Bermula dari Notaris Nunik, Berakhir di Notaris Luluk

MALANG - Sidang perkara jual beli tanah Jalan Akordion Malang, berlanjut di pemeriksaan saksi pelapor, kemarin. Dalam hal ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Arie Kuswadi memanggil tiga saksi dari pihak anak-anak ahli waris tanah milik almarhumah Tirah. Yakni Didik Wibowo, Nanang Sugiarto dan Dwi Sutanto. Ketiganya diminta memberikan kesaksian tentang proses jual beli tanah tersebut yang menyebabkan notaris Luluk Wafiroh, SH, SpN duduk dalam kursi pesakitan.
Bahkan, hakim Lindi Kusumaningtyas SH, MH yang memimpin sidang tersebut, terlihat cukup detil ketika menanyai Didik Wibowo, sebagai saksi pertama. Sebab, dalam dakwaannya, Luluk tetap dianggap sebagai wakil pembeli tanah seluas 6.313 m2 bersama Bambang Sugiono dari pembeli aslinya, Andrian Handoko, warga Jalan Brigjen S Riadi Malang. “Dalam perjanjian, memang bu Luluk sebagai wakil pembeli dari Andrian yang tidak saya kenal,” tutur Didik kepada hakim.
Menurutnya, awal jual beli tidak ada masalah ketika ahli waris bertemu dengan Luluk dan sepakat memberikan harga Rp 1 juta per meternya untuk tanah itu. “Namun, permasalahan muncul ketika kami disuruh tandatangan PPJB kosong. Ternyata, PPJB itu diisi dengan harga Rp 515.000 per meter. Tentu saja kami tidak mau dan menuntut terus,” lanjutnya.
Dikatakan Didik, sejak awal tanah itu hendak dijual, sudah muncul harga Rp 1 juta.
“Pembeli tanah pertama itu Andik Kesuma lewat notaris Nunik Indah Rini, Agustus 2012. Bahkan bu Nunik memberi kami uang Rp 25 juta untuk uang muka. Tapi kemudian dibatalkan bulan Desember 2012. Setelah itu kami diajak menemui bu Luluk dan pak Bambang Sugiono dengan alasan ada pembeli baru,” urai pria berusia 40 tahun ini.
Setelah sepakat, tambahnya, jual beli dimulai, termasuk pemberian uang muka Rp 750 juta. Dwi Endro Tito, SH, kuasa hukum Luluk Wafiroh menuding para ahli waris menjual tanah tersebut hingga dua kali. Bahkan, dia mempertanyakan kenapa ahli waris mau menerima uang muka Rp 750 juta, padahal yang diberikan oleh Andrian, adalah BG senilai Rp 1,5 miliar. (mar)