Kembali Luruk Balai Desa, Warga Yakin Rabut Terlibat

Warga yang sempat terpancing dengan keterangan hasil otopsi kematian korban Yaona, kembali luruk balai desa karena tidak terima dengan hasil otopsi.

WAGIR- Kali kedua, warga Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir kembali meluruk bali desa. Kedatangan sekitar ratusan warga tersebut, untuk mendengarkan hasil penyelidikan terkait meninggalnya Yaona Miatisari atau Ona oleh penyidik Polres Malang.
Warga mengundang penyidik, sebagai tindak lanjut aksi penyusutan kematian korban. Beberapa warga yang tetap berharap Andi Rabut Cahyo alias Rabut, eks perangkat desa yang dianggap terlibat dalam kasus pembunuhan itu ditahan. Untuk memperjelas perkara, penyidik dengan wakili Kanit III Reskrim Polres Malang, Iptu Anton Widodo, menerangkan mengenai hasil penyelidikan kepada perwakilan warga yang meminta penyelesaian pengusutan dan keluarga korban yakni Parianti.
“Saat temuan awal dengan kondisi yang sebagian tubuh hilang, memang asumsinya adalah korban mutilasi. Hanya saja, setelah mengetahui hasil otopsi bahwa kematian dijelaskan tidak tahu, maka dugaan atau asumsi itu hilang,” kata Anton yang disambut teriakan tidak puas warga.
Sebagaimana diberitakan, Ona ditemukan meninggal dengan kondisi yang sangat tragis. Diantaranya, lengan dan kepala korban sempat hilang serta memunculkan dugaan jika perempuan itu menjadi korban pembunuhan dengan mutilasi. Warga pun, berasumsi jika pelakunya adalah Andi Rabut Cahyo alias Rabut, yang kemudian tidak cukup bukti untuk dilakukan penangkapan.
Ketidak-puasan warga kian beringas, tatkala hasil otopsi juga menjelaskan mengenai dugaan korban yang hamil. Dari otopsi yang dilakukan, korban tidak dalam kondisi hasil. “La kok bisa, la wong katanya hamil kok malah tidak hamil,” ungkap warga.
Guna membantu penyelidikan petugas, penyidik pun mengarahkan warga untuk mencarikan bukti-bukti baru. Diantaranya, orang yang mengetahui langsung sebelum korban meninggal bersama Rabut atau temuan-temuan lain terkait dugaan korban dibunuh Rabut.
“Mengapa upaya penyelidikan polisi dengan mencari barang bukti, tidak dilakukan pula kepada rumah keluarga Rabut. Karena, segala sesuatu sangat mungkin dilakukan bersama orang lain,” kata seorang warga, Rozi.
Dugaan korban dibunuh pun disampaikan seorang warga, Diono. Disampaikannya, bahwa korban memiliki keterbatasan menempuh perjalanan kaki dengan jarak jauh. Sementara antara korban ditemukan meninggal dengan jalan utama, jaraknya cukup jauh. Bahkan, selain harus melewati pagar diantaranya juga harus melintasi sawah jika itu menggunakan jalan lain.
“Antara korban meninggal dengan jalan, itu sangat jauh. Jadi, mohon dianalisa kembali mengenai dugaan bahwa korban meninggal secara wajar,” terang Diono.
Sebagai solusi pengusutan kembali penyelidikan, petugas pun mengarahkan warga untuk membantuk tim dari perwakilan warga. Tim itulah, yang nanti akan menyampaikan kepada petugas, mengenai temuan-temuan baru untuk mengungkap meninggalnya korban. Masalahnya, sejak aksi damai warga pertama yang menduduki kantor desa, penyidik tidak mendapatkan temuan baru atau masukan dari warga.  
“Agar masalah ini bisa cepat terungkap, mohon perwakilan dari tim bisa menampung temuan baru. Sehingga, penyidik bisa melakukan pengembangan,” ungkap Anton.
Bibi korban, Parianti, seusai pertemuan berharap agar kematian keponakannya bisa diusut dengan tuntas. Karena, keluarga masih belum puas jika dari kematian Ona yang tidak wajar, belum ada kejelasan.
“Kami berharap ini bisa diusut tuntas. Mengenai Ona yang katanya hamil, itu tahunya dari dukun pijat saat Ona sempat jatuh. Katanya hanya sudah empat bulan,” ujarnya. (sit/aim)