Andrian Mengaku Uang Pembayaran Disetorkan ke Luluk

MALANG - Sedikit demi sedikit, kasus jual beli tanah seluas 6.313 m2 di Jalan Akordion Malang terkuak. Kemarin, pembeli tanah tersebut, Andrian Handoko diperiksa majelis hakim sebagai saksi. Dalam persidangan, warga Jalan Brigjen S Riadi Malang ini mengaku, tidak pernah sekalipun bertemu dengan ahli waris tanah milik Almarhumah Tirah. Bos perumahan North Point Residence ini mengatakan, semua uang pembayaran tanah tersebut diberikan kepada notaris Luluk Wafiroh, SH, SpN, melalui makelarnya Bambang Sugiono.
“Awalnya memang saya diberitahu ada tanah dijual dari Bambang. Pertama harganya Rp 650.000 per meter. Saya tawar. Akhirnya menurut Bambang, disepakati harga Rp 515.000,” tuturnya. Setelah itu, beberapa kali Andrian memberikan uang untuk pembelian tanah tersebut. “Yang pertama tanda jadi saya beri Rp 250 juta untuk pembatalan pembelian dengan pembeli pertama bernama Burhan asal Jakarta,” lanjut dia.
Menurutnya, semua cek atau BG diatasnamakan kepada Suradi, sebagai salah satu ahli waris. “Saya percaya semua kepada bu Luluk. Selain dia sebagai notaris, dia juga mengatakan bila ahli waris juga sudah setuju tentang harganya. Tapi, belakangan saya lalu tahu kalau ada masalah dengan tanah itu. Bahkan, tanah itu dirusak oleh ahli waris dengan alasan belum ada penyelesaian dan kesepakatan harga,” paparnya.
Pengusaha properti ini lantas mengkonfirmasi perihal perusakan dan permasalahan tersebut ke Luluk yang saat ini duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang. Menurutnya, Luluk memberitahu bila ahli waris meminta harga Rp 1 juta per meternya. “Saya terang saja tidak mau. Karena kesepakatan awal, harganya sudah Rp 515.000 dan semuanya sudah saya bayar termasuk pajak-pajaknya sekitar Rp 3,2 miliar. Saya lalu melaporkan perusakan itu ke polisi,” urai bos Woodland Property ini.
Dalam sidang tersebut, hakim Lindi Kusumaningtyas SH, MH sempat menanyakan apakah muncul proses perdamaian setelah muncul keributan. “Saya tidak tahu sebab semuanya sudah saya serahkan kepada bu Luluk.  Setiap kali bu Luluk minta uag untuk  penyelesaian pembayaran tanah, saya tinggal bayar kok. Jadi saya juga tidak tahu kenapa bu Luluk juga menunjukkan surat kesepakatan kerjasama tentang harga Rp 1 juta. Apalagi, saya tidak pernah menunjuk siapa pun menjadi kuasa saya dalam membeli tanah itu,” pungkasnya. (mar)