Ngamuk, Anak Aniaya Bapak Kandung

WAGIR – Durhaka, kata itulah yang pantas disandingkan kepada Imam Ghozali, 24 tahun pemuda asal Dusun Bunder, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, tega menganiaya ayah kandungnya, Daim Purnomo. Hanya karena tidak diberi pinjaman sepeda motor, Imam ngamuk dan memukul ayahnya dengan menggunakan tabung LPG ukuran 3 kilogram, saat malam tahun baru di dalam rumahnya.
Akibatnya, Daim yang sudah lanjut usia, harus dilarikan ke Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraoen Malang. Dia mengalami luka robek di mulut serta luka memar di dada dan kepalanya. Sementara Imam, saat itu langsung diamankan petugas Polsek Wagir, yang kemudian diserahkan ke Polres Malang.
“Yang bersangkutan (Imam Ghozali, red) kami bawa ke Rumah Sakit Jiwa Lawang untuk diperiksakan kejiwaannya. Karena saat diamankan, dia juga sempat ngamuk-ngamuk seperti orang depresi,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman.
Peristiwa penganiayaan yang sempat menghebohkan warga terjadi sekitar pukul 17.30. Ceritanya bermula dari Imam yang dalam kondisi mabuk minuman keras, meminjam sepeda motor milik kakaknya, Sri Rejeki, 38 tahun. Imam meminjam dengan alasan untuk beli minuman keras lagi.
Namun karena tidak dipinjami, Imam langsung ngamuk. Sembari ngomel, dia mengambil pisau di dapur. Pisau tersebut digunakan merobek ban sepeda motor milik kakaknya. Melihat Imam marah, Sri menegur supaya tidak merusak motornya. Tetapi malah membuat Imam semakin marah dan mengancam akan membunuh kakaknya.
Mendengar ancaman itu, Sri yang ketakutan langsung lari keluar rumah. Dia mengalami luka gores di kaki kiri setelah terkena lemparan pisau yang dilemparkan Imam. Saat keributan terjadi, Daim Purnomo, ayahnya yang mendengar berusaha melerai dan menenangkan Imam.
Tetapi Daim malah menjadi sasaran amukan anaknya. Dia dipukul dengan menggunakan tabung LPG ukuran 3 kilogram di bagian dada dan wajahnya. Sekali pukul, Daim langsung tersungkur dan tak sadarkan diri. Pujiati, ibu Imam yang mengetahui hanya berteriak minta tolong warga sekitar.
Namun warga yang datang tidak berani menolong, karena takut menjadi sasaran. Imam baru bisa diamankan setelah petugas Polsek Wagir datang. “Imam ini, memang kerap marah kalau permintaannya tidak dituruti. Dia seperti orang depresi, setelah keluar dari penjara beberapa tahun lalu karena kasus pencabulan,” ujar petugas Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) yang menangani perkara ini.(agp/aim)