Warga Kebonagung Tolak Hotel Transito

PAKISAJI – Keberadaan Hotel Transito di Jalan Raya Kebonagung Kecamatan Pakisaji dipermasalahkan warga setempat. Kemarin, puluhan warga ramai-ramai protes karena menganggap izin pendirian atau HO dari warga fiktif. Bukan itu saja, mereka menuntut penutupan hotel tersebut lantaran diduga sebagai tempat esek-esek alias mesum.
Sekitar 50 orang warga dan Banser yang dikoordinir Ahmad Ghofar Ismail, ketua forum komunikasi masyarakat muslim peduli pendidikan kebangsaan dakwah sosial dan anti kemaksiatan melakukan unjuk rasa. Mereka datang dengan membawa palu, sabit serta spanduk bertuliskan ‘Hotel Bermasalah dengan Masyarakat’.
Palu serta sabit yang dibawa digunakan untuk merobohkan bangunan dinding pagar depan serta menebang tanaman yang ada di halaman Hotel Transito. Alasannya dinding sepanjang sekitar 20 meter dan tinggi 1,5 meter itu dirobohkan, karena menghalangi jalan warga. Sebab dinding tersebut berdiri bukan di atas tanah milik Hotel, melainkan di lahan eks lori, milik PG Kebonagung yang diserahkan ke Pemkab Malang untuk dikelolah desa.
“Kami ingin hotel ini ditutup karena tidak ada izinnya,” ujar Ahmad Ghofar Ismail.
Ghofar mengatakan, penolakan warga atas pendirian hotel itu sudah lama terjadi. Bentuk tidak setujunya warga dengan tidak memberikan izin. Bahkan, warga yang menginginkan hotel ditutup, pada 2013 lalu pernah mengirimkan surat ke Bupati Malang dan DPRD Kabupaten Malang.
Saat pengajuan penutupan warga masih diproses, pembangunan hotel tetap dilanjutkan. Dan tiba-tiba warga mendapat bukti bahwa pihak hotel mendapat izin dari warga. Izin yang dimiliki hotel inilah yang kemudian dianggap fiktif. “Sebab empat dari warga yang tandatangan, salah satunya justru warga Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun Kota Malang, bukan warga sekitar,” tutur Ghofar.
Dari temuan itu, warga terus gencar melakukan aksi protes. Bahkan, antara warga dengan pihak pemilik hotel, juga sudah sering melakukan musyawarah di Balai Desa Kebonagung atau di Kantor Kecamatan Pakisaji dihadiri Muspika Kecamatan Pakisaji.
Begitu juga dengan Sabtu (18/1) malam, informasinya pihak hotel, Muspika dan perwakilan warga sempat melakukan musyawarah di rumah salah satu warga. Hasil musyawarah, pihak hotel sepakat untuk membongkar dinding pagar. Selain itu, halaman depan hotel yang merupakan lahan eks lori, didirikan tiga bedak untuk berjualan warga.
Bangunan tempat pembuangan sampah (TPS) yang ada di sebelah utara hotel dipindahkan. Begitu juga dengan bangunan kumuh dekat TPS, dibongkar yang kemudian didirikan pasar kecil.(agp/lim)