Empat Tewas, Terendam dalam Air Gula

MALANG POST – Musibah terjadi di Pabrik Gula (PG) Kebonagung Kecamatan Pakisaji, kemarin siang. Empat pekerja CV Dinarta asal Kota Kediri tewas saat bertugas membersihkan gula sisan (sisa, red) hasil produksi. Keempatnya meninggal dunia di dalam palung pendingin (tendon saringan gula setelah dimasak). Mereka meregang nyawa karena kehabisan oksigen setelah menghirup gas saat berada dalam palung.
Setelah dievakuasi satu persatu, keempat jenazah langsung dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. untuk dilakukan visum sebelum dibawa pulang ke Kediri. Peristiwa kecelakaan kerja tersebut, langsung ditangani petugas Polsek Pakisaji dan Reskrim Polres Malang.
“Kami mintakan visum untuk keempat korban. Kami juga mengumpulkan karyawan lain di CV Dinarta, untuk dimintai keterangan. Selama proses penyelidikan, pembersihan gula sisan kami hentikan sementara dengan memberi police line,” ungkap Kapolsek Pakisaji, AKP Amung Sri W.
Peristiwa kecelakaan kerja tersebut terjadi sekitar pukul 10.15 WIB. Keempat korban, Pujianto (30), Mujiono (28), Harianto (33) serta Armi Uspahadi (25), semuanya warga Desa/Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, berniat membersihkan polutan (gula sisan) di dalam palung pendingin dua. Mereka merupakan empat dari 38 pekerja dari CV Dinarta  yang bertugas membersihkan gula sisan di PG Kebonagung, dan sudah datang sejak 24 Desember siang.
Para karyawan tersebut mulai bekerja membersihkan gula sisan sejak 25 Desember. Selama tiga hari melakukan pembersihan, tidak terjadi apa-apa dan berjalan lancar. Musibah baru terjadi kemarin siang, ketika keempat korban berniat membersihkan gula sisan di palung dua.
Sebelum melakukan pembersihan, Harianto diminta teman-temannya untuk turun ke dalam palung sedalam 4 meter dengan lebar 3 meter dan panjang 9 meter. Dia turun untuk mengecek apa ada sisa gula yang mengendap di dasar palung.
“Untuk mengecek memang harus masuk ke dalam palung, karena endapan tertutup cairan gula berwarna coklat kehitaman sehingga tidak terlihat. Jika dicek ada, maka air dalam palung dikeluarkan. Baru setelah airnya asat dilakukan pengambilan gula yang terendap. Pengambilannya tanpa menggunakan alat alias manual. Hanya dibantu blower untuk tambahan oksigen di dalam palung,” ujar Ivan Yuditor, 34 tahun, saksi mata sekaligus koordinator para pekerja.
Namun belum ada lima menit di dalam palung, Harianto terlihat kehabisan oksigen. Dia menghirup banyak gas etanol yang berasal dari dalam endapan air gula dalam palung. Melihat rekannya mau pingsan, ketiga korban lain yaitu Pujianto, Mujiono serta Armi Uspahadi, turun ke dalam palung berniat untuk membantu.
Tetapi ketiganya juga kehabisan oksigen, hingga akhirnya pingsan dan terendam dalam air gula di palung. Beberapa pekerja lain yang mengetahui kejadian itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa melihat keempat temannya terendam dalam cairan gula berwarna coklat kehitaman.
Para pekerja lain langsung melaporkan ke petugas Satpam PG Kebonagung yang kemudian diteruskan ke Polsek Pakisaji. Polisi yang mendapat laporan langsung mendatangi lokasi, termasuk meminta bantuan TIM SAR PMI Kabupaten Malang untuk mengevakuasi.
“Mereka berempat sebetulnya sudah berpengalaman. Karena mereka tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa tahun bekerja di CV Dinarta, untuk pembersihan gula sisan. Bahkan 2010 lalu, juga ikut pembersihan gulan sisan di PG Kebonagung ini. Sedangkan kalau tahun 2011 dan 2012 kami kalah tendre. Mereka pingsan di dalam palung karena kehabisan oksigen dan menghirup gas etanol,” terang Ivan warga Desa Janti, Kecamatan Wates, Kediri.
Proses evakuasi keempat korban berjalan cukup lama. Karena sebelum dievakuasi, air gula dalam palung terlebih dahulu harus dikeluarkan. Setelah air benar-benar surut, dengan menggunakan bantuan tabung oksigen petugas TIM SAR PMI Kabupaten Malang, turun ke dalam palung untuk mengevakuasi satu persatu keempat korban.(agp/han)

Baru Pertama Kali Terjadi
Kepala Bagian Tata Usaha PG Kebonagung, Hariyanto, saat dikonfirmasi terpisah mengatakan keempat korban bukan karyawan PG Kebonagung. Sebab sejak 25 Desember–7 Januari 2014, seluruh karyawan libur dan baru masuk lagi pada 8 Januari 2014.
Empat korban meninggal dunia merupakan pekerja dari CV Dinarta yang  menjadi pemenang tender untuk membersihkan gula sisan di PG Kebonagung. “Setiap menjelang akhir tahun, semua pabrik gula pasti akan melakukan lelang pembersihan gula sisan. Dan tahun ini, CV Dinarta yang memang spesialis pembeli gula sisa memenangkan tender. Namun berapa nilai tender serta berapa CV yang mengajukan, saya tidak tahu karena itu urusan Direksi PG Kebonagung yang berkantor di Surabaya,” terang Harianto.
Dilanjutkannya, CV Dinarta tidak hanya sekali ini saja memenangkan tender pembersihan gula sisan di PG Kebonagung. Pada 2010 CV ini juga pernah memenangkan tender. Pekerja yang bertugas membersihkan gula sisan saat itu juga sama dengan sekarang ini.
“Sesuai tender yang dilelang, gula sisan yang terjual di PG Kebonagung sekitar 210 ton. Dari tiga hari pembersihan, gula sisan yang sudah dikeluarkan atau diangkut sekitar 70 ton,” ujarnya.
Soal standart pengamanan pembersihan gula sisan, Harianto menjelaskan, PG Kebonagung tidak turut campur dalam standart safety pembersihan gula sisan, karena yang mengerjakan pembersihan bukan PG Kebonagung, melainkan CV Dinarta. Begitu juga dengan pengawasan saat bekerja, juga dilakukan oleh CV Dinarta.
“Kalau dari PG Kebonagung, kami hanya minta satpam untuk mengawasi. Tetapi pengawasan yang dilakukan satpam bukan soal pekerjaan pembersihan gula sisan, tetapi keamanan sekitar. Namun sebetulnya, CV Dinarta sudah sangat professional dalam pengerjaan, karena sudah menyediakan alat sendiri seperti blower saat pengambilan gula sisan dalam palung. Tetapi ketika kejadian tadi, apakah blowernya tidak dipakai atau mati, kami tidak tahu,” terang Hariyanto.
Ia menambahkan, selama ini belum pernah ada pekerja yang meninggal saat membersihkan gula sisan dalam palung, dan kemarin adalah kali pertama. “Selama sekitar 33 tahun saya bekerja di PG Kebonagung ini, sama sekali tidak pernah ada kejadian seperti ini,” tambahnya.
“Terkait dengan kejadian ini, ke depan keamanan kerja akan lebih ditingkatkan lagi. Untuk biaya pemulangan jenazah ke rumah duka, sekaligus visum dan biaya lain akan kami tanggung. Sedangkan untuk santunan nanti akan kami bicarakan lagi dengan CV Dinarta,” paparnya.
Kepala Seksi Proses Pengolahan PG Kebonagung, Gatut Prabowo, menambahkan, gas etanol yang menguap dalam palung karena terjadinya proses fermentasi. “Seperti cairan tape, kalau diendapkan dan dibiarkan beberapa lama pasti akan mengeluarkan gas yang menyengat. Dan itulah terjadi di dalam palung,” katanya.(agp/han)