30 Polisi ‘Garap’ 114 Mahasiswa ITN

MALANG - Sedikitnya 30 personel Polres Malang memeriksa 110 – dari 114 mahasiswa baru yang diundang -  jurusan Planologi ITN Malang di kampus, Senin (16/12/13).
Keterangan dari mahasiswa baru ini selanjutnya akan dicocokkan dengan keterangan dari panitia yang akan diperiksa hari ini. Rangkaian pemeriksaan kepada civitas kampus ini, merupakan upaya mengungkap kasus kematian maba Planologi ITN, Fikri Dolasmantya Surya, yang meninggal pada kegiatan pengenalan jurusan mahasiswa baru (PJMB) 9-12 Oktober lalu.
‘’Dari pihak panitia, kami sudah mengumpulkan tujuh saksi. Keterangan versi panitia akan kami cocokkan dengan keterangan dari mahasiswa baru dan selanjutnya akan dikroscek lagi dengan 114 panitia besok (hari ini, Red),’’ ungkap Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta SIK ditemui pagi kemarin di Kampus ITN Malang.
Menurutnya, pemeriksaan terhadap mahasiswa ini sengaja dilaksanakan di kampus dengan tujuan untuk memberikan rasa nyaman kepada mahasiswa.
Selain itu, juga untuk mempercepat pemeriksaan karena melibatkan ratusan orang. Sebenarnya ada 114 mahasiswa yang diundang namun 4 orang tidak hadir dan akan diperiksa keesokan harinya.
Pantauan Malang Post kemarin, ada saja mahasiswa yang terlihat berwajah lelah usai diperiksa di Gedung perkuliahan Teknik Kimia ITN. Bahkan ada yang menangis sambil berlari cepat menghindari awak media yang tidak diperkenankan masuk ke ruang penyidikan di lantai 2 gedung tersebut.
Hanya saja beberapa mahasiswa yang mau berkomentar hanya mengungkapkan singkat bahwa proses pemeriksaan berlangsung santai dan tidak dalam tekanan. ‘’Polisinya ramah, kok,’’ ujar mereka singkat tanpa mau menyebutkan namanya.
Proses pemeriksaan kepada maba kemarin dilakukan tertutup dan diawasi langsung oleh Kapolres Malang serta jajarannya. Mahasiswa yang seharusnya ada jadwal kuliah pagi, harus menunda perkuliahan di siang hari.
Mereka masuk berkelompok dan mendapatkan pertanyaan seputar kegiatan orientasi di Goa China. Sementara penyidik yang hadir kemarin nampak mengenakan baju hitam putih. Hingga malam hari pukul 20.00 WIB kemarin proses penyelidikan masih berlangsung.
Setelah menghimpun keterangan dari saksi di kampus yaitu informasi panitia dan mahasiswa baru sebagai pesertanya, selanjutnya pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdibud).
Sebab untuk menyimpulkan apakah tindakan yang dilakukan dalam pengenalan jurusan di Planologi ITN Malang itu kekerasan atau penyimpangan, perlu kesaksian dari Kemdikbud.
‘’Kami tidak bisa memberikan kesimpulan sendiri, sehingga setelah semua keterangan saksi terkumpul maka kami akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan (Kemdikbud, Red),’’ ujar Adi Deriyan.
Kesaksian dari Kemendikbub ini lanjutnya diperlukan untuk menegaskan aturan kegiatan ospek versi Kemendikbud. Misalnya apakah push up atau skuat jump, atau merayap merupakan bagian pendidikan dan dapat diterima atau tidak. ‘’Yang bisa memberi kesimpulan mengenai hal itu bukan polisi tapi dari dinas pendidikan,’’ tegasnya.
Disamping penyidikan di kampus, pihaknya juga telah memberangkatkan dua perwira ke Mataram untuk bertemu keluarga Fikri. Utusan ini diharapkan bisa memberikan penjelasan kepada keluarga untuk keperluan otopsi mayat yang diperlukan sebagai alat bukti penyidikan.
Terpisah Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jatim, Prof. Dr. H Sugijanto ditemui di Universitas Ma Chung kemarin menegaskan, pihaknya sudah melakukan penggalian data kepada rektor, ketua prodi dan dekan yang terlibat dalam kasus tersebut.
Hasil wawancara tersebut juga sudah dilaporkan via email kepada Dirjen Pendidikan Tinggi. ‘’Saat ini kami serahkan sepenuhnya proses pemeriksaan kepada pihak yang berwajib,’’ tegasnya.
Disinggung soal sanksi yang akan dijatuhkan kepada kampus jika terbukti bersalah, Sugijanto menegaskan belum ada sanksi yang akan diberikan. Karena pihaknya masih menunggu hasil akhir pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh aparat kepolisian. (oci/avi)