kegiatan seperti KBD ini diizinkan lagi? Daud, mengatakan masih akan memberikan kesempatan, asalkan jangan sampai terulang kejadian yang sudah terjadi.
Karena menurutnya kegiatan KBD yang dilakukan oleh mahasiswa ITN ini sangat baik untuk membantu masyarakat kecil di wilayah Desa Sitiarjo. (agp/avi)