Kasus Judi Meningkat, Atensi Habisi Togel

MALANG- Praktik judi toto gelap (togel) yang masih marak di masyarakat menjadi atensi khusus jajaran Polres Malang Kota. Di tahun 2013 lalu, 156 kasus perjudian berhasil diungkap. Dari sekian kasus itu, 85 persennya merupakan judi togel sedangkan 15 persen adalah praktik judi lainnya. Hal ini dikatakan Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan SH, kemarin. Tahun 2014 ini, menurutnya, perjudian togel masih menjadi atensi khusus.
“Sejak beberapa tahun lalu, judi memang menjadi atensi Kapolri. Sekarang, kita lakukan revitalisasi untuk tetap membasmi perjudian. Sebab, berawal dari judi ini, akan mempengaruhi situasi Kamtibmas,” paparnya.
Namun, dalam praktik untuk mengungkap siapa bandar besarnya, dikatakan Dwiko tidak semudah membalikkan tangan. “Modelnya mirip jaringan narkoba. Yakni sel terputus. Sehingga tidak gampang untuk mendapatkan siapa bandarnya,” lanjut dia.
Salah satu contoh seperti penangkapan yang dilakukan terhadap Bambang, 47 tahun, warga Jalan Rawas Malang. Dia ditangkap anggota Satreskrim Polres Malang Kota saat menjadi jukir di parkiran Bakso President, Jalan Batanghari Malang, akhir pekan kemarin. “Barang bukti yang didapatkan dari dia uang Rp 75.000 dan HP sebagai alat komunikasi mengirimkan nomor tombokan,” terang mantan Kapolsek Wajak tersebut.
Ketika diperiksa, Bambang mengaku menyetorkan kepada Suhadak, pengepulnya yang berusia 46 tahun, warga Jalan Abimanyu Malang. Suhadak akhirnya berhasil ditangkap di Jalan Mawar Malang, ketika bertandang ke rumah salah satu saudaranya yang sedang hajatan. “Dari pengepulnya ini, disita uang Rp 700.000, HP dan empat lembar kertas rekapan. Tersangka SH (Suhadak) juga pernah ditangkap dalam kasus yang sama tahun 2001 lalu dan dihukum lima bulan penjara,” urai dia.
Suhadak juga diketahui memiliki beberapa pengecer, salah satunya adalah Bambang. Dalam jaringan pengecer dan pengepul itu, Suhadak mengaku mendapatkan komisi sebesar 22 persen. “Tapi dia hanya pegang 7 persen karena yang 15 persen diberikan kepada pengecernya,” tuturnya kepada wartawan. Dari sinilah, lanjut mantan Kasatreskrim Polres Batu itu, jaringannya mulai terputus. Dia mengatakan, polisi masih mengembangkan kasusnya untuk mendapatkan bandar besarnya. “Kebanyakan motif yang diakui para tersangka, mereka niat untuk terlibat karena untuk mendapatkan tambahan penghasilan,” tutup dia. (mar)