Diperiksa Tujuh Jam, Gobyos!

Kasus Ospek Maut
KEPANJEN – Setelah mangkir dari panggilan penyidik, Senin (23/12) lalu, Rektor ITN Malang, Soeparno Djiwo MT, kemarin menepati janji untuk dimintai keterangan penyidik Reskrim Polres Malang. Soeparno yang memakai baju batik merah hati, datang ditemani kuasa hukumnya, Endarto Budhi Walujo, SH. Dia diperiksa terkait kasus kematian mahasiswanya, Fikri Dolasmantya Surya.
Selain Soeparno, penyidik Reskrim juga memeriksa dua saksi lain. Yaitu Sekretaris Jurusan (Sekjur) Planologi, Arief Setiyawan, yang sebelumnya juga mangkir. Satu saksi lainnya, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Dr Ir Kustamar MT.
Rektor serta dua saksi itu, datang hampir bersamaan sekitar pukul 11.00. Mereka sama-sama didampingi kuasa hukumnya. Begitu tiba di ruang penyidikan Reskrim, ketiganya langsung menjalani pemeriksaan secara terpisah.
Soeparno, diperiksa oleh Kanit Idik IV Iptu Sutiyo SH Mhum, di ruang Idik IV. Arief Setiyawan, diperiksa Kanit Idik III, Ipda Anton Widodo di ruang Idik III dan Kustamar diperiksa Kanit Idik II, Ipda Hadi Puspito di ruang Idik II. Ketika diperiksa, menurut sumber Malang Post ketiganya terlihat tegang. Bahkan, Rektor ITN sempat berkeringat.
Pemeriksaan terhadap ketiganya, dilakukan secara marathon. Mulai pukul 11.00 hingga 18.30 WIB. Pemeriksaan sempat dihentikan sore hari, untuk memberi waktu istirahat makan dan salat Ashar.
Pertama yang diberi waktu istirahat adalah Kustamar, sekitar pukul 15.00. Kemudian, 20 menit kemudian, giliran Arief Setiyawan. Arief yang keluar dengan didampingi pengacaranya hanya tersenyum. ‘’Kok difoto terus,’’ katanya sembari tertawa. Selain itu, tidak ada lagi kata-kata yang keluar.
‘’Pemeriksaan hari ini (kemarin, Red.) masih belum selesai. Sore ini (kemarin sore, Red.) masih istirahat untuk makan. Kemungkinan pemeriksaan baru selesai sekitar pukul 20.00. Yang disampaikan kepada klien saya (Arief, Red) baru 20 pertanyaan. Inti pertanyaan, seputar aturan-aturan dasar ketentuan saat mengadakan kegiatan,’’ ungkap Johny Hehakaya SH, kuasa hukum Arief Setiyawan.
Baru sekitar pukul 15.40, Soeparno Djiwo keluar dari ruangan penyidikan bersama pengacaranya. Ketika ditanya seputar pemeriksaan, Soeparno sama sekali tidak berucap. Dia menyarankan wartawan yang menunggu pemeriksaan sejak siang, konfirmasi kepada pengacaranya.
Bahkan Soeparno langsung meninggalkan wartawan dengan berjalan santai, setelah diminta pengacaranya masuk mobil terlebih dahulu. ‘’Pemeriksaan tadi (kemarin, Red.) mulai pukul 11.00. Saat ini (sore kemarin, Red.) kami diberi waktu istirahat makan. Pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh penyidik, sekitar 16 pertanyaan,’’ tutur Endarto Budhi Walujo SH.
Inti pertanyaannya? Endarto menjawab, pertanyaan menyangkut proposal kegiatan. ‘’Bagaimana proses PJMB (penerimaan jurusan mahasiswa baru). Supaya mereka (mahasiswa) tahu apa yang dipelajari disana (lokasi, Red.) dan nantinya jadi apa. Apa kegiatan itu ada dasar hukumnya atau tidak. Melanggar undang-undang atau tidak,’’ jelas Endarto.
Lantas apa alasan tidak datang memenuhi panggilan penyidik pada Senin lalu? Endarto mengatakan, saat itu Rektor ada kegiatan dinas, terkait kunjungan dari Kopertis. ‘’Saat itu tidak datang karena selain sibuk. Di sini (Rekrim Polres Malang, Red.) juga sibuk ke Polda Jatim. Tetapi sebenarnya kita ini kooperatif dalam penyidikan polisi,’’ katanya.
Terpisah Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman, mengatakan, pemeriksaan Rektor ITN, Sekjur Planologi dan Dekan diselesaikan kemarin. Namun jika nantinya masih membutuhkan pemeriksaan tambahan dari Rektor, penyidik akan memanggil lagi untuk dimintai keterangan tambahan.
‘’Pemeriksaan mereka terkait kegiatan kemah bakti desa (KBD) yang sampai mengakibatkan seorang mahasiswa meninggal dunia,’’ tegas Aldy.
Mantan Tenaga Pendidik (Gadik) SPN Brimob Polda Jatim ini menambahkan, seharusnya kemarin ada lima orang saksi yang dimintai keterangan.
Selain Soeparno Djiwo, Arief Setiyawan serta Kustamar, ada dua saksi lagi yaitu Wakil Rektor III, I Wayan Mundra serta Ketua Jurusan Planologi ITN, Ibnu Sasangko. Namun keduanya mangkir dari panggilan. ‘’Mereka menyatakan baru besok (hari ini, Red) bersedia untuk dimintai keterangan,’’ tandasnya. (agp/avi)