ATM Bank Mandiri Dibom

Tim Gegana Brimob Polda Jatim memeriksa bilik dan sekitar ATM Bank Mandiri yang diledakkan untuk mencari barang-barang yang diduga serpihan bom.

MALANG - Ancaman teroris untuk menunjukkan eksistensinya benar-benar terjadi. Dini hari kemarin, bilik ATM Bank Mandiri yang dihimpit halaman RM Pak Sholeh dan pabrik kaleng PT. Arthawena di Jalan Kertanegara, Desa Girimoyo, Karangploso diledakkan menggunakan bom.
Pelaku benar-benar berani memilih lokasi teror. Betapa tidak, anjungan tunai mandiri (ATM) itu, tidak terlalu jauh dari dua ‘pos keamanan’. Yakni hanya beberapa ratus meter dengan Mapolsek Karangploso dan Koramil Karangploso.
Kendati tidak memiliki daya ledak yang tinggi, namun pintu dan dinding kaca bilik ATM berantakan. Serpihan kaca dari ATM bank plat merah tersebut, terpental hingga sejauh 20 meter.
Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta yang memimpin olah TKP pagi kemarin mengatakan, bom yang meletus pukul 02.15 ini, tidak sampai memakan korban jiwa karena kondisi jalan raya di depannya sepi.
“Meski demikian, menurut pengakuan beberapa warga, suara ledakan mencapai radius 500 meter,” terangnya. Dia menjelaskan, pelaku pengeboman terekam dalam CCTV Toserba Mbak Yanti yang berada di seberang lokasi kejadian.
Adi, panggilannya menjelaskan, pelaku berjumlah dua orang mengendarai motor jenis matic dari arah barat. Tiba di pos satpam Rumah Makan Pak Sholeh, salah seorang pelaku turun dan menjinjing kotak bom.
“Dia lalu berjalan dan masuk ke dalam ATM. Sedangkan temannya yang mengendarai motor, berputar arah lalu berhenti menunggu di halaman ruko-ruko depan TKP,” urai mantan penyidik KPK ini kepada wartawan.
Setelah meletakkan kotak bom di keranjang sampah dalam bilik ATM, pelaku keluar dan menuju boncengan menuju arah semula. “Sekitar lima menit kemudian, bom meledak dan menghancurkan bilik ATM tersebut. Untuk sementara, ada empat saksi yang kami periksa,” ujar dia. Wakapolda Jatim, Brigjen Pol Suprodjo Wirjo Sumardjo yang ikut mendatangi TKP membenarkan adanya  kemungkinan keterlibatan jaringan teroris dalam kasus itu. Namun dia menegaskan, polisi masih terus melakukan penyelidikan.
“Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, unsur teror ada. Tetapi masih didalami dulu,” ungkapnya didampingi Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Awi Setiyono.
Dia meminta masyarakat tidak terprovokasi dengan munculnya pengeboman tersebut. Namun, Suprodjo mengakui bila hasil olah TKP, ledakan tersebut adalah ledakan bom yang masuk dalam jenis golongan rendah atau low explosive.  
“Hasil olah TKP memang ditemukan casing ukuran 10 x 15 x 25 cm sebagai tempat bahan peledaknya dan berisi potongan besi ukuran 10 mm dan 12 mm,” papar mantan Wakapolda Kalimantan Selatan ini.

Tidak Incar Uang di ATM
Upaya teroris untuk ‘unjuk gigi’ tersebut, juga dibenarkan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Muhadjir Effendy M.AP. Pengamat militer ini menuturkan apa yang terjadi di Karangploso bisa jadi merupakan ancaman dari jaringan teroris untuk menunjukkan eksistensinya.
Terutama setelah penggerebekan dan penembakan terhadap enam teroris di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan tepat malam tahun baru lalu. “Sangat mungkin ada upaya jaringan teroris, entah itu sama dengan yang di Ciputat atau jaringan lain ingin menunjukkan eksistensinya,” ungkap dia.
Ini dibuktikan dengan pelaku yang tidak mengincar uang di dalam mesin ATM. “Jadi ini motivasinya teror.  Pelaku ingin memberi tanda jika Malang yang merupakan daerah dengan tingkat keamanan tinggi bisa dijangkau dan memberi tanda jika Malang tidak aman,” urainya. Sebab itu, Malang Raya termasuk daerah yang harus diwaspadai.  
Muhadjir menegaskan banyak aspek di Malang yang sangat strategis untuk kepentingan operasional aksi teror. “Beberapa pelaku teror pernah berada di Malang. Seperti Doktor Azahari bin Husin yang ditembak di Batu, November 2005 lalu,” ungkap dia.
Catatan Malang Post, selain Azhari, muncul nama Ibrahim alias Jawad dan Husin Ali Al-Habsyi (kelahiran Ambon, 28 Januari 1953) yang merupakan kakak sulung Abdul Kadir Ali Al-Habsyi.
Ibrahim alias Jawad, merupakan kawan baik Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra sejak lahir.  Husin Ali Al-Habsyi selain tercatat sebagai warga Jalan Prof. M. Yamin Gang V Malang. Dia terjerat kasus peledakan Candi Borobudur tahun 1985.
Di tahun 1970, jaringan teroris Marwan juga bersembunyi di Malang dan melakukan perampokan di IKIP Negeri Malang (UM, Red) untuk pendanaan kegiatannya. Kasus bom juga terjadi di Gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Jalan Arif Margono, Malang, 24 Desember 1984.  Tidak diketahui siapa pelakunya.  
“Melihat pemetaan ancaman terorisme dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Malang sebenarnya bukan termasuk wilayah yang perlu diwaspadai dari aksi terorisme,” urai Muhadjir.
Namun jika dilihat Malang sangat potensial menjadi tempat persembunyian teroris, maka peristiwa bom di ATM Bank Mandiri Karangploso layak diwaspadai sebagai sebuah upaya gerakan teroris menunjukkan eksistensinya.
“Apalagi yang disasar adalah sebuah ATM yang mungkin saja akan menjadi sasaran pendanaan kegiatan kelompok teroris,” pungkasnya. Sedangkan pakar hukum Universitas Wisnuwardhana Malang, Sigid Budi Santoso menuturkan, aksi kejahatan yang menggunakan bom selalu diidentikkan dengan gerakan teroris. Meskipun diledakkan di sebuah ATM, kemungkinan upaya perampokan sangat kecil. “Karena biasanya hanya untuk menguras ATM, pelaku kriminal tidak sampai menggunakan bom,” kata dia. (agp/oci/mar)